Ketua Bukan Raja: Catatan tentang Kepemimpinan yang Kehilangan Makna


Tidak sedikit organisasi runtuh bukan karena kekurangan sumber daya atau gagasan, melainkan karena kesalahan paling mendasar dalam memaknai kepemimpinan. Ketua yang seharusnya menjadi penggerak justru berubah menjadi pusat kekuasaan; yang seharusnya merawat kerja kolektif malah menumbuhkan jarak dan ketakutan. Esai ini ditulis sebagai catatan kritis dan reflektif bagi para pengelola organisasi—agar jabatan ketua kembali dimaknai sebagai amanah, bukan singgasana.

Ketika Jabatan Menjadi Singgasana

Di banyak organisasi—baik komunitas, perkumpulan sosial, hingga lembaga berbasis relawan—kita kerap menemukan satu pola yang berulang: ketua merasa berada di posisi paling tinggi, paling menentukan, dan paling berhak memerintah. Dalam posisi ini, ketua tidak lagi hadir sebagai pemimpin, melainkan menjelma menjadi pusat kuasa. Segala keputusan harus melewati dirinya, setiap inisiatif mesti menunggu restu, dan perbedaan pendapat sering kali dibaca sebagai pembangkangan.

Ironisnya, pola ini sering dibenarkan secara diam-diam. Anggota memilih patuh, pengurus lain menahan kritik, dan organisasi berjalan seperti birokrasi kecil yang meniru gaya pemerintahan paling kaku—tanpa mandat rakyat, tanpa mekanisme kontrol yang sehat.

Padahal, organisasi sosial tidak dibangun untuk mereplikasi kekuasaan negara. Ia lahir dari kesadaran kolektif, kesukarelaan, dan tujuan bersama. Ketika kepemimpinan berubah menjadi perintah satu arah, organisasi pelan-pelan kehilangan nyawanya.

Ketua: Peran yang Sering Disalahpahami

Secara prinsip, tugas ketua organisasi sangat jelas: memimpin, mengoordinasikan, dan mengawasi seluruh kegiatan organisasi agar tujuan bersama tercapai. Ketua memimpin rapat, memastikan komunikasi berjalan, mengambil keputusan strategis bersama struktur yang ada, serta mewakili organisasi ke luar.

Namun, memimpin tidak sama dengan memerintah. Memimpin berarti memberi arah tanpa mematikan suara. Mengoordinasikan berarti menyatukan kerja, bukan menumpuk beban pada satu figur. Mengawasi berarti memastikan proses berjalan sehat, bukan mencari kesalahan untuk menegaskan kuasa.

Ketika seorang ketua lupa pada batas ini, jabatan yang semestinya bersifat fungsional berubah menjadi simbol hierarki. Ketua merasa paling tahu, paling berjasa, dan paling berhak menentukan segalanya. Di titik inilah organisasi mulai sakit.

Budaya “Saya Ketua”: Akar Masalah yang Jarang Diakui

Banyak ketua tidak sadar bahwa sikap otoriter mereka lahir bukan dari niat buruk, melainkan dari budaya yang keliru. Budaya yang menempatkan jabatan sebagai status sosial, bukan tanggung jawab kerja. Budaya yang memuji figur, bukan sistem. Budaya yang menganggap kritik sebagai ancaman.

Dalam budaya ini, ketua sering berkata, “Saya bertanggung jawab penuh,” tetapi lupa bahwa tanggung jawab tidak identik dengan monopoli keputusan. Tanggung jawab justru menuntut keterbukaan, pelibatan, dan kesediaan mendengar.

Sayangnya, semakin lama budaya ini dibiarkan, semakin kuat ia mengakar. Ketua merasa wajar memerintah, sementara pengurus lain terbiasa menunggu instruksi. Organisasi pun kehilangan dinamika berpikir.

Dampak Fatal: Dari Apatisme hingga Pembusukan Internal

Ketika ketua memposisikan diri sebagai satu-satunya pengendali, dampaknya tidak langsung terasa. Pada awalnya, organisasi mungkin tampak berjalan rapi dan teratur. Namun, di balik kerapian itu, tumbuh masalah yang lebih serius.

