Setia pada Kata: Konsistensi dan Inkonsistensi dalam Komunikasi Manusia


Konsistensi bukan sekadar soal kesetiaan pada pendirian, melainkan fondasi etis yang menentukan kualitas hubungan antarmanusia. Dalam komunikasi sehari-hari—baik personal, sosial, maupun profesional—konsistensi membangun kepercayaan, sementara inkonsistensi melahirkan keraguan, konflik, dan jarak. Artikel ini mengulas secara mendalam makna, bentuk, dampak, dan tantangan konsistensi serta inkonsistensi dalam komunikasi manusia, lengkap dengan refleksi praksis yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

*****

Dalam kehidupan sosial, manusia tak pernah lepas dari komunikasi. Setiap kata yang diucapkan, sikap yang ditunjukkan, dan keputusan yang diambil adalah pesan—baik tersurat maupun tersirat—yang dibaca dan ditafsirkan oleh orang lain. Di titik inilah konsistensi memainkan peran sentral. Konsistensi sebuah perbuatan menjadi karakter seseorang; ia menandai keteguhan, tanggung jawab, dan kejujuran. Orang yang konsisten cenderung taat asas, ajek, selaras antara kata dan tindakan, serta dapat dipercaya karena tidak berbohong dan tidak mengingkari komitmen.

Sebaliknya, inkonsistensi—ketika kata dan tindakan tidak sejalan—kerap memunculkan abai, menyepelekan, ketidaktaatan, dan kebohongan. Dalam komunikasi, inkonsistensi bukan sekadar kekeliruan kecil; ia dapat merusak relasi, menurunkan kredibilitas, dan menggerogoti kepercayaan yang telah dibangun lama. Artikel ini mencoba mengurai secara komprehensif bagaimana konsistensi dan inkonsistensi bekerja dalam komunikasi antarmanusia, dampaknya bagi individu dan masyarakat, serta upaya menumbuhkan konsistensi sebagai sikap hidup.

Memahami Konsistensi: Lebih dari Sekadar Tidak Berubah

Konsistensi sering dipahami sebagai sikap “tidak berubah-ubah”. Namun, pemahaman ini terlalu sempit. Konsistensi sejati adalah keselarasan antara nilai, ucapan, dan tindakan. Seseorang boleh berubah pendapat seiring bertambahnya pengetahuan dan pengalaman, tetapi perubahan itu dilakukan secara jujur, bertanggung jawab, dan dapat dijelaskan. Konsistensi bukanlah kekakuan, melainkan kesetiaan pada prinsip yang disepakati dan nilai yang diyakini.

Dalam komunikasi, konsistensi tampak ketika seseorang menyampaikan pesan yang sama dalam berbagai situasi, menepati janji, serta bersikap adil terhadap siapa pun. Ia tidak berkata A di depan, lalu melakukan B di belakang. Konsistensi juga mencakup stabilitas emosi dan respons; orang yang konsisten tidak mudah terombang-ambing oleh tekanan atau kepentingan sesaat.

Konsistensi sebagai Pondasi Kepercayaan

Kepercayaan adalah mata uang utama dalam hubungan manusia. Ia tidak dibangun oleh retorika indah, melainkan oleh rekam jejak tindakan yang konsisten. Ketika seseorang berulang kali menepati kata-katanya, orang lain belajar untuk mempercayainya. Dalam konteks keluarga, konsistensi orang tua dalam aturan dan teladan membentuk rasa aman pada anak. Dalam pertemanan, konsistensi menghadirkan rasa saling menghargai. Dalam dunia kerja, konsistensi pemimpin melahirkan loyalitas dan kinerja.

Komunikasi yang konsisten juga mengurangi ambiguitas. Pesan yang disampaikan dengan jelas dan diikuti tindakan nyata membuat penerima pesan memahami ekspektasi dan batasan. Sebaliknya, komunikasi yang berubah-ubah memicu salah tafsir, prasangka, dan konflik.

Inkonsistensi: Retak Halus dalam Relasi

Inkonsistensi sering kali muncul dalam bentuk yang tampak sepele: janji yang ditunda tanpa alasan jelas, aturan yang diterapkan tebang pilih, atau pernyataan yang bertentangan dari waktu ke waktu. Namun, akumulasi dari hal-hal kecil ini dapat menjadi retakan besar dalam relasi.

Dalam komunikasi, inkonsistensi dapat bersumber dari beberapa hal: kepentingan pribadi, ketakutan akan konsekuensi, kurangnya refleksi diri, atau sekadar kebiasaan abai. Seseorang mungkin mengatakan hal yang menyenangkan pendengar, tetapi bertindak sebaliknya ketika situasi berubah. Inkonsistensi semacam ini melahirkan ketidakpercayaan dan kecurigaan.

Lebih jauh, inkonsistensi juga dapat bersifat struktural—misalnya dalam organisasi atau institusi. Ketika kebijakan berubah tanpa penjelasan yang transparan, atau aturan ditegakkan secara tidak adil, komunikasi institusional kehilangan legitimasi.

