Candi yang Tak Pernah Berdiri: Jejak Misteri dan Sejarah Dusun Longgara

Lokasi Candi Burung

Dusun Longgara, di ujung utara Kecamatan Kota Sumenep, bukan sekadar hamparan kampung yang dilalui jalan lingkar. Ia adalah ruang ingatan kolektif, tempat legenda, konflik keyakinan, dan jejak spiritual masa lampau saling berkelindan. Dari kisah Candi Burung yang tak pernah terbangun, pertarungan antariman, hingga nubuat dalam buku PAKEM Desa Kebunan, Longgara menyimpan cerita rakyat yang hidup di antara batu, makam, dan doa.

Oleh: Antok Efendi

Puluhan tahun silam, jauh sebelum aspal Jalan Lingkar Utara membelah tanah dan bukit, kawasan yang kini dikenal sebagai Dusun Longgara, Desa Kebunan, adalah sebuah kampung sunyi bernama Girpajung. Letaknya di ujung utara Kecamatan Kota Sumenep, menghadap laut dan bukit, seolah menjadi penjaga gerbang alam sekaligus gerbang sejarah.

Tidak semua warga Girpajung mengenal sepenuhnya kisah kampung mereka. Cerita-cerita lama kerap beredar dari mulut ke mulut, setengah dipercaya, setengah dilupakan. Namun di balik kesunyian kampung itulah tersimpan sebuah kisah besar—tentang sebuah candi yang direncanakan, namun tak pernah berdiri; tentang keyakinan yang bersilang; dan tentang doa yang diyakini mampu menutup mata air raksasa.

Girpajung di Masa Jokotole

Pada masa kejayaan Jokotole, kesatria legendaris Madura yang namanya lekat dengan kepahlawanan dan kekuasaan Sumenep, Girpajung telah menjadi wilayah yang ramai oleh lalu-lalang manusia dan gagasan. Di masa itulah, menurut cerita turun-temurun, muncul rencana besar untuk membangun sebuah candi.

Candi, sebagaimana dikenal dalam tradisi Nusantara, adalah bangunan keagamaan peninggalan peradaban Hindu-Buddha—tempat pemujaan, meditasi, dan pengabdian spiritual. Namun candi yang direncanakan di Girpajung memiliki sebutan unik: Candi Burung.

Dalam bahasa Madura, burung berarti tidak. Maka Candi Burung dimaknai sebagai candi yang tidak jadi, candi yang tak pernah tercipta. Sebuah nama yang sejak awal seolah telah menubuatkan nasibnya sendiri.

Kaum Pendatang dari Pulau Dewata

Sebelum rencana pembangunan candi itu dimulai, kaum Hindu-Buddha terlebih dahulu menjadikan salah satu tempat di Girpajung sebagai lokasi pemujaan. Konon, sebagian besar dari mereka berasal dari Pulau Dewata, Bali, yang pada masa itu memang dikenal aktif menyebarkan pengaruh agama dan kebudayaannya ke berbagai wilayah Nusantara.

Kehadiran mereka perlahan mengubah tatanan sosial kampung. Beberapa warga Girpajung yang sebelumnya memeluk Islam mulai tertarik dan bergabung. Situasi ini membuat kesatuan keyakinan di kampung itu retak. Islam yang sebelumnya menjadi agama mayoritas mulai menghadapi tantangan ideologis dan spiritual.

Namun kaum Hindu-Buddha tidak datang dengan tangan kosong. Mereka membawa rencana besar: membangun candi di atas sebuah bukit berbatu, sebagai pusat peribadatan sekaligus simbol keberadaan mereka.

Bukit Batu dan Mata Air yang Mengamuk

Pembangunan pun dimulai. Bukit yang dipilih harus diratakan terlebih dahulu. Bebatuan besar disingkirkan satu per satu. Dengan tekad dan semangat, mereka bekerja tanpa mengenal lelah. Hingga suatu hari, seorang anggota mencoba menghancurkan sebuah batu besar yang terletak tepat di pusat lokasi.

Batu itu keras, sulit dipecahkan. Namun semangat mengalahkan kelelahan. Setelah berulang kali dihantam, batu itu akhirnya retak—dan dari celahnya, keluar mata air yang sangat besar.

Air menyembur tanpa henti, meluap, menggenangi tanah yang telah diratakan. Orang-orang panik. Tidak ada yang menyangka bahwa di balik batu itu tersimpan sumber air sedahsyat itu. Air mengalir liar, seolah menolak niat manusia yang hendak menguasai tempat tersebut.

Konflik Keyakinan dan Pertumpahan Darah

Peristiwa itu menyulut kegelisahan warga Girpajung yang masih memeluk Islam. Bersama para tokoh agama, mereka mendatangi lokasi pembangunan candi. Dengan suara tegas, mereka memerintahkan kaum Hindu-Buddha untuk meninggalkan tempat itu.

