Ketika Diam Laki-Laki Menjadi Amarah: Pelajaran tentang Luka, Lisan, dan Rumah Tangga


Tulisan ini mengajak kita—terutama para istri—untuk memahami sisi sunyi seorang laki-laki dalam rumah tangga. Tentang bagaimana luka yang dipendam terlalu lama bisa berubah menjadi kata-kata tajam, tentang keliru yang sering terjadi dalam memaknai amarah, dan tentang pentingnya menjaga lisan agar cinta tidak hancur oleh emosi sesaat.


 Oleh: Larasati

Sekali suami berbicara saat sedang marah, rasanya kata-katanya seperti langsung menusuk ke jantung. Tidak jarang ucapan itu terdengar kejam, dingin, dan melukai perasaan. Pada saat seperti itu, air mata mudah jatuh, dada terasa sesak, dan pikiran dipenuhi pertanyaan: Mengapa dia tega berkata seperti itu? Apakah dia sudah tidak sayang lagi? Apakah pernikahan ini sedang menuju kehancuran?

Namun, sering kali kita baru menyadari bahwa kata-kata suami terdengar begitu menyakitkan bukan semata-mata karena ia tidak mencintai kita. Justru sebaliknya, ucapan itu keluar karena ia sudah tidak sanggup lagi menahan semua rasa sakit yang lama ia pendam di dalam dirinya. Ada perbedaan mendasar antara cara laki-laki dan perempuan menghadapi luka batin, tekanan, dan emosi.

Perempuan, ketika terluka sedikit saja, umumnya bisa menangis, bercerita, mengeluh, dan mencurahkan perasaan kepada orang lain. Dengan berbagi, beban terasa lebih ringan. Luka seolah memiliki jalan keluar. Sedangkan laki-laki tidak demikian. Sejak kecil, banyak laki-laki diajarkan untuk kuat, untuk tidak menangis, untuk tidak mengeluh. Mereka didorong untuk memendam, menahan, dan meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Di situlah sering kali masalah bermula.

Seorang suami bisa berkali-kali disindir, berulang kali dibanding-bandingkan. Dikatakan kurang ini, kurang itu. Kurang perhatian, kurang penghasilan, kurang romantis, kurang peka, kurang bertanggung jawab. Semua itu diterimanya dalam diam. Ia mungkin tidak membalas, tidak membantah, tidak berdebat. Ia memilih diam, bukan karena tidak merasa sakit, melainkan karena ia berusaha bertahan. Diamnya bukan tanda kebal, melainkan tanda bahwa ia sedang menumpuk luka.

Jangan salah, diamnya seorang laki-laki bukan berarti ia tidak tersakiti. Justru di balik diam itu, ia sedang mengumpulkan serpihan-serpihan luka. Luka yang datang sedikit demi sedikit, hari demi hari. Hingga suatu saat, ia mencapai titik jenuh. Pada titik itulah ia meledak.

Ledakan itu sering kali berupa kata-kata kasar, suara yang meninggi, atau ucapan yang menusuk perasaan. Saat itu pula, kita sebagai istri langsung merasa sangat tersakiti. Kita berpikir bahwa suami kita kejam, jahat, tidak mengerti perasaan perempuan. Kita merasa menjadi korban, merasa paling menderita, paling dizalimi.

Padahal, sering kali kita lupa untuk jujur pada diri sendiri. Kita lupa menghitung berapa banyak luka kecil yang sudah kita lemparkan kepadanya selama ini.

Ibarat sebuah perumpamaan, kita menembak suami sepuluh kali dengan peluru-peluru kecil. Setiap peluru mungkin terlihat sepele: sindiran halus, komentar meremehkan, perbandingan dengan orang lain, nada sinis, atau kata-kata yang dianggap bercanda. Namun sepuluh peluru tetaplah sepuluh luka. Ketika akhirnya ia membalas satu kali dengan peluru besar berupa kata-kata kasar, kita langsung merasa hancur, merasa paling tersakiti.

Di sinilah sering kali perempuan keliru dalam memahami laki-laki.

Tulisan ini bukan untuk membenarkan kata-kata kasar. Tidak. Dalam Islam, kezaliman dilarang, baik itu dilakukan oleh suami maupun oleh istri. Lisan yang menyakiti, sikap yang merendahkan, dan perilaku yang melukai hati pasangan adalah dosa, siapa pun pelakunya. Rumah tangga tidak pernah dibenarkan untuk menjadi ladang saling menyakiti.

