Ketika Negara Pergi dari Gang Sempit
Kisah ini tidak dimulai dari pembunuhan, melainkan dari pembiaran yang berlangsung terlalu lama. Dari gang-gang sempit Kasturba Nagar, teror tumbuh di bawah bayang-bayang aparat dan prosedur hukum yang tampak berjalan, namun kosong makna. Fiksi realis ini merangkai suara-suara yang lama dibungkam: perempuan, keluarga, dan sebuah komunitas yang dipaksa menciptakan keadilannya sendiri. Bukan untuk membenarkan kekerasan, tetapi untuk mempertanyakan: apa yang tersisa ketika negara tak lagi hadir saat ia paling dibutuhkan?
Cerita Aryavarta
Di Kasturba Nagar, malam tidak pernah benar-benar gelap. Bau got, asap kayu bakar, dan teriakan anak-anak bercampur dengan bisik-bisik ketakutan yang sudah berumur lebih dari sepuluh tahun.
“Jangan buka pintu kalau dengar langkah berat,” bisik Sarla, seorang ibu dua anak, kepada putrinya setiap malam.
“Kalau dia datang?” tanya anak itu pelan.
Sarla tidak pernah menjawab. Ia hanya mematikan lampu lebih cepat.
Nama yang tak pernah diucapkan itu—Akku—cukup berbahaya untuk dipikirkan terlalu lama.
Laki-Laki yang Pulang Selalu Bebas
Di gang sempit belakang rumah-rumah seng, Ramesh Patil melihat Akku Yadav turun dari jip polisi. Borgol sudah dilepas. Polisi menepuk bahunya seperti menepuk punggung teman lama.
“Berapa kali ini?” gumam Ramesh.
Akku tersenyum, menyeka ludah sirih dari bibirnya.
“Negara ini baik padaku,” katanya keras-keras, seolah sedang berpidato. “Kalian hanya terlalu miskin untuk mengerti.”
Malam itu, Ramesh mendengar jeritan dari rumah dua pintu di sebelahnya. Ia menutup telinga istrinya. Ia menutup mata. Ia menutup mulutnya sendiri.
Dan besok paginya, seperti biasa, polisi datang—bukan untuk menangkap, tapi untuk menenangkan.
“Tidak ada cukup bukti,” kata Inspektur Kulkarni sambil menghindari tatapan warga.
“Bukti apa lagi?” teriak seorang perempuan.
Kulkarni tidak menjawab. Ia sudah tahu, bukti apa pun selalu kurang jika amplop sudah cukup tebal.
Perempuan yang Berhenti Diam
Nama Usha Narayane mulai terdengar bukan karena teriakannya, tapi karena ketenangannya.
“Kita lapor bersama,” katanya di ruang tamu sempit rumahnya. Ada dua puluh perempuan di sana. Ada yang gemetar, ada yang marah, ada yang membawa luka lama yang belum sembuh.
“Kalau kita lapor sendiri, kita hilang satu-satu,” kata Meena, janda muda.
“Kalau bersama?”
“Kalau bersama, setidaknya kita tidak hilang sendirian,” jawab Usha.
Ancaman datang cepat.
“Aku akan siram mukamu dengan asam,” pesan yang dititipkan lewat anak kecil.
Usha membacanya pelan, lalu melipat kertas itu.
“Kita lanjut,” katanya.
Pada 4 Agustus 2004, mereka berdiri di kantor polisi. Tanda tangan berbaris seperti luka yang akhirnya mau diperlihatkan. Polisi menerima berkas itu tanpa janji.
Dua hari kemudian, rumah Akku terbakar.
Api menjilat dinding bukan karena benci semata, tapi karena kelelahan. Kelelahan menunggu.
Ketakutan Bernama Jaminan
Di penjara, Akku tertawa.
“Mereka akan lelah,” katanya pada sesama tahanan. “Mereka selalu lelah lebih dulu.”
Rumor jaminan menyebar seperti wabah.
“Kalau dia keluar lagi,” kata Sarla kepada Ramesh, “aku akan pergi.”
“Ke mana?”
“Ke mana saja. Yang penting bukan di sini.”
Tapi uang tidak cukup untuk pergi. Ketakutan lebih cepat dari kereta apa pun.
13 Agustus 2004
Ruang Sidang Nomor Tujuh bau keringat dan debu. Bangku kayu berderit menahan tubuh-tubuh perempuan yang datang tanpa undangan resmi.
Pisau dapur diselipkan di sari. Bubuk cabai di dalam plastik kecil. Batu di tas kain.
“Ini bukan rencana,” bisik Meena.
“Ini hanya berjaga-jaga,” jawab Usha.
Ketika Akku masuk, ia melihat wajah-wajah itu. Ia mengenali beberapa. Ia tersenyum.
“Kita bertemu lagi,” katanya pada seorang perempuan di barisan depan. “Aku belum selesai denganmu.”
Sandal itu melayang lebih dulu.
Suara pukulan memecah ruang sidang. Teriakan bercampur doa. Polisi ragu satu detik terlalu lama.
“Sekarang!” teriak seseorang—tak jelas siapa.
Lima belas menit kemudian, lantai pengadilan berubah menjadi merah.
Tidak ada kemenangan. Tidak ada sorak.
Hanya napas terengah dan tangan gemetar.
Setelahnya
Media menyebutnya amuk massa. Negara menyebutnya tragedi. Kasturba Nagar menyebutnya akhir dari mimpi buruk—meski mimpi buruk baru saja berganti rupa.
Perempuan-perempuan itu ditahan, diinterogasi, difoto.
“Siapa yang menusuk?” tanya penyidik.
“Semua,” jawab mereka.
“Itu tidak mungkin.”
“Justru itu yang mungkin.”
Tahun-tahun berlalu. Pengadilan akhirnya membebaskan mereka. Bukti kabur. Saksi tidak jelas. Sistem kembali rapi di atas kertas.
Yang Tersisa
Usha duduk di beranda rumahnya, memandang gang yang kini lebih sepi.
“Kita salah?” tanya Meena suatu sore.
Usha diam lama.
“Kita gagal dilindungi,” katanya akhirnya. “Dan orang-orang yang gagal dilindungi sering dipaksa memilih hal-hal yang tidak seharusnya mereka pilih.”
Di Kasturba Nagar, anak-anak kini bermain sampai magrib. Tapi setiap pintu masih dikunci rapat. Bukan karena takut pada hantu, melainkan karena ingatan.
Kisah ini bukan tentang kemenangan.
Ini tentang apa yang terjadi ketika hukum datang terlambat terlalu sering, sampai akhirnya tidak dipercaya sama sekali.
Ketika negara absen terlalu lama, keadilan tidak hilang—
ia berubah menjadi sesuatu yang kasar, gelap, dan tak bisa ditarik kembali.
Dan ketika itu terjadi, tidak ada yang benar-benar menang.
Pilihan




