Ikhlas yang Kelewat Batas: Ketika Pengabdian Guru Dijadikan Alasan Ketidakadilan


Di balik kata “ikhlas” yang kerap disematkan pada profesi guru, tersimpan persoalan serius tentang cara masyarakat dan sistem memperlakukan pendidik. Esai ini mengajak pembaca menelaah ulang makna pengabdian, profesionalisme, dan keadilan bagi guru—agar keikhlasan tidak lagi menjadi dalih untuk mengabaikan hak dan kesejahteraan mereka.

Suatu hari, seorang guru pulang lebih sore dari biasanya. Bukan karena mengoreksi tugas semata, tetapi karena harus mengurus administrasi sekolah, rapat mendadak, hingga pendampingan kegiatan siswa. Ketika kelelahan itu diceritakan, respons yang sering diterima terdengar akrab: “Diniati ibadah saja, Bu. Ikhlas, pahalanya besar.” Kalimat itu terdengar menenangkan, bahkan terasa religius. Namun jika diulang terus-menerus, ia perlahan berubah menjadi penutup mulut bagi keluhan yang seharusnya didengar.

Di dunia pendidikan, kata “ikhlas” seakan menjadi mantra sakti. Ia disematkan pada guru dalam berbagai situasi: gaji kecil, beban kerja berlebih, fasilitas minim, hingga ketidakpastian masa depan. Seolah-olah dengan keikhlasan, semua persoalan selesai. Padahal, tidak semua yang dibungkus dengan niat baik berujung pada keadilan.

Masalahnya bukan pada keikhlasan itu sendiri, melainkan ketika keikhlasan dipelintir menjadi pembenaran atas sistem yang tidak adil.

Pengabdian yang Bergeser Makna

Tidak ada yang menyangkal bahwa menjadi guru adalah bentuk pengabdian. Di tangan guru, masa depan generasi dibentuk. Nilai, pengetahuan, dan karakter ditanamkan hari demi hari. Namun pengabdian bukan berarti menghapus batas antara tanggung jawab profesional dan hak sebagai manusia.

Ketika pengabdian terus-menerus ditekankan tanpa diimbangi penghargaan yang layak, maknanya bergeser. Pengabdian yang seharusnya lahir dari kesadaran dan pilihan, berubah menjadi kewajiban moral yang dipaksakan. Guru yang mengeluh dianggap kurang ikhlas, guru yang menuntut kesejahteraan dicap materialistis, bahkan guru yang memperjuangkan haknya sering disudutkan seolah tidak memahami makna “pahala”.

Dalam kondisi seperti ini, keikhlasan kehilangan makna spiritualnya dan berubah menjadi alat kontrol sosial.

Guru Bukan Malaikat

Ada anggapan tak tertulis di masyarakat bahwa guru harus selalu kuat, sabar, dan mengalah. Guru digambarkan seperti sosok tanpa kebutuhan pribadi, tanpa lelah, dan tanpa kepentingan duniawi. Padahal guru adalah manusia biasa.

Guru punya keluarga yang harus dinafkahi, anak yang harus disekolahkan, orang tua yang harus dirawat, dan masa depan yang perlu dipersiapkan. Mereka juga menghadapi kebutuhan hidup yang terus meningkat, harga yang kian naik, dan tuntutan zaman yang semakin kompleks.

Mengabaikan realitas ini sama saja dengan menempatkan guru dalam posisi yang tidak manusiawi. Keikhlasan tidak menghapus kebutuhan dasar. Ibadah tidak membayar listrik. Pahala tidak menggantikan biaya pendidikan anak.

Profesionalisme yang Sering Dilupakan

Mengajar bukan sekadar aktivitas mengisi waktu di kelas. Ia adalah pekerjaan profesional yang menuntut kompetensi akademik, pedagogik, sosial, dan emosional. Guru dituntut terus belajar, menyesuaikan diri dengan kurikulum, menguasai teknologi, serta memahami karakter peserta didik yang beragam.

