Ketika Negara Menjauh dari Rakyat: Mengapa Aktivis Bicara Kritis


Fenomena pemerintah yang dinilai kurang memihak pada rakyat kerap menjadi pemantik munculnya suara-suara kritis dari kalangan aktivis. Hal ini bukan sekadar reaksi emosional, melainkan refleksi atas jarak yang semakin terasa antara kebijakan negara dan realitas hidup masyarakat. 

Ketika kebijakan publik lebih sering berpihak pada kepentingan elite politik, korporasi besar, atau logika pertumbuhan ekonomi semata, sementara kebutuhan dasar rakyat terabaikan, maka kritik menjadi keniscayaan moral.

Aktivis angkat bicara karena melihat adanya ketimpangan struktural yang terus direproduksi. Kebijakan yang lahir sering kali tidak berangkat dari pengalaman riil rakyat kecil: buruh yang upahnya stagnan, petani yang terjepit tengkulak dan impor, nelayan yang ruang hidupnya terdesak proyek, serta masyarakat adat yang lahannya dirampas atas nama pembangunan. 

Dalam kondisi seperti ini, negara tampak hadir sebagai regulator kepentingan modal, bukan pelindung warga negara. Ketika mekanisme demokrasi prosedural berjalan, tetapi keadilan substantif absen, kritik menjadi saluran terakhir untuk mengingatkan.

Nada kritis para aktivis juga lahir dari melemahnya partisipasi publik dalam proses pengambilan kebijakan. Banyak keputusan strategis dibuat secara tertutup, minim dialog, bahkan cenderung mengabaikan aspirasi masyarakat terdampak. 

Ruang partisipasi yang seharusnya menjadi roh demokrasi menyempit, digantikan oleh formalitas konsultasi yang tidak mengikat. Aktivis memandang situasi ini berbahaya, karena demokrasi tanpa partisipasi hanya melahirkan kekuasaan yang jauh dari kontrol rakyat.

Selain itu, menguatnya respons represif terhadap kritik turut memperkeras suara aktivis. Ketika kritik dibalas dengan stigma, kriminalisasi, atau pembungkaman, hal itu justru menegaskan bahwa ada yang tidak sehat dalam relasi negara dan warga. Aktivisme kemudian tidak hanya soal menyuarakan tuntutan ekonomi atau sosial, tetapi juga mempertahankan ruang kebebasan sipil sebagai fondasi demokrasi.

Pada akhirnya, aktivis berbicara kritis karena merasa bertanggung jawab secara etis dan historis. Dalam tradisi gerakan sosial Indonesia, aktivisme selalu hadir sebagai penyeimbang kekuasaan, sebagai pengingat bahwa negara dibentuk untuk melayani rakyat, bukan sebaliknya. 

Suara kritis bukan ancaman, melainkan alarm. Ia hadir untuk mengoreksi arah, mencegah kekuasaan jatuh pada kesewenang-wenangan, dan mengembalikan politik pada tujuan utamanya: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

(Syaf Anton Wr)

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 9135033413542275083

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close