Pembacaan Puisi: Menyuarakan Kata, Menghidupkan Makna

Fendi Kaconk saat menyajikan materi workshop membaca puisi
Pokok-pokok materi yang disampaikan oleh Fendi Kaconk, dalam acara Workshop Membaca Puisi, bagi Guru, Pembina dan Pelatih yang dilaksanakan Rumah Literasi Sumenep, di aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sumene[, Sabtu, 17 Januari 2026
Pembacaan puisi merupakan salah satu bentuk pertemuan paling intim antara teks sastra dan pendengarnya. Ia bukan sekadar kegiatan melafalkan kata-kata yang tersusun rapi dalam larik dan bait, melainkan proses menyuarakan makna, menghadirkan rasa, serta menghidupkan pengalaman batin yang terkandung di dalam puisi. Dalam pembacaan puisi, suara manusia menjadi jembatan antara dunia penyair dan dunia pendengar.
Melalui pembacaan yang tepat, puisi dapat menjelma menjadi pengalaman estetik yang menyentuh, menggugah, bahkan mengubah cara seseorang memandang kehidupan. Karena itu, pembacaan puisi menuntut lebih dari sekadar kemampuan vokal; ia memerlukan pemahaman, kepekaan, dan penghayatan.
Hakikat Pembacaan Puisi
Pembacaan puisi adalah kegiatan menyuarakan puisi secara lisan dengan memperhatikan lafal, intonasi, jeda, tempo, dan ekspresi, serta disertai penghayatan makna. Tujuannya agar pesan, suasana, dan keindahan puisi dapat tersampaikan secara utuh kepada pendengar.
Puisi yang dibaca tanpa pemahaman hanya akan terdengar sebagai rangkaian bunyi. Sebaliknya, puisi yang dibaca dengan penghayatan akan terasa hidup, seolah berbicara langsung kepada pendengar. Di sinilah pembacaan puisi menjadi seni: seni menyatukan kata, suara, dan rasa.
Kelengkapan dalam Pembacaan Puisi
Agar pembacaan puisi mampu menyampaikan makna secara efektif, terdapat sejumlah unsur penting yang perlu diperhatikan.
Pemahaman teks menjadi fondasi utama. Seorang pembaca wajib memahami tema, makna, dan pesan puisi. Tanpa pemahaman ini, pembacaan hanya berhenti pada pelafalan kata, bukan penyampaian isi batin penyair.
Artikulasi yang jelas memastikan setiap kata terdengar terang dan tidak menimbulkan salah tafsir. Kejelasan bunyi menjadi pintu awal agar pendengar dapat mengikuti alur puisi dengan baik.
Intonasi berperan menghidupkan suasana. Naik-turun suara harus selaras dengan emosi dan alur puisi, sehingga pembacaan tidak terdengar datar atau monoton. Intonasi yang tepat membantu menegaskan perubahan rasa dalam puisi.
Tekanan atau aksentuasi diberikan pada kata, frasa, atau larik tertentu yang memiliki bobot makna penting. Penekanan yang tepat akan memperkuat pesan puisi tanpa harus berteriak atau berlebihan.
Jeda bukan sekadar berhenti sejenak, melainkan ruang bagi makna untuk bernapas. Jeda yang tepat, baik karena tanda baca maupun pergantian larik, membantu pendengar mencerna isi puisi secara perlahan.
Tempo membaca perlu dikontrol sesuai suasana puisi. Puisi lirih menuntut tempo yang lebih pelan dan tenang, sementara puisi bersemangat atau heroik memerlukan tempo yang lebih dinamis.
Ekspresi wajah dan gerak tubuh digunakan secara wajar sebagai pendukung makna. Ekspresi yang berlebihan justru dapat mengalihkan perhatian dari puisi itu sendiri.
Semua unsur tersebut berpuncak pada penghayatan. Penghayatan adalah keterlibatan batin pembaca, ketika rasa, emosi, dan kesadaran menyatu dengan kata-kata puisi. Tanpa penghayatan, pembacaan akan terasa hampa.
![]() |
| Peserta workshop membaca puisi |
Prinsip Dasar dalam Melatih Pembacaan Puisi
Dalam melatih pembacaan puisi, prinsip paling penting yang perlu dipegang oleh pelatih adalah kesadaran bahwa melatih puisi bukan membentuk suara, melainkan menumbuhkan keberanian, kepekaan, dan rasa. Suara yang indah dapat dilatih, tetapi rasa hanya tumbuh dalam suasana yang aman dan apresiatif.
Pelatih bukan hakim yang mencari kesalahan, melainkan pendamping yang membantu peserta menemukan suaranya sendiri.
Strategi Melatih Pembacaan Puisi
Langkah awal dalam melatih pembacaan puisi adalah membangun minat dan keberanian. Peserta perlu merasa bahwa puisi bukan sesuatu yang menakutkan. Rasa percaya diri harus ditumbuhkan sebelum teknik diajarkan.
Selanjutnya, pelatih mengajak peserta memahami isi puisi bersama-sama. Diskusi ringan tentang makna, suasana, dan emosi puisi membantu peserta masuk ke dunia puisi secara alami.
Latihan artikulasi dan pernapasan dilakukan untuk menopang kekuatan vokal. Pernapasan yang baik membuat pembacaan stabil dan tidak terputus-putus.
Setelah itu, latihan intonasi dan penekanan membantu peserta memahami bagaimana suara dapat mengikuti makna. Peserta diajak merasakan bagian mana yang perlu ditekan dan bagian mana yang dibaca lebih lembut.
Penghayatan dan ekspresi dilatih dengan menghubungkan puisi dengan pengalaman batin peserta. Puisi tidak harus “diperankan”, cukup dirasakan dengan jujur.
Tempo dan jeda dilatih agar pembacaan tidak tergesa-gesa maupun terlalu lamban. Peserta belajar memberi ruang pada kata-kata.
Gestur dan sikap tubuh diperkenalkan sebagai pendukung, bukan pusat perhatian. Tubuh yang tenang dan sikap yang percaya diri sering kali lebih bermakna daripada gerak yang berlebihan.
Seluruh proses latihan dilakukan secara bertahap dan berulang. Evaluasi diberikan dengan cara membangun, menekankan kelebihan sebelum membicarakan kekurangan. Dengan demikian, suasana latihan tetap apresiatif dan memanusiakan peserta.
Pembacaan puisi adalah seni menyuarakan kata sekaligus menghidupkan makna. Ia menuntut keseimbangan antara teknik dan rasa, antara suara dan batin. Dalam konteks pelatihan, keberhasilan bukan diukur dari seberapa keras atau indah suara peserta, melainkan sejauh mana mereka berani, peka, dan jujur dalam membaca puisi.
Ketika pembacaan puisi dilakukan dengan pemahaman dan penghayatan, puisi tidak lagi sekadar teks sastra, melainkan pengalaman hidup yang dapat dibagikan dari satu jiwa ke jiwa lainnya.
(Rulis)
Pilihan