Anggota mulai merasa tidak dibutuhkan. Pengurus kehilangan inisiatif karena setiap gagasan mentok di meja ketua. Diskusi berubah menjadi formalitas. Rapat hanya menjadi ruang pengesahan keputusan yang sudah ditentukan sebelumnya.

Lambat laun, muncul sikap masa bodoh dan apatis. Orang hadir sekadar menggugurkan kewajiban. Mereka tidak lagi merasa memiliki organisasi, karena ruang kepemilikan telah diambil alih oleh satu figur. Di titik ini, organisasi memang masih berdiri, tetapi secara sosial sudah membusuk dari dalam.

Ketua yang Turun Tangan: Antara Tanggung Jawab dan Ketidakpercayaan

Ada situasi tertentu ketika ketua memang harus turun tangan langsung ke lapangan. Misalnya, ketika terjadi krisis, konflik serius, atau kegagalan koordinasi. Dalam kondisi seperti ini, kehadiran ketua justru penting sebagai penanda kepedulian dan tanggung jawab.

Namun, masalah muncul ketika turun tangan berubah menjadi kebiasaan. Ketua mengambil alih semua pekerjaan, mengabaikan struktur, dan secara tidak langsung menyampaikan pesan: “Saya tidak percaya kalian mampu.”

Alih-alih memperkuat organisasi, sikap ini justru melemahkan. Pengurus tidak belajar, kader tidak tumbuh, dan ketua kelelahan sendiri. Organisasi pun bergantung pada satu orang—sebuah ketergantungan yang sangat rapuh.

Kepemimpinan sebagai Kerja Etis

Memimpin organisasi sejatinya adalah kerja etis. Ia menuntut kesadaran bahwa kekuasaan selalu berisiko disalahgunakan, bahkan dalam ruang paling idealis sekalipun. Karena itu, seorang ketua perlu terus-menerus bercermin: apakah ia sedang memimpin, atau sekadar menikmati posisi?

Kerja etis ini tampak dalam hal-hal sederhana: membuka ruang kritik, membagi peran secara adil, mengakui kesalahan, dan menghargai kerja kolektif. Ketua yang etis tidak takut kehilangan wibawa karena kritik; justru wibawanya tumbuh dari kepercayaan.

Organisasi Bukan Milik Ketua

Kesalahan paling fatal dalam kepemimpinan organisasi adalah menganggap organisasi sebagai milik pribadi. Ketika ketua merasa organisasi adalah “punya saya”, maka setiap kritik terasa sebagai serangan, dan setiap perbedaan dianggap pembangkangan.

Padahal, organisasi adalah milik bersama—bahkan sering kali milik nilai dan tujuan yang lebih besar dari individu mana pun. Ketua hanya salah satu simpul dalam jaringan kerja kolektif. Tanpa simpul lain, jaringan itu tidak berfungsi.

Membangun Kepemimpinan yang Menghidupkan

Organisasi yang sehat membutuhkan ketua yang mampu menghidupkan, bukan menaklukkan. Ketua yang berani memberi ruang, bukan mengunci. Ketua yang memahami bahwa efektivitas kerja lahir dari rasa memiliki, bukan dari ketakutan.

Kepemimpinan semacam ini tidak selalu nyaman. Ia menuntut kesabaran, dialog, dan kesediaan untuk berjalan lebih lambat demi proses yang lebih sehat. Namun, hasilnya jauh lebih tahan lama.

Catatan untuk Para Ketua

Menjadi ketua bukanlah puncak pencapaian, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih berat. Jabatan itu tidak memberi hak untuk memerintah sesuka hati, tetapi kewajiban untuk menjaga kerja bersama tetap hidup.

Jika hari ini organisasi Anda tampak pasif, anggotanya apatis, dan gagasan mandek, mungkin masalahnya bukan pada mereka—melainkan pada cara kepemimpinan dijalankan.

Ketua bukan raja. Ia adalah pelayan tujuan bersama. Ketika hal ini disadari, organisasi tidak hanya berjalan, tetapi benar-benar bertumbuh.

(Syaf Anton Wr) 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 3927426489599094074

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close