Sajak-sajak Rifqi Septian Dewantara, Balikpapan

 


Rifqi Septian Dewantara
asal Balikpapan, Kalimantan Timur. Karya-karyanya pernah tersebar di beberapa media online seperti Media Indonesia, BeritaSatu, Suara Merdeka, Borobudur Writers & Cultural Festival, dll. Buku antologi puisinya berjudul LIKE diterbitkan oleh Pustaka Ekspresi sekaligus meraih penghargaan Penyair Favorit Bali Politika 2024. Kini, bergiat dan berkarya di Halmahera, Maluku Utara. Bisa disapa melalui Facebook: Rifqi Septian Dewantara.


Negara Bernama Janji

Di jalan protokol, baliho berganti wajah—
dulu senyum palsu, kini taring iblisnya terpampang.
Mereka bilang, “Kita sudah merdeka dari kebodohan!”
Lalu kuraih televisi,
kulihat iklan subsidi, wajah petani dijadikan simbol,
dan simbol itu tak pernah menanam padi

Orang-orang bersorak:
“Revolusi!”
tapi di layar ponselku,
revolusi artinya memperbarui aplikasi versi terbaru
tanpa perlu syarat & ketentuan

Negara ini pandai berjanji
Setiap kalimatnya adalah seminar motivasi
tanpa oposisi
tanpa bukti,
tanpa konsolidasi

2025

 

 

Parade Kenyang

Sebuah pawai lewat di depan rumahku,
rombongan pejabat sedang bergaya cosplay rakyat
Di tangannya: gorengan panas, mic, dan publikasi humas kepresidenan—
semuabaru buatan pabrik; instan

Anak-anak menontonnya sambil menganga
Ibunya bilang,
“Diam, Nak kita harus bersyukur, katanya ekonomi segera membaik.”
Lalu si anak menjawab,
“Kalau membaik, kenapa nasi kita masih numpang di utang?”

Mereka pun mengepal tangan,
karena pesimis adalah cara paling elegan
untuk tidak membayar semua derita rakyat

2025

 

 Catatan dari Sudut Meja Negara

Kertas-kertas berserakan, penuh tanda tangan digital
Rakyat disalin jadi data,
alamatnya jadi statistik,
dan pesan judol terpampang di pop-up notification

Di meja itu, seseorang berkata:
“Keamanan nasional prioritas utama.”
Tapi di luar gedung,
warga yang menuntut transparansi malah ditandai sebagai gangguan

Negara mengirim pesan:
“Jangan khawatir, semua dalam kendali”
Kendali siapa?
Kita tidak tahu—mungkin algoritma,
mungkin yang duduk di belakang layar sambil menyeruput kekuasaan

2025

 

 Ironi Setelah Upacara

Langit memerah setelah bendera diturunkan
Anak-anak sekolah masih latihan hormat,
sementara bapak pejabat sibuk cari angle terbaik untuk feed media sosial

Katanya cinta tanah air,
tapi tanah dijual ke investor asing
Katanya bangga produk lokal,
tapi batiknya hasil import cotton blend

Aku berdiri di tengah lapangan,
mendengar lagu kebangsaan dari speaker sound horeg
yang sudah pecah dari toleransi dan kesatuan negara
Negara ini hebat!
selalu bisa recharge citra,
meski baterai moralnya telah bocor ke mana-mana

2025

 

 Tahun Pertama, Babak Satu

Kita menulis ulang sejarah dengan huruf kapital:
P-E-R-U-B-A-H-A-N.
Tapi di setiap suku kata ada tanda tanya

Apakah ini pemerintahan, atau pertunjukan?
Apakah ini janji, atau sekadar press release?
Apakah kita rakyat, atau buzzer bayaran?

Di tahun pertama,
kami belajar satu hal penting:
realitas politik sama seperti sinetron—
kita tahu siapa dalangnya,
tapi tetap menonton sampai akhir,
karena takut disebut tidak nasionalis.

2025

 

MBG (Makanan Ber*cun Gratis)

Setiap pagi, negara menyiapkan sarapan nasional:
sepiring optimisme, segelas janji,
dan sepotong berita yang sudah dikunyah ulang oleh media

Kami duduk rapi di meja demokrasi,
menyantap gizi dari kata-kata pejabat
yang menua lebih cepat dari logika
“Ini makanan bergizi,” katanya,
sambil menaburkan statistik di atas nasi subsidi

Di luar, bau lapar masih berserakan
di sela trotoar yang retak oleh janji pembangunan
orang-orang antri, bukan untuk kerja,
tapi untuk menelan harapan yang basi

Negara menamai semuanya kemajuan
padahal kami sudah lama muntah dalam diam,
menyembunyikan rasa getir di balik kata “makmur”.

Setiap hidangan disajikan gratis,
karena yang dibayar sebenarnya: kesadaran.
Kami dicekoki tayangan,
disuapi pidato,
dan diberi piring kosong bertuliskan “stabilitas”.

Sampai akhirnya kami kenyang—
bukan oleh makanannya,
tapi oleh kebohongan yang terus dihangatkan setiap hari
dengan garam nasionalisme dan bumbu loyalitas.

Selamat makan, rakyat.
hari ini menu masih sama:

Makanan Ber*cun Gratis!

2025

 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 3159290205903706040

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close