Inflasi Kata “Festival” di Sumenep: Meriah di Nama, Kosong di Makna?


Fenomena pelabelan hampir setiap kegiatan sebagai “festival” di Sumenep menunjukkan gejala inflasi makna: istilah yang seharusnya sakral dan berkelas justru dipakai secara serampangan. Tulisan ini mengkritik dengan nada ironis dan sarkastis, sekaligus mengajak kembali pada esensi kegiatan sosial yang bermakna, bukan sekadar kemeriahan istilah
.

Belakangan ini, sebuah flyer kegiatan bertajuk “Festival Berbagi Takjil” beredar di Sumenep. Sekilas terdengar indah, bahkan megah. Namun, di balik kemegahan kata itu, muncul pertanyaan sederhana: sejak kapan berbagi takjil membutuhkan label festival agar terasa bernilai?

Sumenep tampaknya sedang mengalami satu gejala linguistik yang menarik sekaligus menggelitik: inflasi kata “festival”. Seolah-olah sebuah kegiatan belum sah, belum layak dipublikasikan, dan belum pantas didokumentasikan jika tidak dibumbui kata yang terdengar megah tersebut. Tanpa festival, acara terasa hambar. Tanpa festival, kegiatan seakan kehilangan roh. Tanpa festival, publikasi seperti kurang “estetis”.

Akhirnya, dikit-dikit festival. Ada kegiatan kecil? Festival. Ada aksi sosial? Festival. Ada pembagian makanan? Festival. Bahkan kegiatan yang sejatinya sederhana dan tulus pun kini harus difestivalkan, agar terdengar lebih wah dan lebih layak diunggah ke media sosial.

Padahal, secara makna, festival bukanlah sekadar keramaian dadakan yang diberi spanduk. Festival adalah perayaan besar, terencana, memiliki nilai budaya, sosial, atau artistik yang kuat, dan melibatkan partisipasi publik secara luas. Ia bukan sekadar nama tempelan agar kegiatan terlihat prestisius. Ketika kata festival dipakai untuk segala hal, maka ia tidak lagi istimewa. Ia hanya menjadi jargon.

Ironisnya, semangat memfestivalisasi ini justru berpotensi mengaburkan substansi. Berbagi takjil adalah tindakan sosial yang luhur, sederhana, dan penuh makna spiritual. Ia lahir dari empati, bukan dari panggung. Namun ketika dibingkai sebagai festival, yang menonjol bukan lagi nilai berbagi, melainkan kemasan acaranya. Fokus bergeser: dari ketulusan ke tampilan, dari manfaat ke branding.

Jika logika ini terus dipertahankan, maka tidak ada batas lagi. Mengapa berhenti di festival takjil? Sekalian saja kita ciptakan Festival Jalan Berlubang, agar kerusakan infrastruktur terasa lebih meriah. Atau Festival Antrean Terpanjang, supaya pelayanan publik tampak dramatis. Bahkan mungkin Festival Janji Terindah, khusus untuk mengarsipkan retorika yang paling puitis saat musim kampanye.

Lebih satir lagi, kita bisa membayangkan Festival Masalah yang Tak Pernah Selesai. Panggungnya luas, pesertanya banyak, temanya berulang setiap tahun, dan dokumentasinya selalu rapi. Bukankah itu lebih konsisten daripada sekadar menempelkan kata festival pada kegiatan yang sebenarnya biasa saja?

Fenomena ini seolah menunjukkan bahwa yang dicari bukan lagi kedalaman kegiatan, melainkan gemanya. Yang penting terdengar meriah, terlihat besar, dan terdokumentasi dengan baik. Substansi bisa menyusul belakangan, atau bahkan tidak perlu sama sekali. Yang utama adalah impresi.

Padahal, sebuah kegiatan sosial tidak memerlukan istilah besar untuk menjadi bermakna. Berbagi takjil tanpa label festival tetaplah mulia. Kegiatan literasi tanpa embel-embel festival tetaplah penting. Kerja-kerja komunitas tanpa panggung festival tetaplah berdampak. Bahkan sering kali, kegiatan yang jujur pada kesederhanaannya justru lebih membumi dan berkesan.

Kegemaran menggunakan kata festival secara berlebihan juga berisiko menciptakan banalitas makna. Ketika semua hal disebut festival, maka festival kehilangan eksklusivitasnya. Ia tidak lagi menjadi puncak perayaan, melainkan sekadar nama acara. Lama-kelamaan, publik pun menjadi kebal: kata besar tidak lagi memunculkan ekspektasi besar, karena sudah terlalu sering dipakai untuk hal-hal yang biasa.

Di sisi lain, penggunaan istilah yang bombastis bisa menjadi cerminan dari budaya seremoni yang lebih mementingkan tampilan daripada dampak. Seolah-olah sebuah kegiatan akan terasa lebih sukses jika terdengar megah di poster, meski realitasnya sederhana di lapangan. Ini bukan soal salah atau benar, melainkan soal proporsi dan ketepatan makna.

Kritik ini tentu bukan ditujukan pada semangat berbagi, apalagi pada nilai sosial dari kegiatan tersebut. Berbagi tetaplah tindakan terpuji. Namun yang patut dipertanyakan adalah kecenderungan membungkus setiap hal dengan istilah yang terlalu besar, seakan-akan kesederhanaan adalah sesuatu yang kurang layak dipromosikan.

Sumenep sejatinya memiliki kekayaan budaya, tradisi, dan sejarah yang sangat layak difestivalkan dalam arti yang sesungguhnya. Festival budaya, festival kesenian, festival literasi, atau festival tradisi lokal adalah ruang yang tepat bagi kata festival untuk berdiri tegak dengan maknanya. Bukan sekadar label kosmetik, tetapi perayaan yang benar-benar memiliki kedalaman nilai.

Karena itu, mungkin yang perlu dievaluasi bukan semangat berkegiatan, melainkan kejujuran dalam penamaan. Tidak semua kegiatan harus menjadi festival agar dianggap penting. Tidak semua acara perlu terdengar megah agar diakui kebermanfaatannya.

Justru ada keanggunan tersendiri dalam kesederhanaan. Ada ketulusan dalam kegiatan yang tidak dipoles berlebihan. Dan ada makna yang lebih kuat ketika sebuah acara dinamai sesuai dengan esensinya, bukan sesuai dengan ambisi estetikanya.

Jika tidak, kita akan terus terjebak dalam euforia istilah: meriah di nama, tetapi biasa di makna. Ramai di poster, tetapi datar di dampak. Dan pada akhirnya, kata “festival” hanya akan menjadi bunyi yang berisik, bukan lagi perayaan yang berarti.

Barangkali sudah saatnya Sumenep tidak sekadar gemar merancang festival, tetapi juga merawat makna. Sebab sebuah daerah tidak akan kehilangan rohnya hanya karena tidak memfestivalisasi segalanya. Justru ia akan kehilangan ruh ketika makna dikalahkan oleh kemasan, dan substansi tenggelam dalam gemuruh istilah yang terlalu sering dipakai.

(Redaksi/Syaf)

 

 

 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 2058179554355841832

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close