Remaja di Ujung Jurang: Ketika Nilai Runtuh dan Kita Semua Pura-Pura Baik-Baik Saja
Tulisan ini lahir dari kegelisahan yang makin terasa di sekitar kita. Bukan untuk menghakimi, bukan pula untuk menggurui. Ini adalah ajakan jujur untuk bercermin bersama—remaja, orang tua, guru, lingkungan, dan negara. Fenomena pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, minuman keras, kehamilan di usia sekolah, hingga krisis identitas dan nilai, bukan lagi isu kota besar. Ia telah merembes ke gang-gang kecil, desa-desa, bahkan ruang kelas. Pertanyaannya sederhana tapi menohok: apa yang sebenarnya sedang kita wariskan pada generasi hari ini?
(Diana)
1. Remaja dalam Pusaran Bebas Tanpa Arah
Hari ini, kata “bebas” sering disalahpahami. Bebas dianggap berarti tanpa batas, tanpa tanggung jawab, tanpa konsekuensi. Dalam praktiknya, kebebasan itu menjelma menjadi pergaulan yang kehilangan kompas. Hidup bersama tanpa ikatan, pesta minuman keras, narkoba, hingga seks pranikah yang berujung kehamilan di bangku sekolah, bukan lagi cerita rahasia. Ia muncul di linimasa, obrolan warung kopi, bahkan laporan sekolah.
Yang lebih mengkhawatirkan, banyak remaja menjalani semua itu bukan karena ingin memberontak, tetapi karena bingung. Mereka tumbuh di tengah banjir informasi, budaya pop global, media sosial yang menormalisasi segalanya, dan standar hidup yang sering tak realistis. Apa yang viral dianggap benar. Apa yang ditonton dianggap wajar. Perlahan, rasa malu memudar, batasan nilai menjadi kabur.
Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman dan pembentuk karakter, sering kali hanya sanggup mengejar target akademik. Guru berada di posisi dilematis: menegur bisa berujung laporan, mendiamkan berarti membiarkan. Akhirnya, banyak yang memilih jalan aman—mengajar materi, menutup mata pada persoalan karakter. Padahal, masalah remaja hari ini bukan sekadar nilai rapor, melainkan nilai hidup.
Di sisi lain, remaja juga hidup di tengah tekanan ekonomi dan sosial. Tidak sedikit yang melihat ketimpangan, kemewahan semu, dan praktik tipu-tipu sebagai hal lumrah. Ketika kejujuran tidak memberi jaminan hidup layak, sementara kelicikan sering dipamerkan sebagai “cerdas”, remaja belajar dengan cepat: nilai bisa dinegosiasikan.
2. Orang Tua, Lingkungan, dan Negara yang Kehilangan Pegangan
Mudah menyalahkan remaja, tetapi tidak adil jika kita berhenti di sana. Banyak orang tua hari ini bekerja lebih keras dari generasi sebelumnya, namun ironisnya semakin jauh dari anak-anaknya. Rumah menjadi tempat singgah, bukan ruang dialog. Gawai menggantikan peran mendengar. Kalimat “yang penting anak tidak rewel” sering kali menjadi awal dari kehilangan kendali.
Lingkungan sosial pun berubah. Dulu, tetangga adalah pengawas bersama; hari ini, urusan orang lain dianggap bukan urusan kita. Ketika ada remaja pulang dini hari, mabuk, atau berperilaku menyimpang, reaksi yang muncul sering kali hanya bisik-bisik, bukan kepedulian. Budaya masa bodoh pelan-pelan menguat, dan itu berbahaya.
Negara dan pemerintah tak bisa cuci tangan. Kebijakan pendidikan sering berubah-ubah, tetapi jarang menyentuh akar persoalan karakter dan mental remaja. Program ada, slogan ada, namun pengawasan dan keteladanan sering absen. Di ruang publik, remaja menyaksikan elit bertengkar, janji dilanggar, hukum tumpul ke atas tajam ke bawah. Sulit meminta remaja patuh pada nilai, jika contoh yang mereka lihat justru sebaliknya.
Agama dan norma sosial pun mengalami tantangan. Bukan karena ajarannya kehilangan kebenaran, tetapi karena penyampaiannya sering kaku, menghakimi, dan jauh dari realitas remaja. Alih-alih menjadi pelukan yang menenangkan, nilai moral kadang hadir sebagai palu yang memukul. Remaja yang sudah bingung, akhirnya memilih menjauh.
3. Jalan Keluar: Mengembalikan Arah, Bukan Sekadar Menghukum
Jika masalah ini ingin diselesaikan, kita harus berhenti mencari kambing hitam. Remaja bukan musuh, mereka adalah cermin. Jalan keluar tidak cukup dengan razia, larangan, atau hukuman. Yang dibutuhkan adalah pemulihan arah.
Pertama, rumah harus kembali menjadi sekolah pertama. Orang tua perlu hadir secara utuh—bukan hanya secara fisik, tetapi emosional. Mendengar tanpa menghakimi, menetapkan batas dengan kasih, dan memberi teladan nyata. Remaja lebih percaya pada contoh daripada ceramah panjang.
Kedua, sekolah perlu dipulihkan perannya sebagai ruang pembentuk karakter. Guru harus dilindungi, bukan ditakuti. Pendidikan karakter tidak boleh menjadi pelengkap, melainkan inti. Diskusi tentang nilai, etika, relasi sehat, dan kesehatan mental perlu dibuka dengan bahasa remaja—jujur, relevan, dan membumi.
Ketiga, lingkungan dan negara wajib hadir. Ruang kreatif, komunitas positif, literasi digital, dan akses konseling harus diperluas hingga daerah. Remaja perlu alternatif selain pelarian. Mereka butuh tempat untuk gagal, belajar, dan bangkit tanpa stigma.
Terakhir, kita semua perlu rendah hati mengakui: generasi hari ini dibentuk oleh dunia yang kita ciptakan. Jika dunia itu penuh tipu-tipu, kekerasan simbolik, dan kepalsuan, jangan heran jika remaja tumbuh sinis. Perubahan harus dimulai dari atas dan dari dalam—dari kebijakan yang adil hingga sikap sehari-hari.
Remaja Indonesia tidak sedang rusak; mereka sedang tersesat. Dan tugas kitalah, bersama-sama, untuk menunjukkan jalan pulang.
Pilihan




