Menunggu Magrib dengan Cerita: Ragam Tradisi Anak Muda Menyambut Buka Puasa di Berbagai Daerah

"Nyare Malem" seraya belanja takjil di pasar Ramadhan Sumenep 

Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang cara-cara khas masyarakat di berbagai daerah dalam menanti azan Magrib. Di tangan kalangan muda, waktu menjelang berbuka berubah menjadi ruang ekspresi: ada yang berjalan santai menyusuri kota, ada yang berburu takjil, ada pula yang menghidupkan permainan dan tradisi lokal. Dari ngabuburit di tanah Sunda hingga nyare malem di Madura, senja Ramadan menghadirkan wajah Indonesia yang hangat, kreatif, dan penuh kebersamaan.

Ramadan selalu datang membawa suasana berbeda. Sejak pagi, ritme hidup terasa lebih pelan. Namun justru menjelang sore, denyut kehidupan seperti menemukan nadinya kembali. Langit yang mulai menguning, aroma gorengan yang menguar dari dapur-dapur rumah, serta langkah kaki yang bergegas menuju masjid atau pusat keramaian, menjadi lanskap khas yang berulang setiap tahun.

Di berbagai daerah di Indonesia, ada satu momen yang selalu dinanti, terutama oleh kalangan muda: waktu menunggu berbuka puasa. Waktu yang oleh sebagian orang disebut sebagai saat paling berat, justru diolah menjadi ruang kreatif untuk berkegiatan. “Membunuh waktu” bukan dalam arti sia-sia, melainkan mengisinya dengan kebersamaan, canda, dan tradisi yang mengakar kuat dalam budaya lokal.

Ngabuburit: Senja yang Dirayakan di Tanah Sunda

Di wilayah Jawa Barat, istilah ngabuburit sudah begitu populer hingga dikenal secara nasional. Kata ini berasal dari bahasa Sunda yang merujuk pada kegiatan menunggu waktu Magrib. Di kota-kota seperti Bandung, ngabuburit menjadi fenomena sosial yang semarak.

Anak-anak muda berkumpul di alun-alun, taman kota, atau sepanjang jalan yang dipenuhi pedagang takjil. Ada yang sekadar berjalan santai, berburu kolak dan es buah, ada pula yang memainkan musik akustik di sudut-sudut taman. Beberapa komunitas literasi menggelar baca puisi Ramadan, sementara kelompok lain mengadakan kajian ringan di ruang terbuka.

Ngabuburit bukan sekadar aktivitas menunggu waktu. Ia telah menjadi tradisi sosial yang mempertemukan banyak latar belakang. Mahasiswa, pelajar, pekerja, hingga keluarga kecil bercampur dalam satu ruang publik. Di sana, senja bukan hanya tentang warna langit, tetapi tentang rasa kebersamaan yang tumbuh tanpa dipaksa.

Nyare Malem: Nuansa Madura yang Sarat Kebersamaan

Beranjak ke Pulau Garam, di wilayah seperti Sumenep dan beberapa daerah lain di Madura, dikenal istilah nyare malem. Secara harfiah berarti “mencari malam,” sebuah ungkapan yang merujuk pada kebiasaan keluar rumah menjelang berbuka atau selepas tarawih.

Kalangan muda Madura memanfaatkan sore Ramadan untuk berkumpul di lapangan desa, pinggir pantai, atau halaman masjid. Ada yang bermain sepak bola ringan, ada yang duduk melingkar berbincang tentang sekolah, pekerjaan, bahkan rencana masa depan. Di beberapa desa, tradisi ini juga diwarnai dengan berburu jajanan khas yang hanya muncul saat Ramadan.

Nyare malem bukan hanya tentang berjalan-jalan. Ia adalah ruang sosial yang mempererat hubungan antarwarga. Di desa-desa yang masih kental tradisi, momen ini menjadi kesempatan untuk saling menyapa, bertukar kabar, dan memperkuat ikatan yang mungkin jarang terjalin di hari-hari biasa.

