Di Tanah Garam: Kearifan Lokal Sumenep di Persimpangan Zaman Digital

Banghiban (bawaan) salah satu kearifan Sumenep yang hampir punah

Sumenep, di ujung timur Pulau Madura, pernah dikenal sebagai ruang yang tenang. Desa-desa hidup dengan ritme alam: musim hujan menentukan tanam, musim kemarau menentukan panen garam dan tembakau. Pagi hari dibuka dengan suara kentongan, azan subuh, dan langkah kaki menuju sawah atau laut. Anak-anak tumbuh di antara halaman rumah, langgar kecil, dan cerita-cerita tua yang diwariskan dari mulut ke mulut.

Namun hari ini, suasana itu pelan-pelan berubah. Di desa-desa Sumenep—baik di daratan maupun kepulauan—layar gawai mulai mengambil alih ruang-ruang sunyi. Teknologi digital hadir bukan hanya di kota kecamatan, tetapi juga di dusun terpencil, menyentuh anak-anak nelayan, petani, dan santri. Ia membawa dunia luar ke dalam genggaman, sekaligus mengguncang nilai-nilai lokal yang selama ini menjaga keseimbangan hidup masyarakat Madura.

Sumenep dan Lanskap Budaya Tradisional

Budaya Madura di Sumenep memiliki ciri khas yang kuat: religius, berakar pada tradisi, dan menjunjung tinggi tata krama. Di desa-desa, prinsip bhuppa’, bhâbhu’, ghuru, rato masih menjadi pedoman hidup. Kiai dan pesantren memegang peran sentral, tidak hanya dalam urusan agama, tetapi juga sosial dan moral.

Bahasa Madura—dengan tingkat tutur halus dan kasar—menjadi penanda etika. Anak-anak diajari sejak kecil bagaimana berbicara kepada orang tua, guru, dan tamu. Ada rasa maloh (malu) yang menjadi benteng moral: malu berkata kasar, malu melanggar norma, malu mencederai martabat keluarga.

Tradisi seperti selamatan desa, rokat bhumi, rokat tase’, hingga ziarah makam leluhur masih dijalankan di banyak wilayah Sumenep. Semua itu bukan sekadar seremoni, melainkan cara masyarakat menjaga hubungan dengan alam, leluhur, dan Tuhan.

Namun tradisi ini kini berdiri berhadapan dengan dunia baru yang bergerak cepat dan nyaris tanpa jeda.

Teknologi Masuk ke Desa

Masuknya jaringan internet hingga pelosok Sumenep membawa perubahan besar. Di satu sisi, ia membuka akses informasi dan pendidikan. Anak-anak desa kini bisa belajar dari video daring, berkomunikasi dengan dunia luar, dan mengenal berbagai kemungkinan masa depan.

Tetapi di sisi lain, teknologi digital masuk tanpa disertai literasi budaya yang memadai. Gawai sering menjadi “pengasuh baru” di rumah. Anak-anak lebih akrab dengan tokoh media sosial daripada tokoh lokal. Waktu berkumpul di teras, mendengar cerita orang tua, atau membantu pekerjaan rumah perlahan tergeser oleh waktu layar.

Di beberapa desa, anak-anak duduk berjejer di warung kopi, bukan untuk berbincang, tetapi untuk bermain gim daring. Remaja lebih sering mengurung diri di kamar, tenggelam dalam dunia virtual yang jauh dari realitas sosial sekitarnya. Interaksi antarwarga yang dulu hangat mulai terasa renggang.

Kearifan Lokal yang Mulai Terlupakan

Di Sumenep, kearifan lokal tumbuh dari pengalaman panjang hidup bersama alam. Petani mengenal tanda-tanda musim, nelayan membaca angin dan bintang, masyarakat desa memahami batas antara kebutuhan dan keserakahan. Semua itu diwariskan melalui cerita, petuah, dan praktik sehari-hari.

Kini, pengetahuan itu jarang lagi menjadi rujukan utama. Anak-anak lebih percaya ramalan cuaca di layar daripada nasihat orang tua. Tradisi kerja bersama mulai tergantikan oleh logika individual. Gotong royong masih ada, tetapi tidak sekuat dulu.

