Ramadhan Tamu Istimewa di Rumah Pak Johan
Langit senja berwarna jingga keemasan ketika angin berembus pelan menyentuh dedaunan di halaman rumah Pak Johan. Di kejauhan terdengar suara anak-anak bermain, bercampur dengan lantunan ayat suci dari musholla kecil di ujung gang. Bulan Sya’ban hampir berlalu. Itu artinya, Ramadhan akan segera datang. Di rumah sederhana itu, suasana berbeda mulai terasa. Ada semangat, ada harap, ada juga sedikit rasa cemas—terutama di hati Kiki yang tahun ini ingin belajar berpuasa penuh.
Cerita Anak: May Dindi
Menyambut Tamu Istimewa
“Anak-anak, akhir pekan ini kita kerja bakti di rumah ya,” ujar Pak Johan suatu sore.
“Kerja bakti?” tanya Yani penasaran.
“Kita bersih-bersih besar. Ramadhan itu tamu istimewa. Kalau ada tamu istimewa datang, masa rumah kita berantakan?” jawab Bu Tika sambil tersenyum.
Fendi, anak sulung yang sudah remaja, mengangguk mantap. “Siap, Pak! Aku bagian halaman saja.”
Sabtu pagi pun tiba. Matahari belum terlalu tinggi ketika keluarga itu sudah sibuk dengan tugas masing-masing. Pak Johan membawa mesin pemotong rumput. Suara dengungnya memecah keheningan pagi. Fendi membantu mengumpulkan rumput yang telah dipotong dan merapikan tanaman di pinggir pagar.
Yani menyapu teras dengan cekatan. Ia juga membersihkan pot bunga dan menyiram tanaman agar tampak segar. Sementara itu, Kiki dengan penuh semangat membawa lap kecil dan ember berisi air sabun.
“Aku mau bersihkan jendela!” serunya.
Namun tak lama kemudian wajahnya belepotan debu karena terlalu bersemangat. Bu Tika tertawa kecil sambil mengusap pipi putrinya. “Pelan-pelan, Nak. Membersihkan itu juga harus sabar.”
Menjelang siang, rumah mereka tampak lebih bersih dan rapi. Tirai diganti yang baru. Rak buku disusun ulang. Karpet dicuci dan dijemur. Bahkan mushaf Al-Qur’an yang tersimpan di lemari ruang tamu dikeluarkan dan dibersihkan.
“Kita juga bersihkan hati ya,” kata Pak Johan ketika semua berkumpul beristirahat. “Minta maaf satu sama lain sebelum Ramadhan datang.”
Fendi menunduk sebentar lalu berkata, “Kalau selama ini aku pernah membentak adik-adik, maaf ya.”
Yani tersenyum. “Aku juga kalau pernah usil.”
Kiki memeluk kakak-kakaknya. “Kiki juga minta maaf.”
Suasana menjadi hangat. Mereka sadar, membersihkan rumah memang penting, tetapi membersihkan hati jauh lebih utama.
Belajar Menahan Lapar
Beberapa hari sebelum Ramadhan, Bu Tika mulai melatih anak-anaknya bangun lebih pagi untuk sahur percobaan.
“Kita coba puasa setengah hari dulu ya,” ujarnya.
Kiki terlihat ragu. “Kalau Kiki lapar bagaimana?”
“Lapar itu wajar. Tapi kita belajar sabar. Kalau kuat sampai Zuhur, nanti boleh berbuka,” jawab Bu Tika lembut.
Hari percobaan itu dimulai. Pukul empat pagi mereka bangun. Mata Kiki masih berat, tapi ia berusaha duduk di meja makan. Pak Johan memimpin doa sebelum sahur.
Siang hari, Kiki mulai merasa haus. Ia memandangi kulkas beberapa kali. “Airnya kelihatan segar sekali,” gumamnya.
Yani tertawa kecil. “Jangan dilihat terus, nanti makin tergoda.”
Fendi mengajak Kiki bermain puzzle dan membaca buku cerita agar pikirannya teralihkan. Waktu terasa lebih cepat ketika diisi dengan kegiatan.
Ketika adzan Zuhur berkumandang, Kiki tersenyum lebar. “Aku berhasil!”
“Alhamdulillah,” jawab Bu Tika bangga.
Hari demi hari, Kiki makin percaya diri. Ia mulai berani berniat puasa penuh ketika Ramadhan tiba.
Ramadhan Tiba
Akhirnya malam yang ditunggu datang. Suara takbir berkumandang dari musholla. Warga kampung mengadakan pawai kecil menyambut Ramadhan. Anak-anak membawa lampion sederhana dari kertas warna-warni.
Kiki berlari kecil di samping Yani. “Besok puasa sungguhan ya!”
“Iya,” jawab Yani sambil tersenyum.
Sahur pertama terasa istimewa. Meja makan sederhana itu penuh dengan lauk favorit keluarga. Ada telur dadar, sayur bening, tempe goreng, dan sambal buatan Bu Tika.
