Jejak yang Disenyapkan: Perjalanan Tujuh Tokoh Muslim Penyangga Peradaban Ilmu Dunia
![]() |
| Ilustrasi: tokoh muslim dunia |
Sejarah ilmu pengetahuan dunia yang kita kenal hari ini tidak pernah lahir dalam ruang hampa. Ia merupakan hasil dari mata rantai panjang peradaban, lintas bangsa, lintas agama, dan lintas zaman. Namun, sejarah juga bukan sekadar catatan objektif; ia sering kali ditulis oleh pihak yang menang, berkuasa, dan memiliki otoritas epistemik. Akibatnya, banyak kontribusi besar dari peradaban non-Barat—khususnya peradaban Islam—yang tereduksi, disederhanakan, bahkan dihapus dari narasi arus utama keilmuan dunia.
Dalam perjalanan panjang peradaban Islam antara abad ke-8 hingga ke-15, lahir para ilmuwan Muslim yang bukan hanya menjadi penerjemah ilmu Yunani atau Romawi, tetapi penemu, perumus teori, eksperimentator, dan inovator sejati. Ironisnya, karya dan gagasan mereka justru menjadi fondasi utama bagi kebangkitan Eropa (Renaissance), sementara nama mereka perlahan menghilang dari buku teks modern.
Tulisan ini mengajak pembaca menelusuri jejak tujuh tokoh besar Islam—Al-Idrisi, Ibnu Al-Nafis, Fatimah al-Fihri, Al-Battani, Ibnu Al-Haitham, Abbas bin Firnas, dan Al-Jazari—yang kontribusinya masih dipraktikkan hingga hari ini, tetapi sering kali dilepaskan dari nama dan konteks asalnya. Lebih jauh, tulisan ini juga berupaya menjawab pertanyaan krusial: mengapa nama-nama mereka disenyapkan?
- Al-Idrisi: Kartografer Dunia dan Arsitek Konsep Bumi Global
Muhammad al-Idrisi (1100–1165 M) adalah seorang geograf, kartografer, dan ilmuwan Muslim kelahiran Ceuta (Maroko). Ia hidup pada masa ketika dunia Barat masih terjebak dalam peta mitologis, penuh spekulasi dan simbol keagamaan, sementara Al-Idrisi justru menyusun peta dunia berbasis observasi empiris dan laporan perjalanan lintas benua.
Karya monumentalnya, Nuzhat al-Mushtaq fi Ikhtiraq al-Afaq, disusun atas permintaan Raja Roger II dari Sisilia. Dalam karya ini, Al-Idrisi menegaskan bahwa bumi berbentuk bulat (globe), lengkap dengan pembagian zona iklim, jalur laut, dan daratan yang proporsional.
Yang jarang diungkap adalah bahwa konsep globe ini kemudian diadopsi oleh kartografer Eropa berabad-abad kemudian tanpa menyebut akar intelektualnya. Model peta modern, atlas dunia, dan sistem navigasi global sejatinya berdiri di atas fondasi metodologis Al-Idrisi.
- Ibnu Al-Nafis: Penemu Sirkulasi Paru-Paru yang Didahului Barat 300 Tahun
Ala al-Din Ibn al-Nafis (1213–1288 M) adalah seorang dokter, ahli anatomi, dan teolog. Dalam karyanya Sharh Tashrih al-Qanun, ia membantah teori Galen yang telah bertahan lebih dari seribu tahun.
Ibnu Al-Nafis menjelaskan secara rinci bahwa darah dari jantung kanan tidak langsung menembus sekat jantung, melainkan dipompa ke paru-paru untuk mengalami pertukaran udara sebelum kembali ke jantung kiri. Ini adalah deskripsi pertama sistem peredaran darah paru-paru dalam sejarah manusia.
Namun, dalam buku-buku kedokteran Barat, penemuan ini kerap dikaitkan dengan William Harvey (abad ke-17). Manuskrip Ibnu Al-Nafis baru ditemukan kembali di Eropa pada abad ke-20—terlambat untuk mengoreksi narasi yang sudah mapan.
- Fatimah al-Fihri: Pendiri Universitas Pertama di Dunia
Fatimah binti Muhammad al-Fihri (w. 880 M) adalah sosok luar biasa yang kerap diabaikan dalam sejarah pendidikan global. Ia mendirikan Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko, pada tahun 859 M—diakui UNESCO sebagai universitas tertua di dunia yang masih beroperasi.
Model pendidikan Al-Qarawiyyin mencakup kurikulum terstruktur, ijazah, dosen tetap, dan kebebasan akademik—semua ciri yang kini menjadi standar universitas modern.
Namun, sejarah Barat lebih sering menyebut Universitas Bologna atau Oxford sebagai universitas tertua, mengaburkan fakta bahwa konsep universitas modern lahir dari peradaban Islam dan dipelopori oleh seorang perempuan Muslim.
