Literasi Sudah Melaju Jauh, Sekolah Masih Jalan di Tempat
Selama bertahun-tahun, literasi di sekolah diajarkan dalam pengertian yang sempit: bisa membaca, bisa menulis, lalu dianggap “melek literasi”. Padahal, dunia di luar sekolah telah bergerak sangat cepat. Literasi hari ini bukan lagi sekadar kemampuan mengeja huruf atau menyalin paragraf, melainkan kemampuan berpikir, memilah informasi, beradaptasi, dan mengambil keputusan mandiri di tengah banjir data dan teknologi.
Literasi modern telah melampaui tembok kelas. Ia hidup di ponsel, media sosial, komunitas digital, bahkan dalam cara seseorang mengelola uang, memahami sains sederhana, hingga bersikap sebagai warga negara. Ironisnya, di saat literasi berkembang begitu dinamis, pemahaman literasi dasar di sekolah justru masih berkutat pada konsep, slogan, dan kegiatan simbolik tanpa dampak nyata.
Dari Buku Teks ke Dunia Nyata
Di sekolah, literasi sering diterjemahkan sebagai kewajiban membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai, membuat ringkasan buku, atau menghafal definisi. Aktivitas ini tidak salah, tetapi kerap berhenti pada formalitas. Siswa membaca karena disuruh, menulis karena dinilai, bukan karena kebutuhan atau kesadaran.
Sementara itu, di luar sekolah, literasi berkembang secara organik. Anak muda belajar memahami dunia lewat video pendek, podcast, thread media sosial, dan diskusi daring. Fenomena BookTok dan BookTube misalnya, berhasil menghidupkan kembali minat baca generasi muda tanpa kurikulum, tanpa ujian, bahkan tanpa guru. Buku tidak lagi terasa kaku, tetapi hadir sebagai pengalaman personal, emosional, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Ini menunjukkan satu hal penting: literasi tumbuh subur ketika diberi ruang kebebasan dan konteks, bukan sekadar instruksi.
Enam Literasi Dasar yang Belum Betul-betul Hidup
Konsep 6 Literasi Dasar—baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan—sudah lama digaungkan. Namun di banyak sekolah, konsep ini masih sebatas istilah dalam dokumen atau spanduk program.
Literasi numerasi misalnya, sering berhenti pada kemampuan menghitung, bukan pada kecakapan membaca data, grafik, atau membuat keputusan berbasis angka dalam kehidupan nyata. Literasi finansial diajarkan sebagai teori menabung, bukan praktik mengelola uang saku. Literasi sains dihafalkan rumusnya, tapi tidak dikaitkan dengan fenomena lingkungan sekitar.
Yang paling terasa adalah literasi digital. Sekolah sering kali melarang gawai, padahal dunia digital adalah ruang hidup utama peserta didik. Akibatnya, siswa mahir menggunakan teknologi, tetapi miskin etika digital, lemah dalam verifikasi informasi, dan rentan terjebak hoaks serta manipulasi algoritma.
Literasi Digital: Kebutuhan, Bukan Pilihan
Literasi digital hari ini bukan soal bisa mengoperasikan aplikasi, melainkan mencakup kecakapan berpikir kritis, keamanan data pribadi, budaya bermedia, dan etika berkomunikasi. Anak muda perlu diajarkan bagaimana bersikap di ruang digital, bukan hanya diperingatkan soal bahayanya.
Sayangnya, sekolah sering mengambil posisi defensif: teknologi dianggap gangguan, bukan alat pembelajaran. Padahal, literasi justru tumbuh ketika siswa diajak memproduksi konten, berdiskusi, berdebat secara sehat, dan memecahkan masalah nyata dengan bantuan teknologi.
Komunitas Bergerak, Sekolah Tertinggal
Di banyak daerah, komunitas literasi, taman baca, dan gerakan anak muda justru lebih progresif daripada institusi pendidikan formal. Mereka membaca, menulis, berdiskusi, dan berkarya tanpa tekanan nilai. Literasi hadir sebagai alat untuk memahami diri, lingkungan, dan masa depan.
Sekolah seharusnya belajar dari gerakan ini. Literasi tidak cukup diajarkan, tetapi harus dialami. Tidak cukup diprogramkan, tetapi perlu dihidupkan dalam keseharian.
Menjembatani Kesenjangan
Jika sekolah terus bertahan pada pola lama, maka kesenjangan antara literasi formal dan literasi nyata akan semakin lebar. Literasi masa depan menuntut keberanian untuk keluar dari zona nyaman: mengurangi hafalan, memperbanyak eksplorasi; menggeser peran guru dari pemberi materi menjadi fasilitator berpikir.
Literasi bukan lagi soal “apa yang dibaca”, tetapi “apa yang dipahami dan dilakukan setelah membaca”. Bukan sekadar kemampuan akademik, melainkan bekal hidup.
Ketika dunia sudah bergerak jauh, sekolah tidak boleh terus berjalan di tempat. Literasi harus dibumikan, dihidupkan, dan dihubungkan dengan realitas. Jika tidak, sekolah hanya akan menjadi ruang pengulangan konsep, sementara literasi sejati tumbuh subur di luar pagar
(Rulis, dari beberapa sumber)
Pilihan





