Menanam Akar Literasi Sejak Dini: Mengapa Literasi Balita Menentukan Masa Depan Anak


Literasi balita kerap luput dari perhatian, seolah membaca, berpikir, dan berbahasa baru penting ketika anak memasuki bangku sekolah. Padahal, masa balita—usia nol hingga lima tahun—adalah fase emas pembentukan karakter, etika, dan cara berpikir manusia. Di sinilah fondasi literasi sejati ditanam, bukan semata kemampuan membaca huruf, melainkan kecakapan memahami dunia, bersikap, dan memaknai kehidupan
.

*****

Literasi Balita: Lebih dari Sekadar Membaca

Selama ini, literasi sering disempitkan maknanya menjadi kemampuan membaca dan menulis. Padahal, bagi balita, literasi adalah proses mengenal dunia melalui bahasa, simbol, bunyi, emosi, dan interaksi sosial. Ketika seorang bayi mendengar suara ibunya, memperhatikan ekspresi wajah ayahnya, atau meraba buku kain bergambar, sesungguhnya ia sedang belajar “membaca” lingkungan.

Literasi balita mencakup kemampuan mendengar, memahami, meniru, merespons, dan mengekspresikan perasaan. Inilah cikal bakal kecerdasan berpikir dan bersikap. Karena itu, literasi pada usia dini tidak bisa dilepaskan dari pembentukan etika atau attitude. Sikap empati, kesabaran, rasa ingin tahu, dan kejujuran justru tumbuh lebih awal dibanding kemampuan akademik.

Pepatah yang sering kita dengar, “attitude lebih tinggi dari ilmu”, menemukan relevansinya di sini. Ilmu dapat dipelajari kapan saja, tetapi karakter dan kebiasaan berpikir dibentuk sejak dini. Balita yang tumbuh dalam lingkungan literat akan memiliki kesiapan mental dan emosional yang jauh lebih kuat saat memasuki tahap pendidikan berikutnya.

Mengapa Literasi Balita Perlu Diperhatikan dan Dikembangkan?

Pertama, karena masa balita adalah periode emas perkembangan otak. Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen perkembangan otak terjadi pada usia dini. Stimulus berupa cerita, percakapan, lagu, dan permainan bermakna akan membentuk jaringan saraf yang berpengaruh jangka panjang.

Kedua, literasi balita berperan penting dalam pembentukan karakter. Anak yang terbiasa diajak berbicara, didengarkan ceritanya, dan dikenalkan pada nilai melalui kisah akan lebih mudah memahami konsep benar-salah, empati, serta tanggung jawab. Literasi bukan hanya soal kata, tetapi juga makna dan nilai.

Ketiga, literasi balita menjadi fondasi kesiapan belajar. Anak yang sejak kecil akrab dengan buku dan bahasa akan memiliki kosa kata lebih kaya, kemampuan fokus lebih baik, serta kepercayaan diri saat berinteraksi. Ini akan memudahkan mereka mengikuti pembelajaran formal tanpa tekanan berlebihan.

Keempat, literasi balita juga berperan sebagai benteng sosial. Di tengah derasnya arus gawai dan informasi visual, anak yang dibesarkan tanpa pendampingan literasi rentan menjadi pasif, mudah bosan, dan kurang kemampuan berkomunikasi. Literasi sejak dini membantu anak menjadi subjek aktif, bukan sekadar konsumen hiburan.

Apa yang Harus Dilakukan Agar Anak Menjadi Manusia Literat?

Mengembangkan literasi balita tidak memerlukan fasilitas mewah. Yang paling penting adalah kehadiran orang dewasa yang sadar literasi.

  1. Membangun Interaksi Verbal Sejak Dini
    Ajak anak berbicara sejak bayi, meski ia belum mampu merespons dengan kata. Ceritakan apa yang sedang dilakukan, sebutkan nama benda, dan tanggapi ocehannya. Interaksi sederhana ini sangat kaya makna literasi.
  2. Mengenalkan Buku Sejak Usia Dini
    Buku balita tidak harus penuh teks. Buku bergambar, buku kain, atau buku dengan tekstur akan merangsang rasa ingin tahu. Yang terpenting adalah kebiasaan: membaca bersama, menunjuk gambar, dan bercerita dengan ekspresi.
  3. Mendongeng dan Bercerita
    Dongeng adalah sarana literasi yang sangat efektif. Melalui cerita, anak belajar alur, sebab-akibat, nilai moral, dan emosi. Cerita juga memperkuat ikatan emosional antara anak dan orang tua.
  4. Memberi Teladan Literasi
    Anak adalah peniru ulung. Ketika ia melihat orang tua membaca buku, menulis, atau berdiskusi, ia akan menganggap literasi sebagai bagian alami dari kehidupan, bukan paksaan.
  5. Membatasi dan Mendampingi Gawai
    Gawai bukan musuh, tetapi perlu pendampingan. Tanpa pendampingan, anak hanya menjadi penonton pasif. Dengan pendampingan, gawai bisa menjadi alat bantu literasi visual dan audio yang tetap bermakna.
  6. Menciptakan Lingkungan Kaya Bahasa
    Lingkungan rumah, posyandu, PAUD, dan ruang publik perlu menyediakan ruang dialog, nyanyian, permainan kata, dan aktivitas kreatif. Literasi tumbuh subur di lingkungan yang menghargai suara anak.

Dampak Pengembangan Literasi Balita

Dampak literasi balita tidak bersifat instan, tetapi sangat mendalam dan jangka panjang. Anak yang tumbuh dalam budaya literasi cenderung memiliki kemampuan komunikasi yang baik, empati yang tinggi, serta daya pikir kritis. Ia tidak hanya pandai membaca teks, tetapi juga “membaca” situasi, perasaan orang lain, dan realitas sosial.

Dalam jangka panjang, literasi balita berkontribusi pada kualitas sumber daya manusia. Anak yang literat sejak dini akan lebih siap menghadapi perubahan, tidak mudah terprovokasi, dan memiliki keinginan belajar sepanjang hayat. Ia tumbuh menjadi manusia yang beretika, berpengetahuan, dan berdaya.

Sebaliknya, mengabaikan literasi balita berarti kehilangan kesempatan emas. Ketika literasi baru diperkenalkan di usia sekolah, sering kali anak sudah terlanjur kehilangan rasa ingin tahu, kurang percaya diri, atau memandang belajar sebagai beban.

*****

Literasi balita bukan isu kecil atau sekadar urusan pendidikan anak usia dini. Ia adalah investasi peradaban. Dengan menanamkan literasi sejak usia nol hingga lima tahun, kita sedang membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara sikap dan kemanusiaan. Di sanalah etika dan ilmu bertemu, tumbuh bersama, dan membentuk manusia seutuhnya.

(Sabilah)

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 8582194751020480584

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close