Belajar Berani Berpendapat Lewat Debat Siswa di Sekolah Alam

Suasana berlangsungnya debat antar kelompok siswa SMAN Omber Sampang
Sampang, Rulis: Pagi yang cerah menjadi saksi semangat para siswa yang berkumpul di lapangan basket untuk mengikuti kegiatan debat siswa dalam rangka pelaksanaan program Sekolah Alam. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar alternatif yang mengajak siswa berlatih keberanian berbicara, menyampaikan pendapat, serta berargumentasi secara logis dengan tema-tema yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Pada pertemuan kali ini, tema yang diangkat cukup menarik dan kontekstual, yakni berkata kasar dalam pertemanan serta penggunaan make up berlebihan di sekolah. Tema-tema tersebut dipilih untuk melatih kepekaan siswa terhadap aturan sekolah, norma sosial, dan etika dalam kehidupan bersama.
Kegiatan debat ini dipandu oleh Ibu Wadiyah dan Bapak Rizal Akbroni sebagai pendamping kegiatan. Setiap sesi debat mempertemukan dua kelompok, yakni kelompok pro dan kelompok kontra, yang saling beradu argumen sesuai posisi yang telah ditentukan. Seluruh rangkaian kegiatan dimoderatori oleh Bapak Qomaruddin, yang memastikan jalannya debat berlangsung tertib, terarah, dan tetap menjunjung etika berdiskusi.
Terdapat tiga sesi debat dalam kegiatan ini. Menariknya, setiap sesi diawali dengan bermain peran yang disesuaikan dengan topik pembahasan. Sesi pertama mengangkat persoalan siswa yang berpakaian tidak rapi dan melanggar aturan sekolah. Sesi kedua membahas penggunaan make up berlebihan di lingkungan sekolah. Sementara sesi ketiga membicarakan kebiasaan berkata kasar dalam pertemanan.
Setiap sesi berlangsung dinamis dan penuh antusiasme. Adu argumen antar kelompok terasa hidup, dengan masing-masing pihak berusaha mempertahankan pendapatnya secara rasional. Salah satu sesi yang paling menyita perhatian adalah debat pada tema berkata kasar dalam pertemanan. Pada sesi ini, kelompok pro dipimpin oleh Rani, sementara kelompok kontra dipimpin oleh Nayla.
Perdebatan berlangsung cukup sengit dan menarik. Kedua kelompok mampu menyampaikan argumen yang kuat dan logis. Kelompok pro berpendapat bahwa berkata kasar antar teman dapat dimaklumi jika dilakukan sebagai bentuk guyonan untuk menambah keakraban. Sementara itu, kelompok kontra menolak pandangan tersebut dengan alasan bahwa kebiasaan berkata kasar tetap melanggar aturan sekolah dan norma dalam kehidupan bersama.
Setelah seluruh sesi debat selesai, para siswa kembali berkumpul untuk mengikuti sesi penguatan. Para pendamping memberikan penjelasan mengenai teknik berdebat yang baik serta pentingnya saling menghargai perbedaan pendapat. Melalui sesi ini, siswa diajak memahami bahwa aturan bukan sekadar larangan, melainkan bagian dari tata cara hidup bersama yang harus dipahami dan dijalani.
Nama-nama seperti Naura, Hani, Nayla, dan Bilaludin menjadi sorotan dalam kegiatan ini. Mereka dinilai mampu berdebat dengan baik, menyampaikan argumentasi secara runtut, serta menjaga etika diskusi. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa siswa mampu berdialog secara kritis tanpa mengabaikan sikap saling menghormati.
Pada sesi refleksi, para siswa mengungkapkan rasa senang mengikuti kegiatan debat tersebut. Mereka merasa mendapatkan pengalaman berharga dalam belajar berargumentasi dan melatih keberanian berbicara di hadapan orang lain. Kegiatan ini dinilai mampu melatih mental siswa dalam menghadapi persoalan serta menyampaikan pendapat secara terbuka.
Ibu Wadiyah menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas suksesnya pelaksanaan program ini. Ia mengaku bangga menyaksikan para siswa mampu berdebat dan mempertahankan pendapat dengan penuh semangat. Menurutnya, kegiatan ini berlangsung di luar dugaan karena berjalan seru, hidup, dan menyenangkan.
Sementara itu, Kepala SMAN 1 Omben menyampaikan bahwa kegiatan debat ini semakin meyakinkan para guru bahwa sekolah memiliki siswa-siswa hebat yang perlu terus dibina. Ia menilai para siswa memiliki potensi besar yang tinggal diarahkan dan dikembangkan. Kebanggaan tersendiri dirasakannya saat melihat siswa mampu memberikan alasan yang logis untuk menerima maupun menolak suatu persoalan.
Senada dengan hal tersebut, Bapak Qomaruddin menegaskan bahwa kegiatan debat ini bertujuan melatih keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat, membangun kemampuan berargumentasi secara logis, serta memahami manfaat aturan sekolah dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Melalui kegiatan ini, Sekolah Alam tidak hanya menjadi ruang belajar akademik, tetapi juga wadah pembentukan karakter, keberanian, dan kemampuan berpikir kritis siswa sejak dini.
(Penulis Hidayat Raharja/Editor: Rulis)
Pilihan