Cerita rakyat Sumenep—tentang asal-usul desa, tokoh bijak, dan peristiwa penting—makin jarang diceritakan. Padahal cerita-cerita itu menyimpan nilai keberanian, kesetiaan, dan tanggung jawab sosial. Ketika cerita hilang, nilai ikut menghilang.

Dampak pada Kehidupan Sosial dan Batin

Perubahan ini tidak selalu terlihat secara kasatmata, tetapi dampaknya terasa dalam kehidupan batin masyarakat. Di beberapa desa Sumenep, orang tua mulai mengeluhkan anak-anak yang sulit diajak bicara, mudah tersinggung, dan kurang peka terhadap lingkungan sekitar.

Bahasa Madura halus mulai jarang digunakan oleh generasi muda. Mereka lebih nyaman menggunakan bahasa campuran yang dipengaruhi media sosial. Hilangnya bahasa halus bukan sekadar soal linguistik, tetapi hilangnya sistem etika yang mengatur relasi sosial.

Di sisi lain, tekanan dunia digital juga memengaruhi psikologis remaja desa. Mereka membandingkan hidup sederhana mereka dengan kehidupan glamor yang dilihat di layar. Muncul rasa rendah diri, kegelisahan, dan kebingungan identitas—sesuatu yang dulu jarang ditemukan di masyarakat tradisional yang kuat ikatan sosialnya.

Pesantren, Agama, dan Tantangan Zaman

Pesantren di Sumenep selama ini menjadi benteng nilai. Di sanalah kearifan lokal Madura bertemu dengan ajaran agama, membentuk karakter santri yang tawaduk, sabar, dan bertanggung jawab. Namun dunia digital membawa tantangan baru bahkan ke lingkungan pesantren.

Informasi keagamaan datang dari berbagai arah, sering kali tanpa konteks budaya Madura. Nilai-nilai lokal yang selama ini menjadi jembatan pemahaman agama mulai terdesak oleh cara pandang instan dan kaku. Jika tidak disikapi secara arif, hal ini berpotensi memutus kesinambungan tradisi keilmuan dan kebijaksanaan lokal.

Desa Sumenep di Persimpangan Jalan

Desa-desa di Sumenep kini berada di persimpangan jalan. Menutup diri dari teknologi bukan pilihan, tetapi menerima tanpa filter juga berisiko besar. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan teknologi sebagai sarana penguat budaya, bukan perusaknya.

Teknologi bisa dimanfaatkan untuk mendokumentasikan tradisi desa, merekam cerita para sesepuh, dan mengajarkan bahasa Madura kepada generasi muda. Sekolah dan pesantren dapat menjadi ruang penting untuk menanamkan literasi digital yang berakar pada nilai lokal.

Keluarga memegang peran kunci. Rumah harus kembali menjadi ruang dialog, bukan sekadar tempat berkumpul dengan gawai masing-masing. Orang tua perlu menjadi teladan dalam menggunakan teknologi secara bijak, tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaan.

Menjaga Martabat Orang Madura

Martabat adalah kata kunci dalam budaya Madura. Di Sumenep, martabat tidak diukur dari kekayaan atau popularitas, tetapi dari sikap hidup: bagaimana seseorang menjaga tutur kata, menghormati orang lain, dan bertanggung jawab pada komunitasnya.

Kearifan lokal adalah fondasi martabat itu. Jika nilai-nilai ini runtuh, maka generasi muda akan kehilangan pijakan moral. Mereka mungkin mahir teknologi, tetapi rapuh secara karakter.

Di desa-desa Sumenep, antara ladang garam, sawah, dan laut, kearifan lokal Madura sesungguhnya masih hidup—meski mulai terdesak. Tantangan zaman digital tidak harus dimaknai sebagai ancaman, tetapi sebagai ujian kesadaran.

Apakah kita akan membiarkan layar memadamkan ingatan kolektif, atau menjadikannya alat untuk merawat nilai-nilai luhur yang telah diwariskan? Masa depan Madura, khususnya Sumenep, bergantung pada jawaban itu.

Sebab menjaga kearifan lokal bukan berarti menolak masa depan, melainkan memastikan bahwa ketika melangkah maju, kita tidak kehilangan arah—dan tetap mengenali diri sendiri di tanah kelahiran.

 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 4228435179537396019

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close