Ketika Harga Diri Ditarik ke Etalase

Saidiman Istilah “melacurkan diri” adalah salah satu label paling keras dalam wacana sosial. Ia tidak hanya menunjuk pada praktik prostitusi...


Saidiman

Istilah “melacurkan diri” adalah salah satu label paling keras dalam wacana sosial. Ia tidak hanya menunjuk pada praktik prostitusi secara harfiah, tetapi juga dipakai secara kiasan untuk menggambarkan seseorang—terutama seniman atau publik figur—yang dianggap menjual prinsip, nilai, atau integritas demi uang dan popularitas. Di Indonesia, istilah ini sering muncul dalam percakapan sehari-hari, gosip hiburan, hingga komentar pedas di media sosial.

Label itu mudah dilontarkan, tetapi jarang dipahami secara utuh.

Dalam bayangan publik, seniman kerap ditempatkan di posisi yang paradoksal. Di satu sisi, mereka diharapkan menjadi simbol idealisme: jujur, kritis, dan berani melawan arus. Di sisi lain, mereka juga dituntut untuk tampil glamor, sukses, dan selalu relevan. Ketika seorang seniman terlihat mengambil pekerjaan yang dianggap “murahan”, terlalu komersial, atau bertentangan dengan citra idealnya, vonis pun jatuh cepat: ia dituduh menjual diri.

Namun, realitas hidup sering kali jauh lebih rumit daripada penilaian singkat itu.

Kebutuhan ekonomi adalah dorongan paling nyata. Tidak semua seniman lahir dari keluarga mapan atau memiliki jaringan kuat. Banyak dari mereka hidup dari proyek ke proyek, tanpa kepastian penghasilan. Dalam kondisi seperti ini, pilihan bukan lagi antara idealisme dan uang, melainkan antara bertahan atau tumbang. Ketika dapur harus tetap mengepul dan tanggung jawab hidup menumpuk, prinsip sering diuji bukan di ruang teori, tetapi di meja makan.

Selain kebutuhan dasar, gaya hidup konsumtif juga memainkan peran besar. Industri hiburan membentuk standar sukses yang mahal: pakaian bermerek, kendaraan mewah, liburan eksotis, dan citra glamor. Publik figur tidak hanya dinilai dari karyanya, tetapi juga dari penampilannya. Tekanan untuk “terlihat berhasil” mendorong sebagian orang melangkah lebih jauh, mengambil tawaran apa pun selama bayarannya tinggi, meski harus mengorbankan rasa nyaman batin.

Di titik inilah batas menjadi kabur. Apakah seseorang benar-benar “melacurkan diri”, atau hanya mencoba bertahan dalam sistem yang memaksanya tampil sesuai ekspektasi?

Tekanan industri tidak kalah kejam. Dunia hiburan dan seni modern bekerja dengan logika pasar yang dingin. Popularitas bersifat sementara, tren bergerak cepat, dan ruang untuk idealisme sering kali sempit. Hari ini seseorang dielu-elukan, besok bisa dilupakan. Dalam situasi seperti ini, banyak seniman merasa harus terus ada di panggung, apa pun caranya, agar tidak tersingkir.

Bagi sebagian orang, menerima peran yang dangkal, iklan kontroversial, atau proyek yang bertentangan dengan nilai pribadi dianggap sebagai harga yang harus dibayar. Bukan karena mereka tidak punya prinsip, tetapi karena mereka takut kehilangan relevansi. Ketakutan itu sering lebih kuat daripada suara hati.

Namun, penting untuk membedakan antara pilihan sadar dan keterpaksaan struktural. Tidak semua tindakan “menjual diri” lahir dari keserakahan. Ada yang lahir dari keputusasaan. Ada pula yang muncul dari sistem yang tidak memberi banyak ruang bagi pilihan bermartabat. Ketika struktur sosial dan industri hanya menghargai hasil, bukan proses dan nilai, integritas menjadi barang mahal yang sulit dipertahankan.

Di sisi lain, kritik publik juga tidak selalu keliru. Ada kasus ketika seniman benar-benar menjadikan uang sebagai satu-satunya kompas. Ketika karya kehilangan makna, ketika suara kritik dibungkam demi sponsor, dan ketika nilai diperdagangkan secara sadar, maka istilah “melacurkan diri” menjadi refleksi kekecewaan kolektif. Publik merasa dikhianati, karena figur yang dulu diharapkan menjadi suara nurani justru larut dalam arus pragmatisme.

Masalahnya, kritik sering kali berubah menjadi cemoohan tanpa empati. Publik lupa bahwa seniman juga manusia biasa—punya kebutuhan, ketakutan, dan kelemahan. Menghakimi dari kejauhan jauh lebih mudah daripada memahami dari dekat.

Fenomena ini akhirnya membuka pertanyaan yang lebih besar: siapa yang sebenarnya paling bertanggung jawab? Individu yang mengambil keputusan sulit, atau sistem yang membuat keputusan bermartabat hampir mustahil? Apakah kita benar-benar ingin seniman tetap idealis, atau hanya ingin menikmati idealisme mereka tanpa peduli pada kesejahteraannya?

Mungkin, alih-alih sibuk menempelkan label, kita perlu membangun ruang yang lebih adil. Ruang di mana seniman bisa hidup layak tanpa harus menggadaikan nilai. Ruang di mana keberanian, kejujuran, dan integritas tidak selalu berakhir pada kemiskinan atau pengasingan.

Pada akhirnya, istilah “melacurkan diri” lebih sering mencerminkan kegelisahan sosial daripada kebenaran tunggal. Ia adalah cermin dari dunia yang menuntut segalanya—bakat, tubuh, pikiran, dan nilai—untuk ditukar dengan uang dan sorotan. Dalam dunia seperti itu, menjaga harga diri bukan perkara hitam-putih, melainkan perjuangan panjang yang sunyi.

Dan mungkin, yang paling manusiawi bukanlah menghakimi, melainkan bertanya: seandainya kita berada di posisi yang sama, pilihan apa yang benar-benar kita miliki?

 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 1843501730022519269

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close