Di Madura, nilai kebersamaan memang sangat dijunjung tinggi. Ramadan menjadi momentum untuk merawatnya. Anak-anak muda, yang dalam keseharian sibuk dengan gawai dan media sosial, seolah kembali menemukan akar sosialnya melalui nyare malem.

Marpangir dan Pasar Sore Ramadan di Sumatera

Di beberapa wilayah Sumatera, suasana menunggu berbuka juga identik dengan pasar sore Ramadan. Di kota seperti Medan, deretan pedagang musiman memenuhi tepi jalan. Anak-anak muda menjadikan momen ini sebagai ajang berburu kuliner khas, dari bubur kampiun hingga aneka gorengan.

Di Aceh, tradisi menunggu berbuka sering diisi dengan kegiatan keagamaan di meunasah atau masjid. Remaja masjid mengadakan tadarus bersama, diskusi ringan, atau latihan nasyid. Aktivitas ini mempertemukan unsur religius dan sosial dalam satu waktu yang sama.

Sementara itu, di Sumatera Barat, beberapa nagari masih mempertahankan kebiasaan berkumpul di surau menjelang Magrib. Kalangan muda belajar mengaji, berdiskusi, lalu bersama-sama menyiapkan hidangan berbuka. Kebersamaan terasa kental, sederhana, dan penuh makna.

Balap Lari Tradisional dan Permainan Rakyat di Jawa Tengah

Di sejumlah desa di Jawa Tengah, anak-anak muda menghidupkan kembali permainan tradisional menjelang berbuka. Ada yang bermain gobak sodor, bentengan, hingga balap lari santai di pematang sawah.

Di kota seperti Yogyakarta, mahasiswa dan pelajar memadati kawasan Malioboro untuk sekadar duduk lesehan, berbincang, atau berbagi takjil gratis kepada pengguna jalan. Tradisi berbagi ini menjadi ciri khas Ramadan di kota pelajar.

Kegiatan berbagi takjil biasanya diinisiasi oleh komunitas kecil, organisasi kampus, atau remaja masjid. Selain menunggu waktu berbuka, mereka belajar tentang empati dan kepedulian sosial. Ramadan menjadi sekolah karakter yang berlangsung secara alami.

Megibung dan Tradisi Berkumpul di Bali

Di Bali, khususnya komunitas Muslim di beberapa wilayah seperti Denpasar, tradisi berkumpul menjelang berbuka juga terasa hangat. Ada yang mengadaptasi konsep megibung—makan bersama dalam satu wadah besar—yang mempererat kebersamaan.

Anak-anak muda di sana sering mengadakan kegiatan sosial seperti membersihkan masjid, menyiapkan hidangan berbuka bersama, atau menggelar lomba-lomba islami. Meskipun berada di tengah masyarakat yang majemuk, Ramadan tetap dirayakan dengan penuh toleransi dan rasa hormat antarumat.

Pawai Obor dan Festival Ramadan

Di berbagai daerah, menjelang atau selama Ramadan kerap diadakan pawai obor. Di beberapa kota di Sulawesi Selatan seperti Makassar, remaja masjid berjalan berkeliling kampung sambil melantunkan selawat.

Tradisi ini tidak hanya meriah secara visual, tetapi juga menyimpan pesan spiritual. Obor menjadi simbol cahaya, harapan, dan semangat menyambut bulan suci. Bagi kalangan muda, pawai obor adalah pengalaman kolektif yang membekas dalam ingatan.

Selain itu, festival Ramadan juga marak digelar. Stand kuliner, lomba religi, hingga pentas seni islami menjadi ruang ekspresi bagi generasi muda. Mereka belajar mengorganisasi acara, bekerja sama, dan bertanggung jawab.

Selain itu Istilah yang digunakan  untuk kegiatan menunggu waktu seperti:

Kumbohan seperti di Lamongan, Jawa Timur

Tradisi ngabuburit yang khas di Lamongan, di mana masyarakat berkumpul di tempat tertentu untuk menunggu adzan Maghrib.