Di sisi lain, guru juga dibebani tanggung jawab administratif yang tidak sedikit. Laporan, evaluasi, akreditasi, hingga tuntutan kinerja sering kali menyita energi yang besar. Ironisnya, tuntutan profesional ini tidak selalu sejalan dengan penghargaan yang diberikan.

Profesionalisme tanpa kesejahteraan adalah ketimpangan. Tidak adil menuntut kualitas tinggi tanpa menyediakan dukungan yang memadai.

Ketika Kata Mulia Menjadi Tameng

Kata-kata seperti “pahlawan tanpa tanda jasa”, “ladang pahala”, dan “amal jariyah” sering dilontarkan kepada guru. Di satu sisi, ungkapan ini mengandung penghormatan. Namun di sisi lain, ia kerap digunakan sebagai tameng untuk menutupi ketidakseriusan dalam memenuhi hak guru.

Penghormatan sejati tidak berhenti pada pujian. Ia harus terwujud dalam kebijakan, perlindungan, dan kesejahteraan yang konkret. Jika tidak, kata-kata mulia itu hanya menjadi retorika kosong.

Menghargai guru bukan berarti menempatkan mereka di atas manusia lain, tetapi memperlakukan mereka secara adil dan bermartabat.

Ikhlas dan Adil Tidak Bertentangan

Ada kesalahpahaman yang cukup mengakar: seolah-olah memperjuangkan hak bertentangan dengan keikhlasan. Padahal, keduanya tidak saling meniadakan. Seseorang bisa ikhlas dalam bekerja sekaligus menuntut keadilan dalam sistem.

Ikhlas adalah urusan batin, sementara keadilan adalah urusan sosial. Ikhlas tidak boleh dijadikan alasan untuk menutup mata terhadap ketimpangan. Justru sistem yang adil akan melahirkan keikhlasan yang lebih tulus, bukan keikhlasan yang terpaksa.

Ketika guru merasa dihargai dan dilindungi, mereka akan mengajar dengan hati yang lebih tenang dan pikiran yang lebih fokus. Pendidikan pun berjalan dengan kualitas yang lebih baik.

Dampak Ketidakadilan yang Sering Diabaikan

Ketika guru terus-menerus diminta berkorban tanpa kepastian, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh guru itu sendiri. Dunia pendidikan secara keseluruhan ikut menanggung akibatnya.

Motivasi menurun, semangat mengajar terkikis, dan kelelahan emosional semakin nyata. Dalam jangka panjang, profesi guru menjadi kurang diminati generasi muda. Mereka melihat ketidakpastian dan memilih jalan lain yang dianggap lebih menjanjikan.

Jika kondisi ini dibiarkan, krisis pendidik bukan lagi ancaman, melainkan kenyataan.

Mengembalikan Martabat Profesi Guru

Menghargai guru harus dimulai dari cara pandang. Guru bukan pekerja sukarela yang bisa dibayar dengan doa dan janji pahala semata. Mereka adalah profesional yang layak mendapatkan pengakuan, perlindungan, dan kesejahteraan.

Kesejahteraan bukan kemewahan, melainkan prasyarat agar guru dapat menjalankan tugasnya dengan optimal. Guru yang sejahtera secara lahir dan batin akan lebih mampu mendidik dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Martabat guru tidak terletak pada seberapa besar pengorbanannya, tetapi pada seberapa adil sistem memperlakukannya.

Menghormati Tanpa Memanfaatkan

Keikhlasan adalah nilai luhur yang patut dijaga. Namun ia tidak boleh dijadikan alat untuk membungkam suara keadilan. Guru boleh ikhlas, tetapi sistem tidak boleh semena-mena. Guru boleh mengabdi, tetapi negara dan masyarakat wajib hadir memberi perlindungan dan kesejahteraan.

Sudah saatnya kita berhenti memuliakan guru dengan kata-kata sambil mengabaikan hak-haknya. Penghormatan sejati terwujud bukan dalam pujian yang indah, melainkan dalam kebijakan yang adil dan keberpihakan yang nyata.

Sebab pendidikan yang bermartabat hanya bisa lahir dari guru yang diperlakukan secara manusiawi.

(red. dipetik dari beberapa sumber)

 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 4260367920739760990

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close