Dahaga Hiburan di Pamekasan: Konser Valen dan Rindu yang Lama Terpendam

Foto: Istimewa

Pamekasan, Rulis: Malam itu, Pamekasan terasa berbeda. Langit di atas Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan seperti ikut bergetar ketika ribuan orang bernyanyi bersama. Anak-anak, remaja, orang tua—datang dari berbagai penjuru kota—berdesakan, tersenyum, dan sesekali menitikkan air mata. Mereka tidak sekadar menyambut Achmad Valen Akbar, tetapi merayakan sesuatu yang telah lama hilang: hiburan musik yang hidup.

Sejak senja, arus manusia tak henti mengalir ke stadion. Banyak di antara mereka rela berjalan jauh, menunggu berjam-jam, bahkan berdiri hingga acara usai.

“Bukan soal capek atau tidak,” kata Bob Deded, pemilik Kedai Sawah 11–12.

“Ini rindu yang lama tertahan. Sudah bertahun-tahun Pamekasan sepi dari konser musik,” ujarnya.

Euforia malam itu memang tak bisa dilepaskan dari kebanggaan atas prestasi Valen, putra daerah yang berhasil menembus panggung nasional. Namun, di balik sorak sorai dan lampu panggung, ada cerita lain yang mengemuka: kerinduan kolektif masyarakat terhadap ruang bersenang-senang yang wajar dan terbuka.

Bob melihat konser itu sebagai cermin. Ia memantulkan wajah Pamekasan yang selama ini menahan denyut seni. “Dulu musik band hidup di sini. Sekarang nyaris hilang. Banyak anak muda punya karya, tapi tidak punya panggung,” ujarnya lirih.

Di sudut kota, cerita serupa datang dari Gugun Gunawan, pemusik yang telah puluhan tahun menggantungkan hidup pada nada dan irama. Baginya, musik di Pamekasan bukan mati karena kekurangan bakat, melainkan karena kekurangan ruang.

“Stigma membuat semua musik dianggap negatif. Padahal musik juga bisa mendidik, menyatukan, dan menggerakkan ekonomi,” katanya.

Selama lebih dari 20 tahun, Gugun nyaris tak pernah menyaksikan konser musik terbuka di Pamekasan. Ia dan kawan-kawannya hanya berpindah dari satu kafe ke kafe lain—itu pun dengan pembatasan. “Anak muda akhirnya belajar diam, bukan berkarya,” tuturnya.

Malam konser Valen mematahkan asumsi lama. Pedagang kecil panen pembeli, pelaku UMKM tersenyum, kota berdenyut hingga larut. Tak ada kekacauan, tak ada kegaduhan berlebihan. Yang ada hanyalah perayaan sederhana atas musik dan kebersamaan.

Bagi banyak orang, konser itu bukan akhir, melainkan awal pertanyaan besar: mungkinkah Pamekasan memberi ruang tanpa kehilangan jati diri? Mungkinkah kearifan lokal berjalan berdampingan dengan kreativitas generasi muda?

Saat panggung padam dan penonton berangsur pulang, gema lagu masih tertinggal di udara. Seperti pesan tak terucap dari ribuan suara: musik tidak pernah benar-benar pergi—ia hanya menunggu diberi tempat untuk kembali.

(Sumber tulisan akun FB Abi Sayyid)

 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 3644831469714677789

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close