Menatap Sampang dari Kanvas dan Patung: Estetika, Ingatan, dan Perlawanan Sunyi


Tulisan ini merupakan catatan apresiatif atas Pameran Seni Rupa Maperna Sampang #2 yang diselenggarakan oleh komunitas Sampang Visual Art. Melalui pembacaan ruang, karya, dan konteks kultural, tulisan ini berupaya menghadirkan Sampang dari sudut pandang estetik dan artistik—sebuah wilayah yang kerap dipersempit oleh stigma sosial-politik, namun sesungguhnya menyimpan kekayaan visual, spiritual, dan kebudayaan yang berlapis. Karya-karya para perupa dibaca tidak sekadar sebagai objek seni, melainkan sebagai narasi tentang pesisir, ingatan, tubuh, doa, luka, dan harapan. Dengan demikian, tulisan ini mengajak pembaca untuk menatap Sampang secara lebih utuh: sebagai ruang hidup yang dinamis, puitik, dan bermartabat.

Oleh: Hidayat Raharja

Memasuki ruang pamer Gedung Dewan Kesenian Sampang, mata seolah diajak melakukan perjalanan lintas arah dan lintas makna. Di dinding sisi barat, deretan karya Ivan Zamzamy, Sanusi Kacong, Fahrus S, dan Hendri R. Sidik tersusun seakan tengah berdialog dengan pengunjung. Karya-karya itu tidak hadir sebagai objek yang pasif, melainkan sebagai subjek yang menatap balik, mengajukan pertanyaan, bahkan menggugat kesadaran. Di sisi kiri, tepat di area yang menyerupai panggung, karya-karya berukuran besar milik Lutfi, Bambang Haryanto, dan Herry menyedot perhatian dengan daya visual yang kuat. Sementara itu, di dinding kanan ruangan, karya Yazid Izzul, Haryanto, dan Kandar Rusman menghadap ke selatan, menghadirkan nuansa yang lebih kontemplatif. Di bagian tengah ruang, patung-patung Kandar—berwujud ikan, burung, dan reptilia—berdiri dan menatap ke berbagai arah, seolah menjadi poros imajiner yang menyatukan seluruh energi visual dalam ruangan.

Pameran seni rupa yang ditaja oleh Sampang Visual Art dalam rangkaian Maperna Sampang #2, berlangsung sejak 24 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026. Mengusung tema “Maperna Sampang”, pameran ini tidak sekadar menjadi ajang pamer karya, tetapi juga sebuah pernyataan sikap. Ia adalah gerakan kultural untuk menghadirkan wajah lain Sampang—lebih estetik, lebih manusiawi, dan lebih jujur—di tengah narasi dominan yang kerap membenturkannya dengan kerumitan politik lokal dan stigma kekerasan.

Dalam perspektif estetika seni rupa, Sampang sesungguhnya adalah wilayah yang kaya dan sangat menarik. Keunikan-keunikan lokalnya membuka ruang tafsir yang luas bagi perupa. Salah satunya dapat dilihat pada seni rupa tradisi lencak palek, produk lokal yang mengimajinasikan perjumpaan antara yang sakral dan yang profan. Ornamen Buraq—makhluk mitologis berkepala perempuan dan bertubuh kuda yang dipercaya sebagai kendaraan suci Nabi dalam peristiwa Isra Mikraj—dihadirkan sebagai hiasan di ujung sandaran lencak. Di sini, yang sakral tidak ditarik menjauh dari kehidupan sehari-hari, tetapi justru dihadirkan ke ruang domestik, menjadi bagian dari tidur, mimpi, dan harapan.

Kesadaran akan keterhubungan antara sakral dan profan inilah yang menjadi fondasi kultural masyarakat Madura. Jika lencak adalah tempat beristirahat dan bermimpi, maka kehadiran Buraq dapat dibayangkan sebagai kendaraan imajiner yang membawa mimpi-mimpi para pengrajin dan pemiliknya menuju keindahan estetik dan harmoni hidup berumah tangga. Pernikahan, dalam konteks ini, bukan sekadar ikatan sosial, tetapi juga perjalanan spiritual yang dibingkai oleh simbol-simbol visual.

Pada titik inilah Sampang tampil berbeda. Karya-karya para perupa yang tergabung dalam komunitas Sampang Visual Art memberikan gambaran tentang Sampang dari sisi kultural dan sosial-politik yang jarang disentuh. Mereka tidak menghindari realitas, tetapi mengolahnya menjadi bahasa visual yang lebih subtil dan reflektif.

Lukisan-lukisan Herry, misalnya, menghadirkan perahu-perahu pajângan yang bersandar tenang di tepian pantai. Perahu-perahu khas Madura ini bukan sekadar alat tangkap ikan, melainkan simbol perjalanan kemanusiaan. Dalam ketenangannya menghadapi ombak dan angin, perahu-perahu itu menyerupai tubuh yang tengah berzikir—bergerak dalam diam, pasrah dalam kesadaran. Ia adalah metafora tentang manusia yang memahami gelombang kehidupan dan karenanya tidak takut pada kenyataan.

