Sepucuk Sepi Bernama Arsyad
Cerpen: Yulputra Noprizal*)
Setibanya di kedai kopi Ahas, tanpa memandang ke sana-sini, seperti tentara, pemuda itu langsung duduk di bangku kedai. Kipas angin dinding di kedai itu tak ia rasakan benar embus anginnya. Meski celana dan bajunya bersih, tatapan matanya kosong dan wajahnya nampak pasi. Pemuda itu lantas memesan segelas kopi. Ia duduk, mengeluarkan hp sebentar, lantas memasukakannya lagi ke saku celana selututnya. Ia duduk layaknya orang sibuk. Benar-benar tak mau diganggu.
Suara sendok beradu dengan gelas di pojok kedai. Tak lama Ahas pun menghidangkan segelas kopi kepada pemuda itu dengan sopan. Pemuda itu lantas mengeluarkan sebungkus rokok dari celana selututnya. Suara kendaraan di luar kedai silih berganti seperti di kota saja. Angin sore semilir. Dan, pemuda itu memantik korek gas untuk menyalakan rokoknya.
Ahas maklum saja pada gaya pemuda itu. Ia pemuda stres. Kerjanya hanya keluyuran saja setiap hari, bersama sebatang rokok di tangan, di sepanjang jalan desa.
Selalu bila sore sudah tiba ia datang ke kedai kopi Ahas. Duduk, bermain hp sebentar, menghabiskan berbatang-batang rokok dan segelas kopi.
Arsyad nama pemuda itu.
*****
Di dusun Sungaijadi siapa yang tak mengenal Arsyad. Anaknya tampan, suka menyapa, dan ramah. Ia anak Rosni, penjual lontong sayur dekat sekolah. Ayahnya Sidar, seorang petani. Arsyad sering juara kelas. Terkenal supel di sekolah.
Arsyadlah satu-satunya murid SMA 1 Padangate yang lulus SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) di universitas Pulau Jawa--dan, sebuah universitas favorit pula.
Namun, belum empat tahun kuliah di Jawa akhirnya Arsyad pulang. Ia turun dari mobil travel tanpa membawa tas. Hanya pakaian yang melekat di tubuhnya saja. Seharusnya ia membawa tas. Berisi pakaian dan buku-buku--karena sejak SMA Arsyad rajin membaca.
Melihatnya, Rosni segera berfirasat, sudah terjadi hal yang tak diinginkan pada diri anaknya. Wajah Arsyad muram. Ia kusut-masai. Nampak seperti orang belum mandi dalam seminggu. Setelah Arsyad duduk di kursi ruang tamu, Rosni langsung menangis. “Arsyad sudah tidak mampu lagi kuliah, Mak,” kata Arsyad.
******
Di Jawa (Kota JT) logat Arsyad yang medok Minang tidak sampai setahun sudah bisa bicara layaknya orang Jakarta. Namun, pada Semester I, II hingga Semester III nilai akademik Arsyad jelek. IP-nya tak sampai 2,5. Rendah untuk Ilmu Sosial. Itu karena kegagapan Arsyad dalam mengerjakan tugas kuliah yang serba internet dan komputer.
Arsyad tidak punya kawan dekat di kampus dan kosan. Ia sulit bergaul karena tidak bisa bahasa Sunda--Arsyad terkecoh, dikiranya orang di kampus berbicara bahasa Indonesia (atau bahasa Jakarta) semua, tapi ternyata mayoritas mahasiswa di kampus orang Sunda. Kesepian. Sampai akhirnya Arsyad berkawan dengan Susanto dan Rudi--mereka satu fakultas, dan kedua kawan ini jeblok juga nilai akademiknya.
Merasa senasib (kedua kawan ini tak bisa juga bahasa Sunda dan tidak ada sunda-sundanya). Mereka sering makan bareng pada malam hari. Mereka sering pergi dengan mobil Susanto ke Kota B sekedar melihat pemandangan kota, atau duduk di kafe, atau mengunjungi tempat-tempat yang ramai.
Akrablah mereka. Namun, di hati kecilnya, Arsyad risih. Bergaul dengan Susanto dan Rudi. Itu karena kedua kawan ini bergaya hidup borjuis dan hedon. Sedangkan Arsyad hanyalah pemuda dusun sederhana yang uang bulanannya pas-pasan. Kedua kawan ini juga orang egois. Suka menang sendiri. Bawaannya curhat saja kalau sedang menginap di kosan Arsyad, atau Arsyad yang menginap di kosan Susanto atau Rudi. Mereka selalu ingin didengar. Selalu ingin dimengerti.
Arsyad berusaha menjauh dari kedua kawan ini. Tapi apa boleh buat, di kampus, Arsyad--setelah ia berusaha bergaul--tidak juga dapat kawan akrab.
Pada pengunjung semester VI, ada seorang perempuan yang suka dan gebet Arsyad di kampus. Perempuan ini terkenal, berprestasi, manis, dan berpenampilan tomboy. Lewat seorang kawan, perempuan ini nitip salam (nembak) Arsyad. Tanpa pikir panjang, Arsyad pun menerimanya. Mereka pun berpacaran.
