Sajak-Sajak Kang Thohir, Brebes
Muhammad Thohir/Tahir (Mas Tair) yang dikenal dengan nama pena Kang Thohir, kelahiran Brebes, Jawa Tengah. Dari dusun/desa Kupu, kecamatan Wanasari. Dari anak seorang petani dan tinggal dari kehidupan sehari-hari bertani, berkebun, menanam bawang merah, padi, kacang, pare, cabai dan sayur-sayuran di ladang sawahnya.
Kini, aku sedang menggeluti dunia tulis menulis atau literasi, khususnya sastra Indonesia. Suka menulis sejak duduk di bangku kelas empat SD dan sampai masuk ke Pondok Pesantren. Aku masih tetap aktif menulis dan semakin semangat 'tuk menulis baik puisi maupun cerpen dan lain sebagainya yang aku tulis. Selain menulis aku juga suka membaca buku agar bisa bermanfaat untuk menambah wawasan (pengetahuan).
*****
Melawan Arus Jalan Terus
Ketika orang-orang sudah membenciku
Perihal tentang perilakuku
Entah dari sudut pandang yang berbeda orang yang menilaiku
Biarkan saja aku menyambutnya dengan rasa sahaja dan temu
Hem, meski tandus dan terjal aku akan melawan arus
Aku akan jalan terus
Brebes, 31 Agustus 2024
Memperhias Diri
Bahwa perhiasan diri adalah melatih diri dengan baik. Wanita yang baik adalah memberi arti kesederhanaan dalam berucap dan berhubungan sesama manusia dan menyenderhanakan pakaian ketika keluar rumah. Wanita kalau banyak perhiasan dan pakaian itu sukanya keluar rumah dan berhiaskan diri untuk orang lain.
Brebes, 31 Agustus 2024
Tersenyum Hahahaha
Entah orang menganggapku apa
Aku pun harus berdiam saja
Mau dibilang pamer, lebay, sok, dan validasi, ya enggak papa
Aku hanya tersenyum hahahaha
Begitu aku menatapnya dengan sabar
Dengan dada yang lebar
Dan hati harus tegar
Meskipun kadang bar-bar
Hem!
Entahlah
Brebes, 01 September 2024
Terus Menggantung
Adakalanya aku hanya menatap kesedihan
Mendamba pada angan bersambung
Melupakan tapi tak bisa melupakan
Entah seberapa lama aku begini yang terus menggantung
Lepas semua perasaan
Meski rasa itu telah retak
Meretak semua harapan
Membuat aku kecewa dan beranjak
Brebes, 01 September 2024
Bingung Pada Dunia
Entah aku percaya sama siapa
Aku bingung pada dunia
Menatap penuh dengan tipu daya
Hingga aku sulit membedakannya
Entah mengapa aku tak ada yang iba
Memandang aku dengan penuh dengki
Apakah aku tak pantas meminum bunga
Sehingga aku selalu dibenci?
Hem!
Brebes, 02 September 2024
Sajak Kopi Pilu
Di pelataran rerelungan hatiku yang retak
Kuutarakan pada selembar kertas di meja kayu hitam
Ditemani oleh kopi dan kumulai menulis sajak
Aku pun terhanyut kian tengelam
Adakalanya aku seperti angin yang lalu
Agar fikiranku tak halu
Pada cinta di masa lalu
Kini akhirnya kuterjebak hati yang kian pilu
Brebes, 02 September 2024
Mengetes Kejujuran
Mengetes kejujuran seseorang
Dengan memberi sesuatu untuk diamanahkan
Kadang dengan berpura-pura
Untuk mengetes seberapa jujur dia
Eh, ternyata benar
Dia tidak jujur
Hingga kepercayaanku hancur
Dan aku tinggalkan dia
Dengan menjauhinya
Hem, manusia ternyata lebih mementingkan perutnya daripada dosa
Hem, entahlah
Brebes, 02 September 2024
Batik Seni Yang Menarik
Batik seni yang menarik
Untuk dikenang dan diwariskan
Menjelma angan menjadi rindu kian antik dan simpatik
Hingga tradisi menyambut budi pekerti yang baik
Brebes, 02 September 2024
Tak Menengok
Ketika dipanggil-panggil tidak berhenti
Itu bukan berarti aku sombong
Lantaran karena kecewa dan sakit hati
Membuat aku tak bombong
Ya, memang aku sering tak menengok
Ketika aku lewat pasar Ketimbreng
Ada yang manggil-manggil aku tak melongok
Aku pun naik motor dengan melaju kenceng
Brebes, 03 September 2024
Hujan Deras Di Waktu Senja
Hujan deras di waktu senja
Asa kian menggebu semangat
Menangkap semua kesejukan yang ada
Dengan hati penuh hangat
Mengecap indahnya kesejukan
Menyegarkan seluruh pepohonan
Bau patrikor yang semerbak
Membuat wangi suasana 'tuk beranjak
Menyepi heningnya suasana
Aku menatap penuh kerinduan
Dengan demikian aku masih merasakan
Bahwa dimoment-moment ini seperti mengobati suatu kenangan
Brebes, 05 September 2024