Dandangan, Kudus, Jawa Tengah

Tradisi pasar malam menjelang Ramadhan yang sering dijadikan ajang jalan-jalan sore (ngabuburit) untuk mencari kuliner atau kebutuhan puasa.

Pasar Takjil/Bazar Kuliner (Seluruh Indonesia)

Aktivitas umum masyarakat di berbagai kota yang mendatangi pusat jajanan sore untuk membeli makanan berbuka, seperti kolak, es buah, dan gorengan.

Nyorog, Betawi/Jakarta

Tradisi membagikan makanan atau bingkisan kepada keluarga terdekat atau tetangga yang lebih tua sebelum atau selama bulan Ramadhan.

Jalan-jalan Sore (Umum):

Aktivitas santai yang lazim dilakukan oleh remaja atau keluarga dengan berkendara atau berjalan santai di pusat kota atau tepi pantai. 

Ruang Digital dan Ramadan Masa Kini

Tak bisa dimungkiri, generasi muda kini juga mengisi waktu menjelang berbuka di ruang digital. Siaran langsung kajian, konten berbagi resep takjil, hingga vlog ngabuburit menjadi warna baru Ramadan.

Namun di tengah arus digitalisasi, tradisi lokal tetap menemukan tempatnya. Banyak anak muda yang memadukan keduanya: merekam kegiatan nyare malem, mendokumentasikan ngabuburit, lalu membagikannya di media sosial. Tradisi pun hidup dalam bentuk baru, tanpa kehilangan esensinya.

Ramadan sebagai Ruang Pembentukan Karakter

Jika dicermati lebih dalam, berbagai aktivitas menunggu berbuka itu mengandung nilai yang sama: kebersamaan, kesabaran, dan kreativitas. Anak-anak muda belajar bahwa menahan lapar bukan hanya soal fisik, tetapi juga tentang mengelola waktu dan emosi.

Di desa-desa Madura, mereka belajar arti silaturahmi. Di Bandung, mereka belajar membangun ruang publik yang inklusif. Di Yogyakarta, mereka belajar berbagi. Di Makassar, mereka belajar menjaga tradisi.

Ramadan menjadi panggung tempat nilai-nilai itu dipentaskan setiap tahun. Tanpa kurikulum formal, tanpa ruang kelas, generasi muda menyerap pelajaran hidup melalui tradisi yang sederhana.

Senja yang Selalu Dirindukan

Pada akhirnya, waktu menjelang Magrib selalu menghadirkan perasaan yang sama: harap dan syukur. Detik-detik terakhir sebelum azan berkumandang adalah momen refleksi. Tawa yang tadi riuh perlahan mereda. Mata mulai menatap jam atau mendengarkan pengeras suara masjid.

Ketika azan terdengar, semua aktivitas berhenti sejenak. Segelas air dan sebutir kurma menjadi penanda kemenangan kecil hari itu. Anak-anak muda yang tadi bercanda kini menunduk dalam doa.

Begitulah Ramadan di Indonesia. Beragam cara, beraneka tradisi, namun satu makna. Dari ngabuburit di Bandung hingga nyare malem di Sumenep, dari pasar sore di Medan hingga pawai obor di Makassar, semuanya membentuk mosaik kebudayaan yang indah.

Senja Ramadan bukan sekadar jeda sebelum makan malam. Ia adalah ruang sosial, ruang spiritual, dan ruang kultural yang mempertemukan generasi muda dengan akar tradisinya. Di sanalah identitas lokal dan semangat kebersamaan dirawat, diwariskan, dan diperbarui setiap tahun.

Dan ketika Ramadan usai, yang paling dirindukan sering kali bukan hanya hidangan berbuka, melainkan momen-momen senja itu—saat waktu terasa lambat, namun hati terasa penuh.

 (Redaksi)

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 6223618408236799541

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close