Pintar tapi Tidak Benar: Krisis Watak dalam Pendidikan Kita
Pendidikan seharusnya tidak hanya mencetak manusia cerdas, tetapi juga membentuk watak yang lurus. Ketika sekolah terlalu sibuk mengisi otak dan lupa mengasah hati, lahirlah generasi pintar yang kehilangan kompas moral. Inilah catatan reflektif tentang krisis pendidikan, agama, dan moralitas di Indonesia hari ini.
Selama ini, sistem pendidikan kita terlalu bangga pada angka. Nilai rapor, ranking kelas, indeks prestasi, sertifikat, dan gelar menjadi ukuran utama keberhasilan. Anak dianggap sukses bila nilainya tinggi, lulus cepat, dan punya segudang prestasi akademik. Namun jarang sekali kita bertanya lebih dalam: apakah mereka tumbuh menjadi manusia yang jujur, bertanggung jawab, dan berempati?
Pendidikan kita lebih sibuk mengisi otak, tetapi lupa membentuk watak. Otak dijejali rumus, teori, dan hafalan. Jadwal padat, target kurikulum ketat, ujian datang silih berganti. Anak dipaksa pintar, tapi tidak dibimbing untuk menjadi benar. Akibatnya, hati kosong. Nilai-nilai moral hanya menjadi slogan di dinding sekolah, bukan napas dalam kehidupan sehari-hari.
Kita mengajarkan agama sebagai mata pelajaran, bukan sebagai laku hidup. Murid bisa menjawab soal ujian agama dengan sempurna, tetapi gagap saat diuji kejujurannya. Mereka hafal ayat dan dalil, namun mudah berkompromi dengan kecurangan. Agama menjadi pengetahuan, bukan pedoman. Ketika agama rapuh, moral pun ikut runtuh.
Dari sinilah lahir paradoks yang menyakitkan: banyak orang pintar, tetapi sedikit yang benar. Banyak yang cerdas secara intelektual, tetapi miskin integritas. Mereka tahu mana yang salah, namun tetap melakukannya. Mereka paham hukum, tetapi lihai mencari celah. Mereka mengerti etika, tetapi pandai memanipulasinya demi kepentingan pribadi.
Indonesia hari ini seperti orang sakit yang diagnosisnya jelas, tetapi obatnya tak kunjung diberikan. Kita mengeluh tentang korupsi, ketidakadilan, manipulasi, dan krisis kepercayaan. Namun sering lupa bahwa semua itu adalah buah dari sistem pendidikan yang timpang. Pelaku-pelaku kejahatan besar bukanlah orang bodoh. Mereka justru lulusan terbaik, jebolan kampus ternama, dan pemilik gelar mentereng.
Bangkrutnya bangsa ini bukan karena kekurangan orang pintar, melainkan karena kekurangan orang benar. Negara ini tidak kekurangan ahli, tetapi kekurangan teladan. Tidak kekurangan sarjana, tetapi kekurangan nurani. Kita punya banyak kepala cemerlang, namun sedikit hati yang bersih.
Sekolah terlalu fokus pada capaian kognitif dan melupakan pembentukan karakter. Guru dibebani administrasi, target kurikulum, dan standar evaluasi. Akhirnya, pendidikan watak hanya menjadi pelengkap, bahkan formalitas. Upacara bendera, slogan moral, dan tata tertib sekolah sering kali berhenti sebagai simbol, tidak menjelma menjadi kebiasaan hidup.
Di rumah, situasinya tak jauh berbeda. Orang tua bangga ketika anaknya juara kelas, tetapi jarang bertanya bagaimana cara ia meraih prestasi itu. Selama hasilnya bagus, proses sering diabaikan. Kejujuran kalah oleh ambisi. Anak-anak belajar sejak dini bahwa yang penting menang, bukan benar.
Masyarakat pun ikut menyuburkan krisis ini. Kita sering memuja kesuksesan tanpa peduli cara mencapainya. Orang kaya dihormati meski hartanya tak jelas asal-usulnya. Jabatan dipuja meski diraih dengan intrik. Akhirnya, pesan yang sampai ke generasi muda sangat sederhana dan berbahaya: yang penting berhasil, urusan moral belakangan.
Padahal, pendidikan sejati bukan hanya soal kecerdasan, tetapi tentang pembentukan manusia seutuhnya. Pendidikan seharusnya melatih akal sekaligus menajamkan nurani. Mengembangkan logika sekaligus menumbuhkan empati. Mengajarkan ilmu sekaligus membiasakan kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian.
Watak tidak bisa dibentuk lewat ceramah semata. Ia tumbuh dari keteladanan, pembiasaan, dan lingkungan yang sehat. Anak belajar jujur bukan karena definisi kejujuran di buku, tetapi karena melihat orang dewasa bersikap jujur. Anak belajar adil bukan dari teori, tetapi dari pengalaman diperlakukan adil.
Jika pendidikan terus dibiarkan berjalan seperti sekarang, kita akan terus memproduksi generasi pintar yang kehilangan arah. Mereka akan menguasai teknologi, ekonomi, dan politik, tetapi gagal menjaga kemanusiaan. Pada titik itulah, kepintaran berubah menjadi ancaman, bukan berkah.
Sudah saatnya kita mengoreksi arah. Pendidikan harus dikembalikan pada tujuan dasarnya: memanusiakan manusia. Sekolah harus menjadi ruang aman untuk menumbuhkan akal sehat dan hati nurani. Guru harus dihargai bukan hanya sebagai pengajar materi, tetapi sebagai pendidik karakter. Orang tua harus terlibat bukan hanya dalam urusan nilai, tetapi dalam pembentukan sikap hidup.
Indonesia tidak butuh lebih banyak orang pintar yang licik. Indonesia butuh orang-orang benar yang cerdas. Orang yang tahu ilmu sekaligus tahu batas. Orang yang mampu berpikir kritis tanpa kehilangan empati. Orang yang berani sukses tanpa mengorbankan nilai.
Sebab pada akhirnya, bangsa ini tidak akan runtuh karena kebodohan, tetapi karena kepintaran yang kehilangan kebenaran. Dan jika pendidikan gagal membentuk watak, maka sepintar apa pun generasi yang lahir, ia hanya akan mempercepat kerusakan dengan cara yang lebih canggih.
(Aliyah Syarif)
Pilihan




