Madah Sunyi di Bulan Cahaya
Di ambang fajar yang bening,
ketika langit masih menggenggam sisa gelap
dan angin berdesir lirih seperti tasbih yang tak terdengar,
aku berdiri di antara dua dunia—
antara lapar dan makna,
antara dahaga dan rahasia.
Ramadhan datang bukan sekadar penanggalan,
ia adalah jendela yang dibukakan dari langit,
di mana waktu menanggalkan kesombongannya
dan detik-detik menjadi saksi.
Pada bulan inilah bumi terasa lebih ringan,
seakan langkah manusia dituntun
oleh tangan tak kasatmata
yang mengajari kita berjalan ke dalam diri.
Puasa bukanlah sekadar menahan,
ia adalah perjalanan sunyi menuju sumber cahaya.
Di perut yang kosong
aku mendengar gema ayat-ayat tak terucap,
di tenggorokan yang kering
aku merasakan sungai hikmah mengalir perlahan.
Betapa tubuh ini hanyalah titipan,
dan keinginan hanyalah gelombang
yang perlu ditenangkan.
Lapar mengajarkan rahasia keseimbangan,
bahwa manusia bukan pusat dari segala,
melainkan hamba yang dititipi waktu.
Dahaga mengingatkan betapa seteguk air
adalah karunia tak terhingga.
Dan dalam kekhusukan yang memanjang
dari sahur hingga senja,
aku menemukan bahwa syukur
adalah napas yang paling purba.
Di siang hari yang panjang
matahari membakar ego yang selama ini tersembunyi.
Amarah meredup,
kata-kata tertahan di bibir,
dan hati belajar mengunyah sabar
seperti roti yang tak terlihat.
Puasa menenun kesabaran
menjadi pakaian takwa,
halus namun kokoh.
Pada setiap denyut adzan
yang mengalun seperti panggilan pulang,
jiwa terasa digetarkan.
Masjid menjadi samudra cahaya,
sujud-sujud berjatuhan seperti hujan ampunan.
Dahi yang menyentuh bumi
adalah pengakuan paling jujur
bahwa kita berasal dari tanah
dan akan kembali dengan segenap cerita.
Ramadhan adalah madrasah sunyi,
tempat hati diasah oleh ayat-ayat malam.
Dalam tarawih yang panjang
aku merasa waktu melambat,
seakan malaikat berjalan di antara saf-saf,
mencatat getar iman yang bergetar halus.
Bacaan suci mengalir seperti sungai purba
yang membasuh luka-luka batin
tanpa suara.
Pada malam-malam ganjil
aku merindukan kehadiran yang tak terlihat.
Langit terasa lebih dekat dari nadi,
dan doa-doa melayang seperti burung
mencari sarang di Arasy rahmat.
Betapa kecil diri ini
di hadapan keluasan semesta,
namun betapa dicintai
hingga diberi kesempatan memohon.
Dalam keheningan sahur
ada keintiman yang tak terkatakan.
Seiris kurma, seteguk air,
menjadi saksi perjanjian sunyi
antara hamba dan Pencipta.
Aku belajar bahwa keberkahan
bukanlah tentang kelimpahan,
melainkan tentang kecukupan
yang membuat hati lapang.
Puasa memurnikan niat
seperti api yang membersihkan emas.
Ia menelanjangi kepura-puraan,
mengikis riya yang halus seperti debu.
Di hadapan Yang Maha Melihat
tak ada tirai yang mampu menipu.
Yang tersisa hanyalah kejujuran,
getar yang lahir dari kesadaran
bahwa hidup adalah amanah.
Di senja hari
ketika matahari tenggelam dalam warna jingga,
aku merasakan kemenangan yang tak berisik.
Bukan kemenangan atas dunia,
melainkan atas diri sendiri.
Saat kurma menyentuh bibir
dan air membasahi kerongkongan,
air mata kadang ikut jatuh—
bukan karena lapar,
melainkan karena sadar
betapa selama ini aku lupa.
Ramadhan mengajari arti pasrah.