Konsistensi dalam Bahasa dan Sikap

Bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan cermin karakter. Konsistensi bahasa tercermin dari pilihan kata yang jujur, tidak manipulatif, dan bertanggung jawab. Orang yang konsisten berhati-hati dalam berucap karena menyadari bahwa kata adalah janji. Ia tidak mudah mengumbar pernyataan yang tidak sanggup dipertanggungjawabkan.

Sikap pun demikian. Bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan intonasi suara harus selaras dengan pesan verbal. Ketika seseorang mengatakan “saya mendukung” tetapi raut wajahnya menolak, pesan menjadi kontradiktif. Konsistensi antara bahasa dan sikap memperkuat makna dan kepercayaan.

Media Sosial: Ujian Konsistensi di Era Digital

Era digital menghadirkan tantangan baru bagi konsistensi. Media sosial memungkinkan seseorang menampilkan citra tertentu yang belum tentu sejalan dengan perilaku nyata. Di ruang ini, inkonsistensi mudah terjadi: nilai yang dikhotbahkan di lini masa tidak tercermin dalam tindakan sehari-hari.

Komunikasi digital juga mempercepat penyebaran kontradiksi. Pernyataan yang berbeda di waktu dan platform berbeda dapat dengan mudah dibandingkan dan dipersoalkan. Karena itu, konsistensi menjadi semakin penting. Integritas digital—keselarasan antara persona daring dan luring—menjadi ukuran baru kejujuran.

Konsistensi dalam Konflik dan Perbedaan Pendapat

Konflik adalah keniscayaan dalam komunikasi manusia. Konsistensi tidak berarti menghindari konflik, melainkan bersikap adil dan berprinsip saat konflik terjadi. Orang yang konsisten tetap menghormati lawan bicara, tidak mengubah standar moral demi memenangkan argumen, dan bersedia mengakui kesalahan.

Inkonsistensi dalam konflik sering tampak ketika seseorang mengubah narasi, menyalahkan pihak lain, atau memanipulasi fakta. Praktik ini mungkin memberi kemenangan sesaat, tetapi merusak relasi jangka panjang.

Dampak Psikologis Konsistensi dan Inkonsistensi

Secara psikologis, konsistensi memberikan rasa stabil dan aman—baik bagi pelaku maupun penerima komunikasi. Orang yang konsisten cenderung memiliki kejelasan identitas dan integritas diri. Ia tidak terpecah antara apa yang diyakini dan apa yang dilakukan.

Sebaliknya, inkonsistensi dapat memicu kecemasan, rasa bersalah, dan konflik batin. Bagi penerima komunikasi, inkonsistensi orang lain menimbulkan kebingungan dan ketidakpastian. Dalam jangka panjang, ini dapat merusak kesehatan mental dan kualitas hubungan.

Mendidik Konsistensi Sejak Dini

Konsistensi bukan sifat bawaan; ia dipelajari dan dilatih. Pendidikan—di rumah, sekolah, dan masyarakat—memiliki peran penting dalam menanamkan konsistensi. Anak belajar dari teladan. Ketika aturan ditegakkan dengan adil dan komunikasi dilakukan dengan jujur, konsistensi tumbuh secara alami.

Sebaliknya, keteladanan yang inkonsisten mengajarkan relativisme nilai: bahwa kata bisa diubah sesuai situasi, dan komitmen bisa dinegosiasikan demi kenyamanan.

Menumbuhkan Konsistensi dalam Diri

Menjadi konsisten membutuhkan kesadaran dan keberanian. Beberapa langkah yang dapat ditempuh antara lain: mengenali nilai inti diri, berhati-hati dalam berjanji, berani berkata jujur meski tidak populer, serta melakukan refleksi rutin atas kata dan tindakan. Konsistensi juga menuntut kerendahan hati untuk mengakui perubahan secara terbuka ketika memang diperlukan.

Penting pula membedakan antara konsistensi dan keras kepala. Konsistensi yang sehat selalu membuka ruang dialog dan pembelajaran.

Inkonsistensi sebagai Cermin Masalah Etis

Ketika inkonsistensi menjadi pola, ia mencerminkan masalah etis. Dalam komunikasi publik, inkonsistensi pejabat atau tokoh berpengaruh dapat menurunkan kepercayaan sosial. Dalam skala kecil, inkonsistensi individu merusak reputasi personal. Karena itu, konsistensi bukan hanya persoalan pribadi, melainkan tanggung jawab sosial.

Penutup: Setia pada Kata, Setia pada Diri

Pada akhirnya, konsistensi adalah bentuk kesetiaan—pada kata, pada nilai, dan pada diri sendiri. Dalam komunikasi antarmanusia, konsistensi menjembatani niat dan dampak, membangun kepercayaan, serta memelihara martabat. Inkonsistensi mungkin menawarkan jalan pintas, tetapi ia selalu berbiaya mahal.

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, konsistensi menjadi sikap yang semakin langka sekaligus semakin berharga. Dengan memilih untuk konsisten, manusia tidak hanya memperbaiki kualitas komunikasinya, tetapi juga memperkukuh kemanusiaannya sendiri.

(Rulis, dari beberapa sumber)

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 4763009518880688672

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close