- Al-Battani: Arsitek Astronomi Presisi dan Kalender Matahari
Abu Abdullah Muhammad ibn Jabir al-Battani (858–929 M) adalah astronom dan matematikawan yang menghitung panjang tahun matahari dengan tingkat akurasi yang menakjubkan: 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik—sangat dekat dengan pengukuran modern.
Ia juga memperkenalkan konsep trigonometri sinus dan tangen secara sistematis, yang kemudian menjadi tulang punggung astronomi dan teknik modern.
Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan digunakan oleh Copernicus. Namun, dalam narasi populer, nama Al-Battani sering digantikan oleh tokoh-tokoh Eropa yang datang jauh setelahnya.
- Ibnu Al-Haitham: Bapak Optika dan Cikal Bakal Kamera
Hasan Ibn al-Haitham (965–1040 M) adalah pelopor metode ilmiah eksperimental. Dalam Kitab al-Manazir, ia membuktikan bahwa penglihatan terjadi karena cahaya masuk ke mata, bukan dipancarkan oleh mata—sebuah revolusi ilmiah pada masanya.
Ia mengembangkan prinsip camera obscura, yang kemudian menjadi dasar kamera modern, lensa optik, mikroskop, dan teleskop.
Ironisnya, sejarah sains Barat sering mengangkat Roger Bacon atau Kepler tanpa menempatkan Ibnu Al-Haitham sebagai fondasi utama pemikiran mereka.
- Abbas bin Firnas: Pelopor Penerbangan Manusia
Abbas bin Firnas (810–887 M) adalah ilmuwan Andalusia yang melakukan eksperimen penerbangan menggunakan sayap buatan. Ia berhasil melayang di udara dan mendarat—meski mengalami cedera akibat kurangnya mekanisme pendaratan.
Eksperimennya menunjukkan pemahaman tentang aerodinamika, gravitasi, dan struktur sayap, jauh sebelum Wright Brothers.
Namun, sejarah penerbangan modern jarang menempatkannya sebagai pelopor, karena eksperimen ilmiah non-Barat kerap dianggap “primitif” meski berbasis observasi ilmiah.
- Al-Jazari: Arsitek Robotika dan Mesin Otomatis
Badi’ al-Zaman al-Jazari (1136–1206 M) adalah insinyur mekanik yang merancang mesin otomatis (automata), pompa air, jam mekanik, dan robot humanoid.
Karyanya Al-Jami’ bayn al-‘Ilm wa al-‘Amal al-Nafi’ fi Sina’at al-Hiyal menjadi fondasi rekayasa mekanik dan robotika modern. Prinsip camshaft, crankshaft, dan kontrol otomatis yang ia rancang masih digunakan hingga hari ini.
Namun, sejarah teknologi modern lebih sering mengaitkan robotika dengan era industri Eropa.
Mengapa Nama Mereka Disenyapkan?
Penghilangan nama-nama ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari:
- Eurocentrisme historiografi
Merujuk pada cara penulisan sejarah yang menempatkan Eropa sebagai pusat, ukuran, dan penentu utama kemajuan peradaban dunia. Dalam kerangka ini, kontribusi bangsa dan peradaban non-Eropa (termasuk Islam) sering dianggap sekunder, hanya pelengkap, atau bahkan diabaikan sama sekali.
- Kolonialisme epistemik
Bentuk penjajahan dalam ranah pengetahuan, di mana cara berpikir, teori, metode, dan standar kebenaran Barat dipaksakan sebagai satu-satunya yang sah. Pengetahuan dari dunia Islam atau Timur direduksi, disesuaikan, atau disingkirkan agar tunduk pada kerangka intelektual Barat.
- Penerjemahan selektif tanpa atribusi
Praktik penerjemahan karya ilmuwan Muslim ke bahasa Latin atau Eropa dengan cara memilih bagian tertentu yang berguna, lalu menyebarkannya tanpa menyebut nama penulis asli. Akibatnya, gagasan tetap hidup, tetapi penciptanya terlupakan.
- Politik identitas ilmu pengetahuan
Proses di mana ilmu pengetahuan dikaitkan dengan identitas budaya, agama, atau bangsa tertentu untuk kepentingan kekuasaan dan legitimasi. Dalam konteks ini, ilmu modern dikonstruksikan sebagai “produk Barat”, sementara kontribusi Islam dipinggirkan demi membangun narasi superioritas peradaban tertentu.
- Reduksi peran Islam sebagai “penjaga”, bukan “pencipta” ilmu
Pandangan yang menyatakan bahwa peradaban Islam hanya berfungsi menyimpan dan meneruskan ilmu Yunani-Romawi tanpa inovasi. Pandangan ini mengabaikan fakta bahwa ilmuwan Muslim melakukan kritik, eksperimen, pengembangan teori baru, dan penemuan orisinal.
(dirangkum dari sejumlah sumber)
Pilihan