Namun, jangan pula kita pura-pura lupa pada peran kita sendiri. Jangan menutup mata terhadap kebiasaan memancing emosi laki-laki. Kita sering kali tahu bahwa suami kita mudah terpancing emosinya. Kita tahu bahwa karakternya seperti api. Lalu mengapa kita justru memilih menjadi bensin? Mengapa kita terus menyulut, memancing, dan menguji kesabarannya, seolah-olah ingin membuktikan seberapa kuat ia menahan amarah?

Perlu kita ingat, laki-laki yang marah itu tidak pernah tiba-tiba. Tidak ada suami yang bangun pagi lalu langsung berubah menjadi pemarah tanpa sebab. Amarah itu adalah hasil dari diam yang terlalu lama. Dari luka yang tidak pernah mendapat ruang untuk diakui. Dari perasaan tidak dihargai yang terus dipendam.

Ketika seorang suami akhirnya mengeluarkan kata-kata kasar, sering kali itu menandakan bahwa ia sudah berada di batas kemampuannya. Dadanya terlalu penuh oleh sakit yang tidak pernah sempat ia ceritakan. Hatinya lelah karena harus terus kuat sendirian. Dan sayangnya, cara yang ia pilih untuk meluapkan semua itu adalah dengan lisan yang melukai.

Islam mengajarkan kita untuk menjaga lisan, terutama saat emosi. Rasulullah saw. berulang kali mengingatkan bahwa keselamatan seseorang sangat bergantung pada kemampuannya menjaga ucapan. Satu kalimat bisa menjadi sebab pahala, tetapi satu kalimat pula bisa menjadi sebab rusaknya hubungan. Dalam rumah tangga, satu ucapan yang keluar tanpa kendali bisa meruntuhkan bangunan yang sudah dibangun selama bertahun-tahun.

Betapa banyak rumah tangga yang awalnya baik-baik saja, hancur bukan karena perselingkuhan atau masalah besar, melainkan karena kata-kata. Kata-kata yang diucapkan saat marah. Kata-kata yang meremehkan. Kata-kata yang mengungkit masa lalu. Kata-kata yang tidak pernah ditarik kembali, meskipun penyesalan datang kemudian.

Karena itu, penting bagi kita untuk belajar saling memahami. Istri perlu belajar membaca diam suami. Ketika suami lebih banyak diam, menarik diri, atau terlihat lelah secara emosional, jangan langsung menuntut atau menyindir. Bisa jadi ia sedang memikul beban yang tidak mampu ia ungkapkan. Sebaliknya, suami pun perlu belajar untuk tidak terus-menerus memendam. Diam yang terlalu lama hanya akan melahirkan ledakan yang lebih besar.

Komunikasi yang sehat bukan berarti berbicara saat emosi memuncak, melainkan berbicara dengan niat saling memahami. Ada waktu untuk diam, ada waktu untuk bicara. Ada cara untuk menegur tanpa melukai, ada cara untuk menyampaikan kekecewaan tanpa merendahkan.

Dalam rumah tangga, kita tidak sedang berlomba siapa yang paling tersakiti. Kita juga tidak sedang mencari siapa yang paling benar. Pernikahan adalah kerja sama, bukan arena saling menyalahkan. Ketika suami marah dan melukai dengan kata-kata, itu perlu disadari sebagai kesalahan yang harus diperbaiki. Namun ketika istri gemar menyindir, membandingkan, dan meremehkan, itu pun luka yang nyata, meski sering dianggap sepele.

Belajarlah untuk berhenti menjadi bensin bagi api. Jika tahu suami mudah tersulut, maka kitalah yang seharusnya lebih bijak dalam bersikap. Bukan dengan takut, tetapi dengan sadar. Bukan dengan memendam pula, tetapi dengan memilih kata yang tepat, waktu yang tepat, dan cara yang lembut.

Rumah tangga yang sehat bukan rumah tangga tanpa konflik, melainkan rumah tangga yang tahu bagaimana mengelola konflik. Menjaga lisan adalah salah satu kuncinya. Sebab, kata-kata yang baik bisa menjadi penyejuk, sementara kata-kata yang buruk bisa menjadi racun.

Pada akhirnya, baik suami maupun istri sama-sama manusia. Sama-sama bisa lelah, sama-sama bisa terluka. Jika kita ingin dipahami, maka belajarlah memahami. Jika kita ingin dihargai, maka belajarlah menghargai. Jangan menunggu hingga diam berubah menjadi amarah, dan cinta berubah menjadi luka yang sulit disembuhkan.

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 5601142415426595486

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close