“Jangan terlalu kenyang, nanti mengantuk,” pesan Pak Johan.
Setelah sahur dan salat Subuh berjamaah, mereka kembali beristirahat sebentar sebelum memulai aktivitas.
Ujian Kejujuran
Siang itu, Fendi, Yani, dan Kiki pergi ke musholla untuk mengaji bersama Ustadz Jamil. Di tengah perjalanan pulang, Kiki melihat sesuatu tergeletak di pinggir jalan.
“Kak, itu apa?” tanyanya.
Ternyata sebuah dompet cokelat. Fendi membukanya perlahan. Ada kartu identitas dan sejumlah uang.
Kiki menelan ludah. “Bisa buat beli es krim banyak sekali…”
Yani langsung mengingatkan, “Kita sedang puasa. Kata Ustadz, puasa itu menjaga diri.”
Fendi mengangguk. “Kita cari alamatnya.”
Mereka pun mendatangi rumah sesuai alamat di kartu identitas. Seorang bapak paruh baya keluar dengan wajah cemas.
“Pak, ini dompet Bapak?” tanya Fendi.
Wajah bapak itu berubah lega. “Iya! Terima kasih sekali, Nak. Saya kira sudah hilang.”
Ia sempat menawarkan uang sebagai tanda terima kasih, tetapi Fendi menolak dengan sopan. “Kami hanya ingin mengembalikan.”
Dalam perjalanan pulang, hati mereka terasa ringan. Kiki tersenyum bangga. Ia belajar bahwa menahan keinginan jauh lebih membahagiakan daripada menuruti godaan.
Tarawih dan Tadarus
Malam harinya, keluarga Pak Johan pergi salat tarawih berjamaah. Musholla penuh oleh warga. Anak-anak duduk rapi di barisan belakang.
Kiki berusaha mengikuti gerakan dengan khusyuk, meski kakinya mulai pegal. Setelah selesai, mereka tidak langsung pulang. Ada tadarus bersama.
Fendi membaca dengan suara lantang dan merdu. Yani mengikuti dengan tartil. Kiki masih terbata-bata, tetapi Ustadz Jamil tersenyum bangga.
“Tidak apa-apa pelan, yang penting semangat,” katanya.
Sejak itu, hampir setiap malam mereka mengisi waktu dengan tarawih dan tadarus. Rumah terasa lebih hidup dengan lantunan ayat suci.
Belajar Berbagi
Suatu sore, Bu Tika mengajak anak-anak menyiapkan takjil untuk dibagikan.
“Kita buat kolak dan gorengan ya. Nanti dibagikan ke tetangga dan orang yang lewat,” ujarnya.
Kiki membantu membungkus kolak dalam cup kecil. Yani mengatur gorengan di wadah. Fendi membagikannya di depan gang menjelang Magrib.
Seorang pengendara ojek menerima takjil dengan senyum lebar. “Terima kasih ya, Nak.”
Kiki merasa senang sekali. “Rasanya lebih enak memberi daripada menerima ya, Bu.”
Bu Tika mengangguk. “Itulah indahnya Ramadhan.”
Menjaga Semangat
Memasuki pertengahan Ramadhan, rasa lelah mulai terasa. Suatu hari Kiki hampir menyerah.
“Bu, hari ini panas sekali…”
Bu Tika mengusap kepalanya. “Ingat niatmu. Setiap rasa lelah ada pahala.”
Fendi juga memberi semangat. “Kita kuat bersama.”
Kiki menarik napas panjang. Ia bertahan hingga waktu berbuka. Ketika adzan Magrib berkumandang, air mata kecil menetes di pipinya—bukan karena sedih, tetapi karena bangga pada dirinya sendiri.
Ramadhan yang Mengubah Hati
Hari-hari berlalu cepat. Rumah Pak Johan selalu dipenuhi canda saat sahur, doa saat berbuka, dan langkah kaki menuju musholla.
Kiki kini tak lagi takut lapar. Ia belajar bahwa puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan marah, menahan godaan, dan menumbuhkan kepedulian.
Suatu malam, setelah tarawih, Kiki berkata pelan, “Aku senang sekali Ramadhan datang.”
Pak Johan tersenyum. “Semoga setelah Ramadhan pergi, kebaikannya tetap tinggal di hati kita.”
Yani mengangguk. “Supaya kita tetap jujur dan sabar.”
Fendi menambahkan, “Dan tetap rajin ibadah.”
Bu Tika memeluk ketiga anaknya. “Ramadhan adalah sekolah terbaik bagi hati kita.”
Langit malam bertabur bintang. Di rumah sederhana itu, Ramadhan benar-benar menjadi tamu istimewa—membawa cahaya, mengajarkan kejujuran, kesabaran, dan semangat berbagi.
Dan bagi Kiki, Ramadhan tahun ini akan selalu dikenang sebagai bulan ketika ia belajar menjadi lebih kuat, lebih jujur, dan lebih sayang kepada sesama.
Pilihan





