Ketika Guru Direndahkan, Anak Kehilangan Arah

Ilustrasi. Seorang siswa sedang meminta maaf pada gurunya karena kesalahannya

Hubungan antara orang tua dan guru adalah fondasi penting dalam pendidikan anak. Namun, ketika rasa hormat itu runtuh—terutama saat guru direndahkan di hadapan anak—yang terluka bukan hanya perasaan seorang pendidik, melainkan juga masa depan belajar sang anak. Esai ini mengajak kita melihat persoalan tersebut dengan jernih, manusiawi, dan penuh empati.

*****

Oleh Maulana

Di sebuah ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk belajar, seorang guru berdiri dengan dada sesak. Bukan karena lelah mengajar, bukan pula karena anak-anak yang sulit diatur, melainkan karena kata-kata seorang orang tua yang merendahkannya—disampaikan terang-terangan, bahkan di hadapan muridnya sendiri.

Peristiwa semacam ini bukan cerita tunggal. Ia kerap muncul di tengah masyarakat, menghiasi linimasa media sosial, menjadi berita di media massa, bahkan tak jarang berujung di meja hukum. Akar persoalannya sering kali sama: kesalahpahaman, emosi yang tak terkendali, dan hilangnya rasa saling menghargai antara rumah dan sekolah.

Padahal, pendidikan bukan hanya soal nilai rapor atau peringkat kelas. Pendidikan adalah proses panjang pembentukan karakter, dan di dalamnya, guru memegang peran yang tidak kecil. Guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan teladan sikap, penjaga etika, dan pembimbing arah berpikir anak. Ketika seorang guru direndahkan, yang hancur bukan hanya harga diri pribadi, tetapi juga wibawa ilmu yang ia bawa.

Anak-anak belajar dengan cara meniru. Mereka menyerap bukan hanya pelajaran dari papan tulis, tetapi juga sikap dari orang dewasa di sekelilingnya. Ketika seorang anak melihat orang tuanya membentak, meremehkan, atau meragukan gurunya, pesan yang tertanam di benaknya sederhana namun berbahaya: guru tidak pantas dihormati. Dari situlah, perlahan, semangat belajar memudar, kedisiplinan melemah, dan makna ilmu menjadi kabur.

Di sisi lain, orang tua pun sering merasa berada di posisi yang benar. Dorongan untuk melindungi anak, kekhawatiran berlebih, atau informasi yang setengah dipahami dapat berubah menjadi kemarahan. Sayangnya, kemarahan itu kadang diluapkan tanpa dialog, tanpa klarifikasi, dan tanpa empati. Guru pun menjadi sasaran, seolah berdiri sendirian menghadapi tuduhan.

Sekolah dan rumah sejatinya adalah dua sayap yang membuat pendidikan dapat terbang tinggi. Keduanya tidak bisa saling menjatuhkan. Ketika satu pihak merasa paling benar, yang lain akan terluka, dan anak berada di tengah-tengah konflik yang tidak ia pahami sepenuhnya. Dalam kondisi seperti itu, belajar bukan lagi kegiatan yang menyenangkan, melainkan beban yang penuh tekanan.

Bukan berarti guru tidak boleh dikritik. Kritik adalah bagian dari perbaikan. Namun, kritik yang baik lahir dari komunikasi yang santun, dialog yang terbuka, dan tujuan yang sama: kebaikan anak. Merendahkan guru di depan anak bukanlah solusi, melainkan awal dari masalah yang lebih besar.

Menghargai guru bukan berarti menutup mata dari kekurangan, tetapi mengakui peran pentingnya dalam membentuk masa depan. Rasa hormat itulah yang akan menjaga makna ilmu tetap utuh, menumbuhkan semangat belajar, dan memberi anak contoh bahwa perbedaan bisa diselesaikan dengan cara yang beradab.

Hari ini, mungkin yang direndahkan adalah seorang guru. Namun, jika dibiarkan, esok yang kehilangan arah bisa jadi anak-anak kita sendiri. Maka, hargailah guru hari ini—agar pendidikan tetap berjalan dengan martabat, dan masa depan anak tidak tumbuh dalam kebingungan.

 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 587189630894429343

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close