Puisi-Puisi M.Lailul Mubarok
M.Lailul Mubarok Alumnus Siratul Islam beberapa puisinya tersebar di media online maupun cetak
Pohon Yang Gugur
Hujan sudah lama tak menyapamu
Dan mendung hanyalah angan
Dalam pelukan erat tubuhmu.
Angin telah menggugurkan satu-persatu
Matahari telah membakarku
Di tengah jeritan tanpa suara.
Tuhan
Bisakah aku menelan segala hidup ini
Agar mereka tidak mati
Dalam pelukan sunyi.
Aksara rumi,2026
Ku saksikan
Ku saksikan tubuh sedang bermain
Dengan batu menyetubuhi sepi
Berputar dalam hayalan industri.
Lalu, ia patahkan batu dengan pisau
Padaku gembiranya menyaksikan.
Dengan sekejap
Batu itu marah dengan ngembara
Hingga kepalanya di makan sakit
Hingga tubuhnya di hirup langit.
Ssuuuttt!
Aksara rumi,2026
Dalam Pelukan Angan
Ku harap pelukan ini terkirim kepadamu
Meski aku harus berpura-pura menelan rindu
Agar sunyi tak selalu mengingatkan senyummu.
Hirup adalah caraku bercerita
Tanpa suara
Namun kata hidup dalam nyata.
Alis yang menutup mataku dengan pelan-pelan
Telah membawa rindu
Dalam gelombang doa itu.
Aksara Rumi,2025
Ku Titipkan Rindu Pada Angin
:Helyatul marzuqoh
Aku tak kuat menelan rindu ini
Aku tak kuat menahan harapan yang sebatas ilusi
Aku tak kuat menatap janji
Yang pada akhirnya ia hidup dalam kata sunyi.
Biarkan angin yang menghaturkan rindu ini, padamu
Biarkan angin menghadapi segala rintangan itu
Tugasku saat ini adalah melawan segala masalah
Menyambung cinta yang mulai putus satu-persatu
Agar kita masih bisa menatap gembira
Yang mulai dulu kita rakit Bersama.
Semoga tuhan menyutui segala janji
Yang terbang Bersama keraguan sunyi.
Aamiin.
Aksara Rumi,2025
Hidup Yang Di Telan Masa
Seorang anak yang duduk di lubang kematian
Tubuhnya telah di telan oleh masa
Dan ia hanya bisa pasrah pada maha kuasa.
Harapan telah gugur Bersama sepi
Bagaikan umur yang di telan oleh hari.
Nyawanya semakin hari semakin sesat
Hingga tubuh jauh dari kata kuat
Dan kematian telah berpegangan dengan erat.
Aksara Rumi,2026
Tiga Sajak
(1)
Malam kali ini berkeliaran
Menyertai tubuh di penuhi kata pesakitan
Padamu mengalunkan segalanya
Tanpa mengingat artikel halaman, Tuhan.
(2)
Senja mulai menggelatakkan tubuhnya
Mengatur kata nyaman di tengah tanpa cahaya
Serta memanggil mimpi
Agar menyetubuhi jika terlelap.
Apakah senja juga bisa tidur?.
(3)
Fajar sedang tertidur?
Apakah fajar bermimpi dengan teratur?.
Sakit Yang Tak Kunjung Pergi
Kini
Tubuh berkelahi di tengah keheningan tawa
Memaksa diri agar tidak terjerumus dalam dosa.
Harapan adalah sahabatku saat ini
Dan sakit adalah tamu dalam kesempitan sunyi
Namun, aku tak ingin menahan keduanya
Karena ada kenyamanan yang tak sempat menyapa.
Nyaman telah hilang Bersama angan
Dan sakit selalu mengikuti alunan duka
Hingga gembira tak sempat bersuara
Di akhir perpisahan lama akan datang.
Si Anak Petani,2026
Di Belakangmu
Di depan tuhan
Tubuh membungkuk
Dengan doa membaca artikel halaman
Dalam ruang yang hendak masuk keabadian.
Di belakangmu
Mata menyusuri segala keinginan
Mengatur jalan
Dalam ruang khayalan.
Kini
Aku mengeja kata bersama sunyi
Bertanya tentang keadaanmu
Yang tak sempat membisu.
Si Anak Petani,2026
Di Ruang Sunyi
Gelap menyelimuti segala tubuh
Mata terpejam tanpa arah
Suara sunyi begitu ramai
Bertebaran di lengkuk ruangan.
Fikiran bingung
Oleh gelapnya keadaan
Namun sunyi
Mencernakkan jalan keinginan.
Sunyi telah berkata
Dengan tanpa suara.
Akulah pengantarmu dalam keabadian.
Si Anak Bungsu,2025
Kemana Pergimu
Masihkah bersamanya
Bukan nyerah sudah melepaskan kata
Namun ini adalah godaan
Hidup dalam ruangan cahaya.
Tuhan
Hilangkanlah kata nyerah
Agar aku tetap menjalani janji
Yang sudah terlontarkan di halaman sunyi.
Kini
Aku tak banyak melahirkan suara
Hanya membisu
Yang ku makan setiap waktu.
Si Anak Bungsu,2025
Harapan
:ibu
Di sepanjang tali kenakalanku
Dalam gelapnya malam Hingga kelamnya
Kutitipkan seribu harapan padamu, ibu
Meski dosa dan kegembiraan selalu kulahap
Walaupun aku tak tau kapan nyawaku sekarat.
Semoga tuhan memanggilmu
Sehabis jiwaragaku
Namun, sebelum mulut mengecup telapak kakimu
Dengan jerih payah kelelahanku.
Jika hal itu tidak terjadi
Aku tak ingin memelihara kepedihan ini
Dan lebih baik aku mati
Bersamamu di ruang sunyi.
Si Anak Petani,2025
Apakah Ajal Sudah Mencatatku?
Tubuh telah menyusui jalan
Untuk berkelahi dengan keadaan hujan
Pukulan demi pukulan melebihi urat nadiku
Namun bukanlah hujan pemenangnya.
Melainkan tanpa ingin
Yang menyerang dengan gembira
Hingga aku terkapar
Di jalan mata banyak menyaksikan.
Ajal
Sudahkah aku singgah di lembaranmu?
Si Anak Bungsu,2025