Sementara itu, Sanusi Kacong menjadikan kehidupan pesisir Labuhan Sreseh sebagai subjek utama. Pesisir, yang kerap dipinggirkan secara politis, justru menemukan suaranya melalui taburan warna di kanvas Sanusi. Ia menampilkan pesisir sebagai ruang hidup yang kompleks: lumbung gizi, ruang kerja, sekaligus wilayah yang sering dikalahkan oleh kebijakan yang tidak berpihak. Dalam lukisan-lukisannya, pesisir tidak meminta dikasihani, tetapi menuntut untuk dipahami.

Bambang Haryanto menghadirkan figur Ibu sebagai simbol kultural yang sangat kuat. Ibu bukan hanya sosok biologis, melainkan pusat nilai: kepatuhan, doa, pengorbanan, dan ketabahan. Dalam kultur Madura, ibu adalah figur yang harus dihormati sepenuh hati, sebab dari rahim dan pengorbanannyalah kehidupan dimulai. Lukisan-lukisan Bambang sarat dengan “bau ibu”—kehangatan, kesabaran, dan kekuatan sunyi yang tak pernah meminta balasan.

Ivan Zamzamy, pelukis muda yang tumbuh di lingkungan pesisir, menghadirkan dunia bawah laut dengan ikan-ikan berwarna cerah dan mencolok. Ikan-ikan itu seakan memamerkan kecantikannya, mengingatkan kita bahwa apa yang kita konsumsi setiap hari juga memiliki keindahan yang sering luput dari rasa syukur. Lukisan Ivan adalah ajakan untuk berhenti sejenak, memandang, dan bersyukur.

Hendri R. Sidik bermain dengan garis dan bentuk sebagai medium zikir visual. Tarikan garisnya menyerupai putaran organik, fragmen jasad, atau onderdil kehidupan yang saling terhubung. Tak jarang karya-karyanya diberi judul dengan nama-nama agung, menjadikan warna dan garis sebagai getaran doa yang tak putus.

Lutfi, yang lahir dan besar di pesisir Pademawu, mengisi kanvasnya dengan kehidupan sosial pesisir: anak-anak bermain di dekat perahu, ibu-ibu bekerja di dapur, dan warna laut yang akrab. Ia tidak sedang bernostalgia, melainkan mengingatkan bahwa pesisir adalah zona penting dalam sejarah maritim dan harus terus mendapat perhatian. Laut, baginya, adalah sahabat yang mengajarkan keseimbangan: mengambil secukupnya agar kehidupan dapat terus berlanjut.

Kandar Rusman (Kandart) menghadirkan karya-karya patung dari kayu, terutama akar jati, yang diolah menjadi bentuk fauna dan piranti unik. Kehidupan rural, ayam-ayam kampung yang hidup bebas, menjadi simbol kritik atas eksploitasi industri pangan. Dalam karya Kandart, kebebasan adalah nilai yang harus diperjuangkan, bahkan oleh makhluk yang paling sederhana.

Fahrus S, yang akrab dengan dunia seni dekorasi, tetap setia mengisi kanvas dengan sketsa pasar dan ikon kota Sampang. Dalam pameran ini, ia juga menampilkan karya tatah dua dimensi dari kuningan, memperlihatkan keluasan medium dan kesetiaannya pada akar lokal.

Lukisan “Si Jago Merah” karya Yazid Izzul adalah catatan personal tentang kehilangan. Api yang melahap rumahnya tidak hanya menghanguskan bangunan, tetapi juga mimpi. Namun dari puing dan arang itu, Yazid membangun kanvas sebagai ruang peringatan dan kebangkitan. Ia tidak larut dalam duka, tetapi menjadikannya pijakan untuk menata masa depan.

Di sisi lain, karya abstrak Haryanto menghadirkan percikan warna cerah di atas latar gelap. Tanpa bentuk yang jelas, ia mengajak penikmat untuk masuk ke wilayah rasa. Warna menjadi bahasa utama, menggantikan narasi, dan membuka ruang tafsir personal.

Pameran ini adalah pilihan untuk melihat Sampang dari sisi estetik. Di balik narasi kekerasan yang kerap dilekatkan, ada anak-anak muda yang bermain dengan warna, bentuk, dan gagasan, menghadirkan Sampang yang lain—lebih jujur, lebih hangat, dan lebih bermartabat.

Jika Sampang adalah Ibu, maka para perupa adalah anak-anaknya yang mencoba merawat dan menafsirkan wajahnya dengan cara mereka masing-masing. Mereka tidak menutup luka, tetapi juga tidak membiarkannya membusuk. Melalui kanvas dan patung, mereka menawarkan penyembuhan.

Sesungguhnya, Pameran Seni Rupa Maperna Sampang #2 adalah upaya kolektif untuk memberikan tatapan lain: bahwa Sampang adalah wilayah dengan semangat kebaharian yang tangguh, budaya yang kaya, dan daya hidup yang pantang menyerah. Sampang yang layak dirayakan—dengan seni, dengan kesadaran, dan dengan harapan.

Sampang, 27 Desember 2025

 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 6774983667249976397

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close