Bukan menyerah pada keadaan,
melainkan menyerahkan seluruh jiwa
kepada kehendak yang Maha Bijaksana.
Dalam pasrah ada kekuatan,
dalam tunduk ada kemuliaan.
Hati yang berserah
adalah hati yang tak lagi terombang-ambing
oleh pujian dan celaan.
Setiap hari adalah latihan kematian kecil—
menahan, menunda, mengendalikan.
Dan setiap malam adalah kelahiran baru—
membaca, merenung, memohon.
Puasa mengajak manusia
menjadi makhluk yang sadar asal-usulnya,
bahwa dari tiada kita diadakan,
dan kepada-Nya kita akan kembali.
Betapa Ramadhan adalah cermin,
memantulkan wajah batin yang selama ini kabur.
Di sana terlihat noda,
terlihat retak,
namun juga terlihat harapan.
Sebab Tuhan tidak menciptakan manusia
untuk tenggelam dalam dosa,
melainkan untuk kembali
dengan hati yang bersih.
Takwa bukanlah sekadar kata,
ia adalah keadaan jiwa
yang selalu merasa diawasi namun dicintai.
Takwa adalah cahaya
yang menuntun langkah di jalan gelap.
Ia tumbuh dari kesadaran
bahwa setiap detik adalah kesempatan
untuk mendekat.
Dalam Ramadhan
aku belajar mencintai dalam diam,
memberi tanpa diketahui,
menolong tanpa disebut.
Sedekah menjadi senyum tersembunyi,
doa menjadi pelukan tak terlihat.
Dan dari sana tumbuh keikhlasan
yang tak memerlukan saksi.
Waktu berlalu,
malam-malam menyusut seperti lilin,
dan aku takut kehilangan aroma bulan ini.
Namun Ramadhan bukan sekadar musim,
ia adalah jejak yang harus ditinggalkan
di relung kehidupan.
Jika selepasnya aku tetap sabar,
tetap syukur,
tetap menjaga lisan dan pandangan,
maka itulah bukti bahwa cahaya
tidak padam.
Ya Yang Maha Menggenggam takdir,
jadikan puasa ini bukan sekadar ritual,
melainkan perjalanan menuju-Mu.
Jadikan lapar ini
jembatan menuju empati,
jadikan dahaga ini
sungai yang mengalirkan hikmah.
Bimbinglah hati ini
agar selalu merasa cukup
dengan apa yang Engkau tetapkan.
Di akhir bulan yang penuh rahmat
aku ingin menjadi manusia yang baru—
bukan karena dunia berubah,
melainkan karena hati telah dibentuk.
Hati yang lembut oleh sujud,
kuat oleh sabar,
dan terang oleh zikir.
Ramadhan adalah surat cinta
yang dikirim dari langit
kepada bumi yang letih.
Dan puasa adalah jawaban
yang ditulis dengan air mata,
dengan doa,
dengan kesetiaan.
Di antara sahur dan berbuka,
di antara tangis dan harap,
aku menemukan makna terdalam:
bahwa hidup adalah ibadah,
bahwa segala yang fana
adalah jalan menuju Yang Abadi.
Maka biarlah bulan ini
menjadi saksi pertaubatan,
menjadi saksi kerendahan,
menjadi saksi bahwa seorang hamba
telah belajar kembali
cara mencintai Tuhannya.
Dan ketika takbir Idul Fitri menggema,
semoga bukan hanya suara yang bertambah,
melainkan jiwa yang bertumbuh.
Semoga dari rahim Ramadhan
lahir manusia yang bertakwa—
yang pasrah dalam keteguhan,
yang rendah hati dalam kekuatan,
yang hidupnya menjadi doa
dan matinya menjadi pulang.
Sebab pada akhirnya,
segala lapar akan terbayar,
segala dahaga akan terjawab,
dan segala sujud akan menemukan maknanya
di hadapan Yang Maha Pencipta—
tempat segala rindu bermuara,
dan segala jiwa berserah sepenuhnya.
(Limas)
Pilihan





