Sumenep, Ruang Bertemu Peluang: Ketika UMKM Pendatang dan Lokal Berbagi Pasar

Pasar Minggu pagi di Sumenep, sebagai pusat kuliner (foro: RRI.co.id)

Sumenep, Rulis:
Pagi di Sumenep selalu dimulai dengan aroma. Dari sudut kota hingga gang-gang kecil perkampungan, wangi nasi hangat, gorengan, dan kue tradisional menyambut hari. Warung-warung kecil membuka lapak sejak subuh, sementara penjaja makanan keliling mulai menata dagangan. Di sini, aktivitas ekonomi rakyat tidak menunggu jam kantor. Ia hidup lebih awal, bergerak lebih lama, dan berakhir ketika malam benar-benar sunyi.

Kabupaten Sumenep memiliki satu ciri yang jarang disadari sebagai kekuatan ekonomi: budaya konsumsi yang konsisten. Warganya gemar jajan, menikmati makanan sebagai bagian dari interaksi sosial, bukan sekadar pemenuhan kebutuhan. Dari sarapan sederhana hingga kudapan malam, selalu ada ruang bagi usaha kecil untuk bertahan dan tumbuh. Inilah yang membuat Sumenep perlahan menjadi ruang bertemu peluang, bukan hanya bagi warga lokal, tetapi juga bagi para pendatang.

Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak pelaku UMKM dari luar Madura—mulai dari Jawa Timur hingga Jawa Barat—memilih Sumenep sebagai tempat membangun usaha. Sebagian datang tanpa modal besar, hanya berbekal pengalaman berdagang dan keberanian membaca pasar. Mereka melihat Sumenep sebagai daerah dengan biaya hidup yang relatif terjangkau, persaingan yang belum terlalu padat, serta konsumen yang loyal.

Para pendatang ini umumnya memulai dari sektor kuliner. Pilihannya bukan tanpa alasan. Makanan adalah bahasa universal, mudah diterima lintas budaya, dan cepat beradaptasi dengan selera lokal. Dengan jam operasional panjang dan harga terjangkau, usaha mereka perlahan menemukan pelanggan tetap. Banyak dari mereka akhirnya tidak sekadar berdagang, tetapi menetap, membangun relasi sosial, dan menjadi bagian dari denyut ekonomi setempat.

Di sisi lain, UMKM lokal Sumenep tumbuh dengan ritme yang berbeda. Sebagian besar usaha rakyat berjalan sebagai warisan keterampilan dan kebiasaan turun-temurun. Warung nasi, penjual kue, atau lapak jajanan sering kali dikelola secara sederhana, mengandalkan kepercayaan pelanggan lama. Model ini membuat usaha tetap bertahan, namun tidak selalu berkembang cepat.

Ketika pelaku usaha baru hadir dengan pendekatan yang lebih disiplin—pencatatan sederhana, konsistensi jam buka, dan keberanian mencoba variasi menu—perbedaan mulai terasa. Bukan dalam bentuk persaingan yang keras, melainkan perlahan bergesernya perhatian konsumen. Pasar yang sama, diisi oleh strategi yang berbeda.

Secara perkiraan, dari UMKM aktif di kawasan-kawasan ekonomi Sumenep, sekitar seperlima hingga sepertiga dikelola oleh pelaku usaha dari luar daerah. Angka ini bukan data resmi, melainkan gambaran lapangan yang terlihat dari komposisi pelaku usaha di pusat kota, pasar, dan jalur strategis. Fakta ini menunjukkan bahwa Sumenep bukan hanya pasar lokal, tetapi pasar terbuka yang menarik banyak pihak.

Namun, kehadiran UMKM pendatang tidak serta-merta harus dipahami sebagai ancaman. Justru dari sinilah refleksi penting muncul. Bahwa Sumenep memiliki potensi ekonomi yang besar, tetapi belum sepenuhnya diiringi dengan penguatan sistem bagi UMKM lokal. Pendampingan usaha, akses modal yang mudah, dan literasi manajemen masih menjadi pekerjaan rumah.

Dalam banyak kasus, UMKM lokal bukan kalah karena kualitas produk, melainkan karena ketiadaan dukungan berkelanjutan. Mereka bertahan sendiri di tengah perubahan pasar yang bergerak pelan tapi pasti. Sementara itu, para pendatang datang dengan kesiapan mental menghadapi ketidakpastian, karena bagi mereka, berdagang adalah pilihan sadar, bukan sekadar kebiasaan.

Sumenep hari ini berada pada persimpangan menarik. Ia bukan lagi daerah pinggiran, tetapi ruang ekonomi yang hidup dan terus tumbuh. Tantangannya bukan memilih antara lokal atau pendatang, melainkan memastikan bahwa pertumbuhan berjalan seimbang. Bahwa warga Sumenep tidak hanya menjadi konsumen di daerahnya sendiri, tetapi juga pelaku utama yang menikmati hasilnya.

Pada akhirnya, UMKM adalah cermin daya hidup sebuah daerah. Dan Sumenep, dengan segala kesederhanaannya, telah membuktikan bahwa ekonomi rakyat dapat tumbuh di mana pun ada kepercayaan, konsistensi, dan ruang yang adil untuk berkembang.

(Audi/Rulis) 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 5269180823476103646

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close