Organisasi Literasi yang Pelan-Pelan Mati
Oleh: May Dindi
Saya pernah bergabung dengan sebuah komunitas literasi yang tampak sangat hidup. Setiap minggu ada diskusi buku. Anak-anak datang ke taman bacaan dengan mata berbinar. Media sosial aktif, penuh foto kegiatan dan kutipan inspiratif. Kami merasa sedang melakukan sesuatu yang penting, sesuatu yang bermakna.
Namun, seperti banyak kisah komunitas lainnya, semangat itu tidak bertahan lama. Perlahan, kegiatan mulai jarang. Rapat sulit terlaksana. Pesan di grup tak lagi dibalas. Sampai akhirnya, tanpa pengumuman resmi, komunitas itu berhenti beraktivitas. Tidak ada perpisahan. Tidak ada evaluasi. Ia mati perlahan, dalam diam.
Awalnya saya mengira penyebabnya klasik: dana terbatas, relawan sibuk, atau kurang dukungan dari pemerintah. Tapi setelah terlibat di beberapa organisasi literasi lain, saya mulai melihat pola yang sama. Masalah utamanya bukan di luar, melainkan di dalam. Banyak organisasi literasi tumbang bukan karena kekurangan buku atau ide, melainkan karena miskin literasi organisasi.
Kita Pandai Bicara Literasi, Tapi Gagap Mengelola
Organisasi literasi sering lahir dari niat baik. Dari kegelisahan melihat anak-anak jarang membaca. Dari keinginan mengubah keadaan. Niat ini tulus, bahkan heroik. Tapi niat baik saja tidak cukup untuk menjaga organisasi tetap hidup.
Banyak pengelola organisasi literasi tidak benar-benar memahami apa itu organisasi. Visi dan misi ditulis di proposal, tapi tidak pernah dibaca ulang. Struktur organisasi ada, tapi tidak dipraktikkan. Ketua mengerjakan hampir semua hal. Anggota lain menunggu instruksi, atau sekadar hadir saat kegiatan.
Ketika muncul perbedaan pendapat, semuanya menjadi personal. Tidak ada mekanisme diskusi yang sehat. Tidak ada ruang evaluasi. Yang ada hanya perasaan: tersinggung, lelah, kecewa. Perlahan, satu per satu mundur.
Di titik inilah saya sadar, literasi organisasi bukan soal teori manajemen yang rumit, tetapi soal kemampuan membaca dan mengelola diri sendiri sebagai organisasi.
Organisasi yang Hidup Karena Satu Orang
Fenomena paling sering saya temui adalah organisasi yang bergantung pada satu figur. Satu orang menjadi motor, otak, dan tangan organisasi. Ia yang mengurus program, relasi, laporan, bahkan logistik. Organisasi terlihat aktif, tapi rapuh.
Ketika orang itu sakit, lelah, atau punya urusan lain, semuanya berhenti. Tidak ada sistem yang berjalan. Tidak ada regenerasi. Organisasi seolah ikut pensiun bersama tokohnya.
Ini bukan salah individu. Justru sering kali orang-orang ini bekerja terlalu keras. Masalahnya ada pada organisasi yang tidak membangun sistem. Dan itu lagi-lagi soal literasi organisasi: ketidakmampuan memahami bahwa organisasi harus lebih besar dari siapa pun yang ada di dalamnya.
Nilai Literasi yang Tidak Masuk ke Dapur Organisasi
Yang paling ironis, organisasi literasi sering mengajarkan nilai-nilai mulia ke luar: berpikir kritis, kolaborasi, keterbukaan, dan pembelajaran sepanjang hayat. Namun nilai-nilai itu tidak dipraktikkan di dalam.
Rapat jarang dilakukan karena dianggap buang waktu. Evaluasi dihindari karena takut konflik. Kritik dipandang sebagai serangan, bukan masukan. Padahal, jika ada satu tempat yang seharusnya paling siap berdialog secara dewasa, itu adalah organisasi literasi.
Tanpa disadari, organisasi kita berjalan dengan kebiasaan lama: feodal, tertutup, dan serba improvisasi. Kita rajin mengedukasi masyarakat, tapi lupa mendidik diri sendiri sebagai pengelola organisasi.
Literasi Organisasi Itu Hal Sederhana
Banyak orang mengira literasi organisasi adalah hal besar dan rumit. Padahal, ia justru dimulai dari hal-hal paling dasar. Duduk bersama membicarakan arah organisasi. Menyepakati peran, meski sederhana. Mencatat kegiatan, walau hanya di buku tulis. Mengakui kesalahan tanpa saling menyalahkan.
Literasi organisasi berarti memahami bahwa organisasi adalah ruang belajar bersama. Tidak semua harus sempurna. Yang penting ada kesadaran untuk bertumbuh.
Organisasi literasi yang sehat bukan yang paling sibuk, tapi yang tahu apa yang sedang dikerjakan dan mengapa itu dikerjakan.
Terjebak Seremoni, Lupa Substansi
Dalam banyak program literasi, termasuk yang didorong negara, kita sering terjebak seremoni. Acara demi acara digelar. Spanduk dipasang. Foto diunggah. Setelah itu, selesai.
Organisasi literasi ikut terbawa arus ini. Fokus pada kegiatan yang terlihat, bukan pada proses internal. Padahal, keberlanjutan gerakan literasi sangat ditentukan oleh kesehatan organisasinya.
Tanpa literasi organisasi, gerakan literasi mudah lelah dan cepat patah.
Bercermin, Bukan Menghakimi
Tulisan ini saya buat bukan untuk menyalahkan siapa pun. Saya sendiri bagian dari masalah ini. Saya pernah mengabaikan rapat. Pernah merasa cukup dengan semangat. Pernah berpikir bahwa urusan administrasi itu remeh.
Namun semakin lama saya terlibat, semakin saya yakin: jika organisasi literasi ingin bertahan dan berdampak, ia harus mulai meliterasikan dirinya sendiri.
Kita perlu belajar mengelola, bukan hanya menggerakkan. Belajar mendengar, bukan hanya berbicara. Belajar membangun sistem, bukan sekadar bergantung pada niat baik.
Merapikan Rumah Sendiri
Mungkin perubahan besar dalam dunia literasi tidak selalu dimulai dari proyek nasional atau dana besar. Bisa jadi, ia dimulai dari rapat kecil yang jujur. Dari catatan sederhana. Dari keberanian mengakui bahwa kita belum sepenuhnya paham mengelola organisasi.
Sebelum mengajak masyarakat mencintai literasi, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri: apakah organisasi kita sudah cukup literat?
Sebab organisasi literasi yang sehat bukan hanya menghasilkan pembaca, tetapi juga melahirkan pengelola yang terus belajar. Dan dari sanalah, gerakan literasi yang sesungguhnya bisa tumbuh—perlahan, tapi bertahan.





