Di Antara Layar dan Lumbung Ingatan: Kearifan Lokal yang Perlahan Terlupa


Di banyak rumah hari ini, cahaya bukan lagi datang dari lampu minyak atau matahari pagi yang menyelinap lewat celah jendela bambu. Ia memancar dari layar—kecil, terang, dan nyaris tak pernah padam. Dari ruang tamu hingga kamar tidur, dari sekolah sampai balai desa, teknologi digital telah menjadi tamu tetap yang tak pernah diusir. Media sosial, gawai, dan berbagai aplikasi informasi menjanjikan kemudahan, kecepatan, dan hiburan tanpa batas. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang pelan-pelan tergerus: ingatan kolektif tentang kearifan lokal, nilai-nilai yang diwariskan nenek moyang, dan cara hidup yang dulu menjaga harmoni antara manusia, alam, dan batin.

Narasi Persoalan

Suatu sore di sebuah desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota, sekelompok anak duduk berjejer di teras rumah panggung. Bukan bermain petak umpet atau mendengar dongeng dari orang tua seperti generasi sebelumnya, melainkan sibuk menunduk menatap layar ponsel. Jari-jemari mereka lincah menggulir, tertawa sendiri, lalu kembali tenggelam dalam dunia yang tak kasatmata. Di sudut lain, seorang kakek duduk sendiri, memandangi sawah yang mulai menguning. Ia seolah menunggu sesuatu—mungkin percakapan, mungkin perhatian, atau sekadar kehadiran manusia yang mau mendengar kisah lama tentang tanah, musim, dan hidup yang sabar.

Fenomena ini bukan sekadar potret satu desa. Ia terjadi hampir di seluruh wilayah, dari kota besar hingga pelosok terpencil. Teknologi digital merambah tanpa permisi, mengubah pola interaksi sosial, cara belajar, bahkan cara memandang hidup. Anak-anak dan remaja menjadi kelompok paling rentan. Mereka tumbuh dalam dunia serba cepat, instan, dan visual, sementara nilai-nilai kearifan lokal membutuhkan waktu, kesabaran, dan kedekatan antarmanusia untuk dipahami.

Teknologi sebagai Pedang Bermata Dua

Tak dapat disangkal, teknologi informasi membawa banyak manfaat. Akses pendidikan terbuka luas, informasi mudah didapat, dan jarak geografis tak lagi menjadi penghalang komunikasi. Di daerah terpencil, internet bisa menjadi jendela dunia, membuka wawasan dan peluang yang sebelumnya mustahil dijangkau.

Namun persoalan muncul ketika teknologi tak lagi menjadi alat, melainkan tujuan. Ketika gawai bukan sekadar sarana belajar, tetapi candu. Ketika media sosial bukan lagi ruang berbagi, melainkan arena pembentukan identitas semu yang rapuh. Dalam kondisi ini, nilai-nilai lokal yang bersumber dari pengalaman hidup, tradisi, dan kearifan komunitas mulai terpinggirkan.

Anak-anak lebih mengenal tokoh viral daripada pahlawan lokal. Remaja lebih fasih bahasa tren digital ketimbang bahasa ibu. Upacara adat dianggap kuno, cerita rakyat dilabeli tak relevan, dan petuah orang tua sering kalah pamor dibandingkan konten singkat berdurasi beberapa detik.

Kearifan Lokal: Warisan yang Tak Sekadar Tradisi

Kearifan lokal bukan sekadar ritual atau kebiasaan lama yang diwariskan turun-temurun. Ia adalah sistem nilai yang terbentuk dari relasi panjang manusia dengan alam, lingkungan sosial, dan kehidupan batin. Dalam banyak budaya daerah, kearifan lokal mengajarkan keseimbangan: bagaimana berbicara dengan santun, bekerja dengan jujur, hidup selaras dengan alam, dan menjaga hubungan dengan Yang Maha Kuasa.

Di desa-desa, nilai gotong royong dulu menjadi napas kehidupan. Membangun rumah, mengolah sawah, hingga menyelenggarakan hajatan dilakukan bersama. Ada rasa memiliki dan tanggung jawab kolektif. Kini, perlahan nilai itu memudar. Individualisme digital menyelinap, menggantikan kebersamaan dengan kesendirian yang ramai.

Cerita rakyat, tembang daerah, petuah adat, dan simbol-simbol budaya sejatinya adalah “buku hidup” yang mengajarkan etika, moral, dan kebijaksanaan. Sayangnya, buku-buku itu jarang lagi dibuka. Mereka kalah oleh layar yang selalu menyala.