Namun perintah itu dibantah. Ketegangan berubah menjadi pertikaian. Dua keyakinan berhadap-hadapan di tengah air yang menggenang. Dan di sanalah, menurut cerita rakyat, pertumpahan darah pertama terjadi.

Dengan jumlah yang lebih besar, warga Girpajung berhasil memenangkan pertarungan. Kaum Hindu-Buddha dipukul mundur, meninggalkan lokasi dengan luka dan kekalahan.

Pelarian ke Girpapas dan Tradisi Nyadar

Kaum yang kalah tidak lenyap begitu saja. Mereka melarikan diri ke arah timur Kota Sumenep, ke wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Pinggir Papas, atau Girpapas. Setelah pulih dari kekalahan, mereka kembali bangkit.

Di Girpapas, penyebaran agama Hindu-Buddha berjalan perlahan namun pasti. Hingga kini, jejak itu masih terasa melalui tradisi Nyadar yang rutin diselenggarakan setiap tahun—sebuah ritual budaya yang dipercaya sebagai warisan spiritual masa lalu.

Menutup Mata Air dengan yang Maha Agung

Setelah kaum Hindu-Buddha terusir, warga Girpajung menghadapi masalah baru: mata air raksasa yang terus mengalir. Jika dibiarkan, kampung itu bisa berubah menjadi lautan.

Mereka kemudian sepakat untuk “menutup” sumber air tersebut dengan gung. Secara harfiah, gung berarti gong—alat musik tradisional Madura. Namun masyarakat percaya bahwa yang dimaksud bukanlah gong fisik, melainkan sesuatu yang Maha Agung.

Setiap malam, warga berkumpul, melantunkan Allahu Akbar, kalimat yang berarti Allah Maha Besar. Doa itu dipercaya mampu menenangkan alam, dan perlahan mata air pun surut, terkendali, seolah tunduk pada kekuatan spiritual.

Dari Girpajung ke Longgara

Sebagai penanda kemenangan dan perubahan zaman, Kampung Girpajung kemudian berganti nama menjadi Dusun Longgara. Nama baru, identitas baru, namun ingatan lama tetap tertanam di tanah dan batu.

Hingga kini, Longgara menyimpan banyak peninggalan sejarah. Salah satunya adalah Batu Tumpang, dua batu besar yang berada di pinggir Jalan Lingkar Utara. Konon batu itu sangat keramat; tak seorang pun berani memisahkannya.

Tak jauh dari situ terdapat makam panjang sekitar tiga meter, yang dipercaya sebagai makam tokoh penting masa lampau. Ada pula Asta Totapa, kompleks makam yang dahulu menjadi tempat bertapa, ditandai dengan batu-batu besar yang masih tersisa.

Femaru Hill dan Masa Depan Longgara

Memasuki era modern, Longgara tidak hanya hidup dari cerita masa lalu. Pada Februari 2018, berdirilah Femaru Hill, destinasi wisata yang digagas oleh Venus Femaru, pengusaha muda keturunan asli Desa Kebunan.

Wisata ini menawarkan berkuda, memanah, serta rencana kolam renang dan agrowisata. Visi besarnya adalah menjadikan Longgara sebagai desa wisata yang mampu bersaing dengan kota-kota wisata lain.

Nubuat dalam Buku PAKEM

Di balik optimisme itu, tersimpan kegelisahan lama yang dijaga oleh Bapak Sutipyo, Ketua RT 02/RW 03 Dusun Longgara dan pemilik Buku PAKEM Desa Kebunan. Meski kini sakit dan tak lagi sekuat dulu, ingatannya tentang Longgara tetap tajam.

Ia pernah mengatakan bahwa dalam buku PAKEM tersebut telah diramalkan adanya jalan besar yang melintasi Longgara—dan ramalan itu terbukti dengan hadirnya Jalan Lingkar Utara. Buku itu juga menyebutkan bahwa suatu hari akan lahir orang besar dari Longgara, membawa kebahagiaan bagi warga.

Namun ada satu nubuat yang masih menjadi misteri: pertumpahan darah yang kelak akan terjadi seiring hadirnya jalan besar itu. Hingga kini, makna nubuat tersebut belum terpecahkan.

Warga hanya bisa berharap, sebagaimana doa-doa yang dahulu menutup mata air raksasa, agar pertumpahan darah itu tak pernah benar-benar terjadi di Dusun Longgara—kampung kecil yang menyimpan sejarah besar, legenda, dan harapan masa depan.

(editor/penyempurna tulisan: Syaiful)


Pilihan

Tulisan terkait

Utama 8267755038880008022

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close