Kehadiran perempuan ini mengusir sedikit rasa sepi Arsyad.
Pacarannya cuma “begitu-begitu saja”. Bercengkrama di kampus. Berkunjung ke kosan masing-masing. Dan, sering makan malam bareng. Sesekali mereka jalan-jalan di sekitar kota JT (kawasan kampus) sekedar melihat-lihat keramaian malam.
Kemudian tersebar kabar di kampus, Mira patah hati. Itu karena Arsyad membentak Mira pada sebuah sambungan WA. Alasan Arsyad membentak karena akhir-akhir ini Mira begitu sibuk dengan dirinya sendiri dan kawan-kawannya, sehingga sering abai terhadap Arsyad.
Susanto yang sudah lama suka Mira mengambil kesempatan ini. Ia pun mendekati Mira. Tapi Mira sama sekali tak tertarik dengan Susanto. Ngobrol dan duduk bareng pun mereka tak pernah. Hanya berbicara lewat hp. Itu pun Mira selalu memutus sambungan secara sepihak.
Pada suatu tengah malam Mira pulang dari kosan kawannya habis mengerjakan tugas kuliah. Diikuti Susanto dengan mobil dari belakang. Mobil melaju pelan-pelan. Arsyad baru keluar dari sebuah warung kopi. Menyaksikan Mira berjalan sendirian, dan ada mobil pelan-pelan mengikutinya dari belakang, Arsyad mengikuti mobil itu. Ia tahu itu mobil Susanto.
Setibanya Mira di pagar kosannya, hendak membuka pintu pagar, Susanto menghentikan mobilnya. Ia buka pintu mobil, berlari, dan ligat mencengkram tangan Mira. Ia pegang kuat-kuat pergelangan tangan Mira. Susanto mengiring Mira ke arah kiri mobil. Dengan membukakan pintu kiri mobil, Susanto memaksa Mira naik ke mobilnya. Arsyad tiba di dekat mereka.
Melerai apa yang sedang terjadi. Malu dengan Arsyad yang merupakan kawan akrabnya, Susanto menutup pintu kiri mobilnya. Dan, kembali ke atas mobil.
Setelah mobil Susanto pergi, Arsyad dan Mira saling pandang. Seperti sama-sama mengerti apa yang bergejolak di hati. Tanpa ucapan terima kasih, Mira membuka pintu pagar kosannya. Berlalu. Menuju ke kamar kosannya. Arsyad pun perlahan berjalan meninggalkan tepi jalan itu.
Lantas, terjadilah peristiwa malam itu. Yang tak pernah Arsyad duga dan sangka.
Susanto dan Rudi mengajak Arsyad ke kosan Susanto. Di sana sudah menunggu dua kawan Susanto dan Rudi, mereka preman yang dibayar (sama-sama ceking, sangar, dan bertato), di dalam kamar. Mereka semua duduk melingkar sembari tertawa-tawa. Arsyad disuruh, diajak Susanto, duduk di tengah.
“Patah hati Mira sama lu. Lu sudah ngentot sama Mira. Dasar orang dusun, nggak tahu diuntung,” kata Susanto sembari menyodorkan kaca ke muka Arsyad. “Ngaca lu, ngaca. Lu siapa, lu apa.”
Susanto, Rudi, dan kedua kawan mereka pun bernyanyi-nyanyi lagu cinta dengan gitar--bernada sumbang. Nyanyian behernti sekejap, lantas tertawa-tawa.
“Melihat pacarnya patah hati, teman kita ini patah hati juga sebenarnya. Kayaknya butuh hiburan nih,” kata seorang yang berambut ikal gondrong.
Tiba-tiba bernyanyi pun berhenti. Rudi dan kedua kawan yang lain diam. Berpura-pura larut dengan pikiran masing-masing.
Sesaat suasana jadi hening.
Susanto mendekati Arsyad yang sedang duduk, nampak kebingungan. Susanto lantas memegang bahu Arsyad dan mengajaknya berdiri. Mereka pun sama-sama berdiri, berhadap-hadapan. Susanto menampar Arsyad. Meninju perutnya tiga kali, yang membuat Arsyad tersungkur.
“Kalau bukan karena ada lu, Mira sudah ke B malam itu sama gue,” kata Susanto.
Yang lain lantas bernyanyi-nyanyi lagi sembari tertawa-tawa. Arsyad berjalan keluar kamar kos terhuyung-huyung, seperti ingin muntah. Ia memandang langit malam dan merasakan udara yang seperti mati.
“Orang kampung nggak tahu diri lu,” kata Rudi sambil meninju perut Arsyad.
Arsyad lantas masuk ke kamar kosan--ia sungguh tidak mengerti apa sebenarnya maksud semuanya.
Susanto mengeluarkan tiga botol vodca dari lemari pakaiannya. Sebotol vodca dibuka dan empat gelas dihidangkan. Susanto, Rudi, dan kedua preman bayaranya minum. Ia memaksa Arsyad minum juga.
