Di Ujung Timur, Sejuta Asa
Cerpen: Sukarsih Apriani
Udara segar menyapa ketika kubuka jendela kamar di lantai dua kontrakanku. Dari sana, hamparan laut dan langit seolah berpadu dalam garis cakrawala yang tenang. Tak terasa, setahun sudah aku menjalani tugas negara di ujung timur Pulau Madura, sekitar 150 kilometer dari Kota Sumenep. Pulau yang dikenal sebagai Pulau Bekisar ini perlahan menjadi rumah keduaku.
Tak pernah terlintas sebelumnya bahwa aku akan memulai kehidupan baru di pulau kecil ini—dengan segala pengalaman yang mengusik batin. Di sini, hampir 90 persen orang tua muridku merantau ke Malaysia demi mengumpulkan materi: membangun rumah impian, menaikkan derajat, dan meraih pengakuan sosial. Namun, di balik kiriman uang yang rutin, ada ruang kosong yang tak tergantikan—kasih sayang, perlindungan, dan bimbingan bagi anak-anak mereka. Murid-muridku tumbuh dengan kebutuhan materi yang tercukupi, tetapi jiwa mereka sering terasa sunyi.
Kisah itu pula yang menjadi trauma mendalam bagi ibu Mila.
“Tidak, Bu... maaf, saya tidak bisa membiarkan Mila jauh dari saya,” ucapnya lirih, terisak.
“Kenapa, Bu? Mila anak yang sangat cerdas. Ini kesempatan emas. Tahun depan usianya sudah tidak memenuhi syarat,” jawabku, menahan rasa kaget melihat ketakutan di wajahnya.
Dengan suara bergetar, ia bercerita bahwa sejak kelas dua SD, Mila ditinggal ayahnya yang merantau dan tak pernah kembali. Delapan tahun tanpa kabar. Mila adalah anak satu-satunya—satu-satunya penguat hidupnya.
Tak mudah membujuknya agar mengizinkan Mila mengikuti Olimpiade Sains Nasional tingkat kabupaten (OSK).
“Ibu jangan khawatir. Kami yang akan bertanggung jawab. Insyaallah hanya dua hari di kota,” kataku meyakinkan.
“Benar, Bu. Selain Mila, Ina dan Ika juga ikut sebagai perwakilan matematika dan IPS,” tambah Bu Dina membantuku.
“Bagaimana, Bu?” tanyaku pelan.
Ia terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
“Alhamdulillah,” ucapku dan Bu Dina serempak.
Dua hari kemudian, kami berkumpul di pelabuhan. Kapal ekspres berangkat pukul 09.00—transportasi andalan yang memangkas perjalanan laut menjadi lebih singkat dibanding kapal biasa yang bisa memakan waktu hingga sebelas jam.
Pukul 08.15 Mila belum juga terlihat. Kekhawatiran mulai merayap. Syukurlah, pukul 08.30 ia datang bersama ibunya dengan napas terengah.
“Maaf sudah membuat Ibu menunggu,” kata ibunya.
“Tidak apa-apa, Bu. Kami sempat khawatir Ibu berubah pikiran,” jawabku tersenyum.
“Tadi kami membeli oleh-oleh untuk Ibu,” katanya sambil menyerahkan bingkisan plastik. “Ada kamboya dan melon tembang.”
“Alhamdulillah, terima kasih, Bu,” jawab kami bersamaan. Melon tembang memang terkenal manis dan menjadi kebanggaan pulau ini.
Suara klakson kapal memecah perpisahan singkat itu. Kami pun berpamitan dan melangkah menuju kapal dengan hati berdebar.
Perjalanan laut berjalan lancar. Setiba di kota, kami menuju penginapan.
“Ibu lihat kalian lelah. Istirahat dulu,” kataku sebelum menutup pintu kamar mereka.
“Terima kasih, Bu,” sahut mereka serempak.
Keesokan harinya, di lokasi tes, kegelisahan tampak jelas di wajah mereka. Rasa minder sebagai “anak pulau” tak bisa disembunyikan di tengah gemerlap fasilitas anak-anak kota.
“Bagaimana? Bisa mengerjakan?” tanya Bu Dina saat mereka keluar dari ruang ujian.
“Alhamdulillah, bisa, Bu,” jawab mereka pelan.
“Yang penting sudah berusaha maksimal. Proses tidak akan mengkhianati hasil,” kataku memberi semangat. “Kalau mau beli oleh-oleh, nanti Ibu antar. Pengumuman seminggu lagi. Besok kita pulang.”
Kami kembali ke pulau dengan sejuta harap.
Seminggu terasa begitu lama. Hingga suatu siang, telepon genggamku berdering. Kepala sekolah menelepon.
“Assalamualaikum, Bu Arsih. Selamat, ya. Alhamdulillah siswa kita juara satu OSK untuk IPA!”
“Alhamdulillah ya Allah...” ucapku nyaris tak percaya.
“Tolong sampaikan ke Mila. Tiga hari lagi ia akan mendapat bimbingan dari Tim OSN Jawa Timur.”
“Siap, Pak. Terima kasih atas informasinya.”
“Mila,” panggilku ketika ia melintas di depan ruang guru.
“Iya, Bu?”
“Mila, selamat. Kamu juara satu OSK.”
“Alhamdulillah,” jawabnya singkat, namun matanya berbinar.
“Itu berkat kerja kerasmu dan doa ibumu yang tak pernah putus. Ingat pesan Ibu: Man jadda wajada—siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil.”
“Terima kasih, Bu, atas semua semangatnya,” ucapnya sebelum kembali ke kelas.
Aku memandang punggung kecil itu hingga menghilang di ujung koridor. Dalam hati aku bergumam, mungkin inilah salah satu rahasia takdir-Mu, ya Allah. Engkau menempatkanku di pulau ini untuk menemukan mutiara terpendam di antara debur ombak dan sunyi perantauan.
Menjalani tugas negara di sini bukan perkara mudah—aku berdiri di antara tugas dan cinta, di antara keikhlasan dan tanggung jawab. Namun hari itu aku mengerti, di ujung timur yang sederhana ini, harapan bisa tumbuh setinggi langit.
(Editor: Rulis)
Pilihan




