Malam Basah, Darah, dan Sebuah Pembelaan
Cerpen: Andhika
Hujan baru saja berhenti ketika lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu. Aspal basah memantulkan cahaya kuning yang pucat, seperti ingatan yang enggan padam. Pria itu—sebut saja namanya Arif—mengendarai motor tuanya dengan hati-hati. Di jok belakang, istrinya, Mira, memeluk tas kecil, sementara anak mereka, Raka, tertidur dengan kepala bersandar di punggung ibunya. Malam itu mereka pulang lebih lambat dari biasanya, membawa sisa kelelahan seharian dan secuil harapan sederhana: tiba di rumah dengan selamat.
Arif tahu jalan pintas ini gelap. Ia juga tahu risikonya. Namun, jalan utama macet dan jarak ke rumah tinggal beberapa kilometer. “Sebentar lagi,” gumamnya, seolah meyakinkan diri sendiri. Angin malam menyentuh wajahnya, dingin, membawa bau tanah dan rumput basah.
Di tikungan sempit dekat semak-semak, dua bayangan muncul mendadak. Motor Arif mengerem keras. Ban depan berdecit, tubuhnya condong ke depan. Dua pria berjaket gelap menghadang, wajah tertutup masker lusuh. Salah satunya mengacungkan tangan, yang lain bergerak cepat ke arah setang.
“Turun! Motornya!” suara kasar itu memecah sunyi.
Arif refleks memeluk setang. “Jangan! Ada anak!” teriaknya. Jantungnya berdegup tak karuan. Dalam sepersekian detik, tarik-menarik terjadi. Motor oleng. Keseimbangan hilang. Mira menjerit ketika tubuhnya terlempar, Raka terlepas dari pelukannya. Mereka jatuh ke aspal, bunyi benturan terdengar tumpul, menyayat malam.
“Raka!” jerit Mira, suaranya pecah.
Arif melihat semuanya seperti potongan gambar yang kabur. Istrinya terbaring, anaknya menangis, darah mulai mengalir dari pelipis kecil Raka. Dunia menyempit, menyisakan satu dorongan purba: melindungi.
“Ambil saja motornya! Tolong!” Mira menangis, mencoba bangkit, namun kakinya gemetar.
Namun kedua begal itu tak berhenti. Satu memukul Arif dari samping, pukulan keras membuat pandangannya berkunang-kunang. Yang lain tetap menarik motor, wajahnya tanpa ekspresi. Arif terhuyung, hampir jatuh. Rasa sakit menyambar kepala dan bahu.
Ketua begal—terlihat dari geraknya yang dominan—mencabut sajam dari balik jaket. Cahaya lampu jalan memantul di bilahnya, dingin dan kejam. “Lepas!” bentaknya, lalu mengayunkan senjata itu.
Arif mencoba menghindar. Bilah itu mengenai lengannya, rasa panas menyala. Pukulan berikutnya menyayat punggung. Darah merembes, bajunya basah. Mira menjerit histeris, memeluk Raka yang menangis kesakitan. Bau besi dan tanah bercampur, membuat Arif mual.
Di titik itu, ada sesuatu yang putus di dalam dirinya. Bukan keberanian yang tenang, bukan pula strategi. Hanya kepanikan yang meledak. Arif mundur, matanya mencari apa pun—apa saja—yang bisa menjadi perpanjangan tangannya. Di tepi jalan, di antara semak dan batu, tergeletak sepotong kayu panjang, basah oleh hujan, kasar dan berat.
Ia meraihnya.
Ketua begal melangkah maju, sajam terangkat. Arif tak berpikir. Ia memutar tubuhnya, mengayunkan kayu dengan sekuat tenaga. Bunyi benturan terdengar mengerikan, tumpul dan keras. Kayu itu menghantam kepala begal. Tubuh itu terhuyung, mata terbelalak, lalu ambruk ke tanah, diam.
Waktu berhenti.
Begal kedua membeku sejenak, lalu berbalik lari menembus gelap, meninggalkan motor dan temannya. Arif berdiri terpaku, napasnya tersengal. Kayu itu jatuh dari tangannya. Ia menatap tubuh yang tergeletak, darah merembes ke aspal, bercampur air hujan.
“Ayah…” suara Raka kecil dan gemetar memecah kebekuan.
Arif tersadar. Ia berlari ke Mira dan Raka, berlutut, memeluk mereka. “Maaf… maaf…” katanya berulang, entah kepada siapa. Tangannya gemetar saat menyentuh pelipis anaknya, mencoba menghentikan darah. Mira menangis tanpa suara, wajahnya pucat.
Tak lama kemudian, lampu kendaraan lain mendekat. Beberapa pengendara berhenti, terkejut melihat pemandangan itu. Seseorang menelepon ambulans dan polisi. Sirene memecah malam, mendekat dengan cepat, membawa serta rasa lega yang pahit.
Petugas datang. Pertolongan pertama diberikan. Raka dan Mira dibawa ke ambulans. Arif duduk di tepi jalan, dibalut perban seadanya, matanya kosong. Polisi meminta keterangan. Ia menjawab dengan suara serak, kata-kata keluar tersendat. Setiap detail terasa berat, setiap ingatan seperti luka baru.
Jenazah begal ditutup kain. Seorang petugas mencatat, yang lain mengamankan lokasi. Kamera ponsel warga merekam, bisik-bisik terdengar. Ada yang mengangguk simpati, ada pula yang berbisik tajam. Tragedi itu, di satu sisi, adalah pembelaan diri. Di sisi lain, nyawa telah hilang. Memalukan bukan karena korban bersalah, melainkan karena keadaan memaksa manusia memilih di ambang gelap, tempat tak ada kemenangan sejati.
Di kantor polisi, Arif kembali menceritakan semuanya. Penyidik mendengarkan dengan saksama, mencocokkan keterangan saksi, memeriksa barang bukti. Hukum berjalan dengan wajah dingin, menimbang niat, ancaman, dan keadaan darurat. Arif diperlakukan sebagai saksi korban, namun tetap dimintai pertanggungjawaban sesuai prosedur. Ia menandatangani berkas dengan tangan gemetar.
Beberapa hari kemudian, Mira dan Raka pulih. Luka fisik mereka sembuh perlahan, namun luka batin tinggal lebih lama. Setiap malam, Raka terbangun karena mimpi buruk. Mira terdiam lebih sering, memandang jendela tanpa kata. Arif, setiap kali melewati jalan itu, merasakan dadanya sesak.
Kasus itu ditangani sesuai hukum. Polisi menyatakan kejadian sebagai pembelaan diri dalam situasi terancam nyawa, berdasarkan saksi dan bukti. Begal yang melarikan diri diburu. Proses hukum berjalan, tertib, sebagaimana mestinya. Namun, di balik semua itu, tak ada yang benar-benar menang. Ada keluarga begal yang kehilangan, ada keluarga korban yang membawa trauma, dan ada masyarakat yang kembali diingatkan betapa rapuhnya rasa aman.
Di malam-malam sepi, Arif sering teringat kayu di tepi jalan itu. Benda sederhana yang mengubah segalanya. Ia tak bangga, tak pula ingin diingat. Ia hanya ingin lupa—namun lupa tak pernah datang sepenuhnya.
Renungan:
Utamakan keselamatan. Hindari jalan sepi dan gelap jika memungkinkan, terutama saat membawa keluarga.
Pilihan