Sudah pukul 2 dini hari.
“Tidak ada maksud apa-apa Arsyad. Ini permainan saja,” kata Rudi. “Permainan yang menghibur. Menghibur kawan yang pacarannya lagi berantakan.”
Arsyad berdiri, ingin pulang ke kosannya--kabur.
Namun, kedua preman bayaran Susanto dan Rudi lantas sama-sama melayangkan pukulan ke belakang kepala Arsyad--juga ke perutnya. Arsyad kembali tersungkur, di lantai kamar kosan. “Gebetan teman lu embat juga,” kata salah seorang dari mereka. Mereka menginjak Arsyad. Lantas mereka sama-sama tertawa.
Malam itu Arsyad sampai di rumah kosnya hampir Subuh. Dalam keadaan setengah mabuk, was-was, cemas, dan takut-takut. ”Dunia pacaran. Susanto gebet Mira, jangan-jangan Rudi juga suka Mira,” batin Arsyad, yang lantas menelentang di kasur kamarnya.
Semenjak itu Arsyad tak lagi berkawan dengan Susanto dan Rudi. Sedangkan hubungan Arsyad dan Mira putus.
Seiring waktu, Arsyad jadi sering menyendiri di kampus. Di kosan, ia terus-menerus merenung, dan mengurung diri di kamar seusai pulang kuliah. Ia terus-menerus memikirkan nilai akademiknya yang tidak sesusai harapan. Dan tujuannya kuliah ke Jawa terasa sudah menyimpang, ia sudah begitu larut dengan perkawanan dengan Susanto dan Rudi, tapi di hatinya Arsyad di menyadari:”Ngobrol sering mutar sana-mutar sini, tapi ternyata tujuannya cari pacar, sering pula diistilahkan dengan gundik.”
Seorang tukang warung tempat langganan Arsyad makan, menganjurkan Arsyad berobat. “Kamu sudah tidak beres. Kalau bicara sering diulang-ulang,” kata tukang warung.
Datanglah seorang tabib ke warung itu. Ia mengobati Arsyad. Arsyad menceritakan semua kejadian sebelum dia merasa diri was-was, cemas, dan takut-takut. Menurut tabib, jalannya Arsyad harus balikan dengan Mira. Karena Mira, kata tabib itu, begitu mencintai Arsyad. “Dan jujur kamu cinta juga kan sama Mira,” kata tabib itu.
Berobat ke tabib terjadi berulang-ulang. Membuat uang SPP Arsyad terpakai. Lama berpikir, Arsyad menghubungi Mira juga akhirnya.
Setiap malam Arsyad menelepon dan mengobrol dengan Mira, sesuai saran tabib. Terkadang, pada pengunjung obrolan, ia kutip juga sebaris-dua baris puisi yang sudah ia baca di internet, ia kirim lewat chat WA--untuk menemani Mira sebelum mata mengantuk.
*****
Di sofa sebuah kafe di Kota B, Mira sedang tiduran di paha seorang pemuda. Pemuda ini anak kuliahan juga. Tapi di kampus swasta yang tidak top di Kota B. Mira adalah gebetan pemuda ini. Namun, Mira masih menahan diri untuk menerima cintanya karena baginya Arsyad lebih tampan dan lebih ber-”prospek” daripada dia. Sewaktu mula Mira pacaran dengan Arsyad mereka belumlah berpacaran. Mereka jadian sesudah Mira patah hati.
Dan sampai di sini, pembaca sekalian harus tahu, kalau tabib yang datang ke warung untuk mengobati Arsyad itu sebenarnya “suruhan” Mira. Ia mengobati Arsyad, sekaligus hendak menguji: seberapa besar cinta Arsyad pada Mira.
Sementara Arsyad, merasakan hidup bukan hidupnya lagi. Merasa semua yang dijalaninya bukan apa yang hendak dijalaninya. Merasa jalan hidup terasa begitu terjal dan mendaki tinggi. Ia pun lantas menghilang dari kampus seperti ditelan bumi.
Arsyad di kosan saja selama satu semester, karena uang SPP sudah terpakai. Keluar paling beli makan, beli rokok, dan beli gula-teh.
Akhir Semester VII , dengan uang sisa bulanannya, Arsyad putuskan pulang kampung.
*****
Hari sudah Magrib. Suara azan berkumandang dari toa masjid. Setelah membuang puntung rokok terakhirnya dan membayar kopi, Arsyad keluar dari kedai kopi Ahas.
Selalu begitu setiap hari. Bila hari sudah Magrib, ia meninggalkan kedai kopi Ahas. Ia lantas berjalan menyusuri remang gelap kampung menuju rumahnya.
Sesampai di rumah, ibunya akan menangis melihatnya. Ia kembali meminta uang untuk beli rokok. Yang akan menemaninya menonton tv hingga larut malam.
*) Yulputra Noprizal, lahir di Air Haji pada 11 November 1985. Penyuka dan penikmat sastra. Tinggal di Air Haji, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat.
Pilihan





