Euforia Juara Dangdut dan Ujian Eksistensi di Panggung Nyata
![]() |
| Foto hasil tangkapan layar youtube Indosiar |
Hari-hari terakhir ini jagat maya diramaikan euforia para juara Dangdut Academy 7, ajang pencarian bakat dangdut paling bergengsi di Indonesia. Juara I diraih Tasya asal Tangerang Selatan, Juara II Achmad Valen Akbar dari Pamekasan, dan Juara III April dari Cirebon. Kemenangan mereka disambut gegap gempita, tak hanya oleh para pendukung fanatik, tetapi juga oleh masyarakat luas.
Sebagaimana lazimnya, kehadiran seorang juara dari panggung nasional kerap diperlakukan layaknya pahlawan baru. Pemerintah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten, turut menyambut dengan penuh suka cita. Sambutan ini tentu bukan sekadar seremoni. Ada kepentingan politis yang menyertainya: membangun citra, mengikat simpati, sekaligus menabung kepercayaan publik.
Namun pertanyaan mendasarnya sederhana sekaligus krusial: seberapa lama para juara itu mampu bertahan dan tetap eksis di kerasnya industri musik dangdut?
Dangdut hari ini telah mengalami transformasi besar. Kualitas vokal saja tidak lagi cukup. Pasar dangdut bergerak mengikuti selera penonton, terutama penonton akar rumput. Dalam banyak kasus, daya tarik visual—gaya erotis, sensualitas, goyangan tubuh, hingga budaya sawer—sering kali lebih “laku” dibandingkan kualitas musikal itu sendiri. Tepuk tangan dan joget penonton menjadi indikator keberhasilan, bukan lagi sekadar kepiawaian bernyanyi.
Di Pulau Madura, persoalan ini menjadi dilema tersendiri. Gaya erotis dalam pertunjukan dangdut masih dianggap tabu, bahkan dilarang. Sementara itu, seorang penyanyi membutuhkan pasar, ruang eksplorasi, dan strategi agar tetap bertahan. Media televisi pun tidak semudah yang dibayangkan. Mereka yang terus muncul di layar kaca biasanya adalah nama-nama “langganan” dengan nilai komersial tinggi. Dalam logika industri, prestasi kerap kalah penting dibandingkan dampak finansial yang dihasilkan. Pertanyaannya bukan lagi “seberapa bagus bernyanyi”, melainkan “apa efeknya bagi rating dan iklan”.
Setidaknya ada dua figur yang pernah—dan sedang—menjadi kebanggaan masyarakat Madura di Dangdut Academy: Irwan Krisdiyanto (Juara III DA2) dan Achmad Valen Akbar (Juara II DA7). Keduanya dielu-elukan karena dianggap mewakili daerah di panggung nasional.
Saat Irwan berkompetisi dulu, antusiasme masyarakat Sumenep begitu luar biasa. Pemerintah Kabupaten Sumenep bahkan turun tangan langsung. Berbagai cara dilakukan, mulai dari dukungan SMS hingga pengiriman tim kesenian daerah untuk tampil di panggung spektakuler Indosiar. Para pejabat dan pegawai pun berlomba menunjukkan batang hidung agar tersorot kamera. Promosi daerah dan pariwisata menjadi satu paket lengkap dalam siaran langsung nasional.
Namun pertanyaan yang kini mengemuka: di mana Irwan sekarang? Kabar yang beredar justru lebih banyak menyoroti persoalan rumah tangga ketimbang aktivitas panggung dan karya musiknya. Sebuah ironi yang kerap menimpa para juara ajang pencarian bakat.
Lalu, apakah Valen akan mengalami nasib serupa? Dengan modal dukungan dana besar dari pendukung dan tokoh setempat—termasuk melalui virtual gift yang sempat menuai kontroversi—apakah ia mampu bertahan? Jawabannya bergantung pada banyak faktor: konsistensi performa, manajemen promosi yang profesional, jejaring media yang kuat, kolaborasi strategis, serta kemampuan membaca dan mengikuti selera pasar.
Industri dangdut bukan dunia yang ramah. Intrik, persaingan tidak sehat, saling menjatuhkan, bahkan fitnah, bukan hal asing. Karena itu, harapan publik Madura kini bertumpu pada satu hal: semoga Valen mampu belajar dari sejarah, bertahan lebih lama, dan tidak sekadar menjadi euforia sesaat.
Sejarah Dangdut Academy telah mencatat banyak juara. Namun hanya sedikit yang benar-benar bertahan dan terus bersinar:
• DA 1 (2014): Lesti, Aty, Frans
• DA 2 (2015): Evi, Danang, Irwan
• DA 3 (2016): Ical, Weni, Irsya
• DA 4 (2017): Fildan, Putri, Aulia
• DA 5 (2022): Sridevi, Eby, Afan
• DA 6 (2024): Owan, Novia, Madhani
• DA 7 (2025): Tasya, Valen, April
Waktu akan menjawab satu pertanyaan klasik itu: siapa yang benar-benar bertahan, dan siapa yang hanya singgah sebagai juara musiman.
Pilihan





