Ketika Medsos Tak Lagi Menggugah: Dari Euforia Kebebasan ke Keletihan Informasi
Media sosial pernah dipuja sebagai ruang demokrasi baru—cepat, bebas, dan tanpa sekat. Namun, seiring waktu, euforia itu perlahan memudar. Arus informasi yang tak terbendung, polarisasi politik, hingga komersialisasi algoritma membuat daya tariknya mengalami kejenuhan. Artikel ini menelusuri bagaimana perubahan lanskap komunikasi politik membuat media sosial tak lagi seefektif dan semenarik dulu.
*****
Pada awal kemunculannya, media sosial disambut bak fajar baru dalam komunikasi publik. Platform seperti Facebook, Twitter, dan Instagram menawarkan ruang terbuka yang nyaris tanpa batas. Setiap orang dapat menjadi “wartawan”, “aktivis”, bahkan “opinion leader” hanya dengan satu sentuhan jari. Kritik terhadap kebijakan pemerintah, keluhan terhadap layanan publik, hingga gerakan solidaritas sosial menemukan rumahnya yang baru: linimasa.
Dalam konteks politik, media sosial menghadirkan lompatan besar. Ia memangkas jarak antara elite dan rakyat. Pernyataan pejabat tidak lagi harus menunggu konferensi pers atau siaran berita malam. Aspirasi masyarakat pun tak perlu melewati meja redaksi. Semua serba langsung, serba cepat, serba viral. Di sinilah letak daya tarik awalnya: spontanitas dan demokratisasi informasi.
Namun, seperti gelombang yang memuncak lalu surut, daya magis itu perlahan mengalami erosi.
Ledakan Informasi dan Keletihan Kolektif
Kecepatan yang dulu dianggap keunggulan, kini menjadi sumber kejenuhan. Setiap detik, ribuan opini berseliweran. Kritik bercampur caci maki. Fakta bersanding dengan kabar bohong. Publik tidak lagi hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga korban dari banjir informasi yang tak tersaring.
Fenomena ini memunculkan apa yang disebut sebagai keletihan informasi—kondisi ketika masyarakat merasa jenuh, skeptis, bahkan apatis terhadap isu-isu yang terus-menerus diperdebatkan. Isu politik yang seharusnya memantik diskusi substantif berubah menjadi ajang perdebatan emosional tanpa ujung. Akibatnya, pesan yang benar-benar penting sering tenggelam di antara sensasi dan provokasi.
Polarisasi dan Ruang Gema
Media sosial yang awalnya menjanjikan ruang dialog, dalam praktiknya sering berubah menjadi ruang gema (echo chamber). Algoritma platform dirancang untuk menampilkan konten yang selaras dengan preferensi pengguna. Akibatnya, orang cenderung hanya terpapar pandangan yang memperkuat keyakinannya sendiri.
Polarisasi politik pun semakin tajam. Alih-alih memperkaya perspektif, perbedaan pandangan justru memicu fragmentasi sosial. Debat publik menjadi pertarungan identitas, bukan lagi adu gagasan. Dalam situasi seperti ini, kualitas komunikasi politik justru mengalami kemunduran.
Komersialisasi Aspirasi
Aspek lain yang turut mengikis daya tarik media sosial adalah komersialisasi. Konten politik sering dikemas layaknya produk hiburan. Isu-isu serius dipadatkan menjadi potongan video pendek, meme, atau slogan yang mudah viral namun dangkal secara substansi.
Algoritma lebih memprioritaskan keterlibatan (engagement) dibandingkan kedalaman. Konten yang memancing emosi—marah, takut, atau kagum berlebihan—lebih mudah tersebar. Dalam ekosistem seperti ini, kualitas diskursus menjadi nomor sekian. Aspirasi publik berisiko tereduksi menjadi sekadar angka klik, suka, dan bagikan.
Kembalinya Nilai Media Formal
Menariknya, ketika media sosial semakin riuh dan tak terkontrol, sebagian masyarakat mulai merindukan kredibilitas media formal. Media cetak dan online profesional memang terikat proses redaksional: verifikasi fakta, konfirmasi narasumber, dan tanggung jawab hukum. Proses ini dulu dianggap lamban, kini justru dinilai sebagai jaminan kualitas.
Media formal mungkin kalah cepat, tetapi unggul dalam kedalaman dan akurasi. Dalam situasi disinformasi yang masif, kredibilitas menjadi mata uang yang berharga. Publik mulai menyadari bahwa tidak semua yang viral layak dipercaya.
Apakah Medsos Kehilangan Relevansi?
Bukan berarti media sosial sepenuhnya kehilangan fungsi. Ia tetap menjadi ruang penting untuk mobilisasi sosial, kampanye publik, dan partisipasi warga. Namun, pesonanya sebagai satu-satunya kanal efektif penyampaian aspirasi mulai memudar.
Daya tarik media sosial berkurang bukan karena ia gagal sepenuhnya, melainkan karena ekspektasi yang terlampau tinggi pada awal kemunculannya. Ia diproyeksikan sebagai solusi atas segala keterbatasan media konvensional, padahal pada akhirnya ia juga tunduk pada logika ekonomi, teknologi, dan dinamika kekuasaan.
Menuju Kematangan Ekosistem Informasi
Fenomena ini menunjukkan bahwa setiap medium memiliki siklusnya. Media sosial tidak lagi dipandang sebagai ruang utopis, melainkan sebagai bagian dari ekosistem informasi yang kompleks. Tantangannya kini adalah membangun literasi digital, memperkuat etika komunikasi, dan menyeimbangkan kecepatan dengan akurasi.
Pada akhirnya, kualitas demokrasi tidak semata ditentukan oleh medianya, tetapi oleh kedewasaan penggunanya. Ketika publik mampu memilah informasi, menghargai perbedaan, dan menuntut substansi, maka baik media sosial maupun media formal akan menemukan kembali relevansinya.
Euforia mungkin telah usai, tetapi pelajaran darinya tetap berharga: kebebasan berekspresi membutuhkan tanggung jawab, dan kecepatan tanpa kebijaksanaan hanya akan melahirkan kebisingan.
(Tim Redaksi)
Pilihan





