Guru Yang Dikeroyok Tidak Mau Dipanggil Bapak, Maunya Dipanggil 'PRINCE'.


Kasus pengeroyokan terhadap guru bernama Agus Saputra di SMKN 3 Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi, terus menjadi sorotan

Anfrian Saputra 

​Dunia pendidikan kembali terguncang bukan hanya oleh aksi kekerasan, tapi juga oleh krisis identitas dan etika di ruang kelas. Kasus pengeroyokan yang menimpa Agus Saputra, seorang guru Bahasa Inggris, kini memasuki babak baru setelah kedua belah pihak angkat bicara.

​Bagian 1: Versi Murid (Suara dari Lutfi Fadila)

​Bagi para siswa, ketegangan ini bermula dari ruang kelas yang bising. Muhammad Lutfi Fadila menceritakan bahwa saat jam pelajaran hampir usai, suasana kelas memang agak gaduh. Secara spontan, Lutfi berteriak "WOY! DIAM!" untuk menertibkan kawan-kawannya.

​Namun, ia tidak menyadari bahwa di saat yang sama, Pak Agus sedang melintas di depan kelas. Merasa diteriaki, sang guru masuk tanpa permisi dan bertanya siapa yang berteriak. Lutfi menjawab dengan panggilan yang kabarnya menjadi "syarat mutlak" bagi sang guru: "Saya, Prince."

​Menurut penuturan siswa, sang guru marah jika dipanggil "Bapak" dan mengharuskan siswa memanggilnya "Prince" (Pangeran). Ketegangan memuncak saat Lutfi ditampar secara spontan.

Upaya mediasi pun dianggap gagal oleh siswa karena saat diminta meminta maaf, sang guru justru berpidato tentang hal lain. Puncaknya, saat menuju kantor, sang guru diduga memberikan ejekan kiss bye dan senyum provokatif.

Lutfi mengaku saat ia mendekat, ia justru ditinju di bagian hidung, yang memicu kemarahan siswa lain hingga terjadi pengeroyokan massal.

​Bagian 2: Versi Guru (Pertahanan Diri Agus Saputra)

​Di sisi lain, Agus Saputra membawa narasi yang memilukan tentang perundungan sistemik yang ia alami selama bertahun-tahun. Menurut Agus, teriakan siswa tersebut bernada sangat tidak sopan dan melanggar etika. Tamparan yang ia berikan adalah reaksi refleks atas rasa tidak dihargai sebagai pendidik.

​Agus mengungkap fakta mengejutkan, selama dua hingga tiga tahun terakhir, ia mengaku menjadi korban perundungan (bullying) verbal dan mental oleh para siswa laki-laki di sekolah tersebut secara terus-menerus. Ia merasa martabatnya sebagai manusia telah diinjak-injak melampaui batas kewajaran.

​Mengenai mediasi, Agus menolak meminta maaf karena merasa tidak melakukan kesalahan yang dituduhkan. Ia justru menawarkan petisi, jika siswa tidak lagi menginginkannya mengajar, biarlah petisi itu yang bicara.

Terkait pengeroyokan, Agus menegaskan bahwa aksi tersebut terjadi saat ia hendak masuk ke ruang kantor bersama komite sekolah. Ia mengaku dikeroyok oleh siswa dari lintas angkatan (kelas 1, 2, dan 3) hingga mengalami cedera. Baginya, tamparan itu adalah puncak dari gunung es kesabarannya yang runtuh demi memberikan "pembinaan tegas".

​Perbincangan publikpun terbelah menjadi dua. Munculnya detail mengenai panggilan "Prince" menjadi bahan gunjingan netizen. Hal ini menciptakan dua kubu besar di media sosial.

​Kubu Pro-Murid: Menilai sang guru memiliki perilaku yang tidak biasa (eksentrik) karena menolak dipanggil "Bapak" dan justru ingin dipanggil "Prince". Mereka menganggap tindakan guru tersebut provokatif dan tidak mencerminkan wibawa seorang pendidik, sehingga memicu reaksi keras dari siswa.

​Kubu Pro-Guru: Melihat Agus sebagai korban perundungan massal yang malang. Mereka menilai "panggilan Prince" mungkin adalah mekanisme pertahanan diri atau cara sang guru untuk akrab, namun justru dijadikan bahan olokan oleh siswa. Kubu ini mengecam pengeroyokan tersebut dan menganggap tak ada alasan apa pun yang membenarkan kekerasan terhadap guru.

​Kasus ini bukan lagi sekadar soal siapa yang menampar atau memukul duluan,bukan juga siapa yang membully duluan, melainkan tentang bagaimana lingkungan sekolah telah gagal menjadi tempat yang aman bagi guru maupun murid.

Antara panggilan "Prince" yang ganjil dan kepalan tangan siswa yang beringas, terselip pesan bahwa pendidikan kita sedang butuh pertolongan medis secara mental dan etika.

"Guru adalah orang tua di sekolah, namun ia juga manusia yang memiliki batas kesabaran. Dan murid adalah tunas bangsa, namun tanpa adab, mereka hanyalah kerumunan yang berbahaya. Kebenaran mungkin ada di tengah-tengah, namun kekerasan tidak akan pernah menjadi solusi untuk sebuah kesalahpahaman." ​---

Andrian

18 Januari 2026/29 Rajab 1447 H

Sumber: akun FB Andrian Saputra

 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 2922074027686205545

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close