Dampak pada Kehidupan Sosial dan Batin

Perubahan ini tak hanya berdampak pada aspek sosial, tetapi juga kehidupan batin. Ketika anak-anak tumbuh tanpa pijakan nilai yang kuat, mereka mudah goyah. Dunia digital menawarkan pengakuan instan: jumlah suka, komentar, dan pengikut. Namun ia jarang mengajarkan makna, kesabaran, dan kedalaman.

Di banyak daerah, mulai muncul kegelisahan baru: anak-anak yang sulit berkomunikasi secara langsung, remaja yang kehilangan empati, dan generasi muda yang merasa asing di tanah kelahirannya sendiri. Mereka tahu dunia luar, tetapi tak mengenal akar sendiri.

Alam pun merasakan dampaknya. Kearifan lokal yang dulu mengatur hubungan manusia dengan lingkungan—tentang waktu tanam, larangan merusak hutan, atau penghormatan pada sumber air—perlahan dilupakan. Akibatnya, eksploitasi terjadi tanpa kendali, dan bencana ekologis menjadi tamu yang semakin sering datang.

Agama, Kearifan Lokal, dan Teknologi

Sebagai ajaran, agama dan kearifan lokal sejatinya berjalan beriringan. Keduanya mengajarkan nilai luhur: keadilan, kasih sayang, keseimbangan, dan tanggung jawab. Kearifan lokal menjadi medium konkret bagaimana nilai-nilai itu dijalankan dalam konteks budaya dan lingkungan setempat.

Teknologi seharusnya bisa menjadi jembatan, bukan jurang. Ia bisa digunakan untuk mendokumentasikan tradisi, menyebarkan cerita rakyat, menghidupkan kembali bahasa daerah, dan memperkenalkan nilai lokal kepada generasi muda dengan cara yang relevan. Namun ini membutuhkan kesadaran, pendampingan, dan kebijakan yang berpihak pada kebudayaan.

Masyarakat Daerah di Persimpangan Jalan

Masyarakat di wilayah daerah hingga pelosok kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, mereka tak bisa menolak arus digitalisasi. Di sisi lain, jika tak hati-hati, mereka bisa kehilangan jati diri. Persoalannya bukan memilih antara teknologi atau tradisi, melainkan bagaimana merajut keduanya agar saling menguatkan.

Peran keluarga menjadi sangat penting. Rumah bukan hanya tempat mengisi daya gawai, tetapi juga ruang dialog antar generasi. Sekolah bukan sekadar tempat mengajar kurikulum nasional, tetapi juga ladang menanamkan nilai lokal. Masyarakat dan tokoh adat perlu diberi ruang untuk tetap bersuara di tengah gemuruh dunia digital.

Menjaga Lumbung Ingatan

Kearifan lokal ibarat lumbung ingatan. Ia menyimpan pengetahuan tentang cara hidup yang beradab, selaras, dan manusiawi. Jika lumbung ini dibiarkan kosong, generasi mendatang akan tumbuh tanpa bekal moral dan identitas yang jelas.

Teknologi akan terus berkembang, itu keniscayaan. Namun manusia tetap membutuhkan akar. Tanpa akar, pohon setinggi apa pun mudah tumbang. Anak-anak dan remaja perlu dikenalkan kembali pada cerita asal-usul, pada bahasa ibu, pada nilai kebersamaan, dan pada kesadaran bahwa hidup bukan hanya tentang kecepatan, tetapi juga tentang makna.

Di antara layar yang menyala dan ingatan yang meredup, kita dihadapkan pada pilihan penting: membiarkan kearifan lokal menjadi artefak masa lalu, atau merawatnya sebagai cahaya penuntun masa depan. Teknologi tidak harus menjadi musuh. Ia bisa menjadi sahabat, jika diarahkan dengan bijak.

Masyarakat daerah hingga pelosok terpencil menyimpan kekayaan nilai yang tak ternilai. Tugas kita bersama—orang tua, pendidik, pemimpin, dan generasi muda—adalah menjaga agar kekayaan itu tetap hidup, berdenyut, dan relevan. Sebab di sanalah letak keberadaban manusia: pada kemampuan mengingat asal-usul, sambil melangkah ke masa depan dengan penuh kesadaran.

(Redaksi) 

 

 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 4655798567785433493

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close