Puisi-Puisi yang Terberai, Moh. Wadhif a


Moh. Wadhif a
sebagai santri aktif di Pondok Pesantren Annuqayah (PPA), Lubangsa Utara (Lubtara). Kini sedang berproses selain belajar ilmu agama, juga belajar menulis di Buhairoh Arabiyah, sekaligus pustakawan Lubangsa Utara.

*****


Sajak Kehilangan

Derap langkah kaki
Yang perlahan pergi
Menyisakan harap pada sunyi
ditengah gelap

Kicauan burung gagak
Seakan menggiring perginya kain
Pada kerontang tubuh angin

Merapal sabda yang
Tak sukar menampar gelisah
Menyapu enyah
Sang peninggal keluh kesah

Tinggallah setangkai bunga layu
Yang memiliki kehilangan
Ribuan khayalan
Mencabik persinggahan

Lubtara 25’

 


Tuhan

Engkaulah penguasa alam
Yang merangkul keluh kesah
Seorang hamba

Kau bukan ilusi
Juga bukan imaji

Kau tak bisa dikhayal
Namun dapat dicapai oleh keimanan

Engkaulah yang maha Esa
Mencipta tangisan
Agar kami tahu
Apa itu penyesalan.

Buhairah 25’

 


Sebagai Pelukanku

Kau selalu tiba saat buntu
Menimpaku
Menghapus gelisah keluhku
Yang merangkul segala usaha
Memanen setangkai percaya

Kau tempatku bersandar
Tuk mengusir lelah
Yang menghantui setiap sendi
Tubuh ini

Kaulah sabda gemilang
Dalam tangis relung kesunyian
Menghilangkan kerusuhan pikiran

Annuqayah 25’

 


Indahmu Menghantuiku

Mel...
Jangan sesekali engkau bersanding dengan bunga
Ia layu
Tak cukup indah
Disamping senyummu.

Setiap rasa yang tiba
Dalam lubuk hatiku
Bersenandung riuh
Memandang ranum wajahmu.

Mel...
Kau seakan rembulan yang nyasar
Bersama bintang gemintang
Yang mulai pudar.

Sungguh jatuh pandanganku
Melihat indah dirimu
Yang menyisakan sebutir
Mimpi, ‘indamaa laa araaki.

Mel...
Merah bibirmu
Menghantui hasrat diriku
Yang meronta tuk terus melihatmu.

Semogaku memelukmu
Mengingat nama
Yang sempurna merajut rasa,
Menitikkan cinta
Berharap kita bersama.

Mel...
Indahmu menghantuiku.

Buhairah 18/12/2025

 


Bisikku Melihatmu

Mel...
Masih terbenam dalam keningku
Kisah singkat waktu itu

Baju merah hatimu
Seakan tergantung rapi
Dalam sunyi jantung ini

Saat itu, angin memberitahuku
Bahwa mata tertarik tuk memandangimu,
Dari lubuk separuh hati yang bisu

Mel...
Ketika kau tersenyum
Seakan mengisyaratkan lautan
Yang baru pasang

Gerutuku Mel...
Menyapamu berkali-kali
Dalam mutiara suci ini
Menyambut segala ilusi.

22/12/2025

 


Rimbun Sakit Hati
*untuk Arina H.

Tak dapat kugenggam lagi lengan sucimu
Terhalang rindu dalam jeruji besi yang bisu
Dipandu aturan
Pada perihnya mata harapan

Tak dapat kusentuh lagi lesung pipimu
Dihimpit batas rambu
Yang meleburkan
Segala inginku

Tak dapat kudengar lagi suara merdumu
Diredam serak sabda ramai
Dalam pikiran
Yang menghantam seribu khayalan

Tak dapat kulukis lagi wajah ranummu
Pada angan yang hilang
Saat beku telah dipandang
Dalam luka keputusasaan

Terimakasihku pada raga
Yang menemanimu bersama luka

Mushalla 25’

 


Detik Terakhir
*untuk Ilfatin N.

Rasa ragu yang telah lama menghantuiku
Kini tampak dalam rongga tangismu

Engkau berkata seakan kita masih berdua
Menyambung kasih yang melekat
Dalam hati para penifak

Sungguh ku harap kau menyesal
Membedakan dia
Mengganti yang setia

Ku harap kau senang membangga
Kehilanganku yang tak cukup sempurna,
Kita ini manusia
Tidak harus memiliki
Tuk menemani sang pujaan hati

Namun kita bukan warga
Selama hati tak malu mendampingi,
Selamat berseri tuk mengisi lembar anyar
Dalam buku lama yang bercerita tentang kita
Berdua.

Mushalla 25’

 

 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 5498891072136522144

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close