Santri yang Menjaga Waktu
Cerpen: Yoyok Alfianto
Di sebuah pesantren yang tidak terlalu besar, hiduplah seorang santri yang dikenal sangat sederhana. Namanya tidak pernah terlalu sering disebut, dan wajahnya pun tidak menonjol di antara ratusan santri lain. Namun, bagi mereka yang benar-benar memperhatikan, ada sesuatu yang istimewa dalam dirinya.
Santri itu memiliki kebiasaan yang jarang dimiliki oleh teman-temannya: ia sangat pandai mengatur waktu. Sejak subuh hingga malam, hidupnya berjalan teratur. Ia bangun sebelum azan berkumandang, menyiapkan diri untuk shalat, lalu membaca Al-Qur’an dalam sunyi pagi. Setelah itu ia mengikuti pelajaran dengan penuh perhatian.
Di pesantren, kehidupan memang tidak selalu mudah. Bangun pagi, belajar kitab yang tebal, antri mandi, makan sederhana, dan berbagai aturan yang harus ditaati. Banyak santri yang terkadang mengeluh, merasa jenuh, atau diam-diam merindukan rumah.
Namun santri sederhana itu berbeda.
Ia hampir tidak pernah terlihat mengeluh. Baginya, semua yang ia jalani adalah bagian dari perjalanan mencari ilmu dan keberkahan. Ketika mendapat tugas membersihkan halaman, ia melakukannya dengan tenang. Ketika diminta membantu di dapur, ia mengerjakannya tanpa banyak bicara. Jika diberi amanah oleh gurunya, ia akan menjaganya sebaik mungkin.
Karena sifatnya itulah, suatu hari seorang ustaz memanggilnya.
“Mulai malam ini,” kata sang ustaz dengan suara tenang, “kamu bantu mengurus santri untuk shalat berjamaah. Ingatkan mereka jika waktu shalat tiba.”
Santri itu menunduk hormat.
“InsyaAllah, saya jalankan, Ustaz.”
Sejak hari itu, setiap azan berkumandang, ia berjalan dari kamar ke kamar. Dengan suara lembut ia mengetuk pintu.
“Sudah azan, ayo ke masjid.”
Awalnya semua berjalan biasa saja. Tetapi lama-kelamaan, tidak semua santri menyukainya.
Ada yang merasa terganggu karena sedang tidur. Ada yang kesal karena sedang bercanda. Bahkan ada yang sengaja tidak menyapanya ketika berpapasan.
“Dia sok rajin,” bisik sebagian santri.
“Mentang-mentang disuruh ustaz,” kata yang lain dengan nada sinis.
Santri sederhana itu tentu merasakannya. Ia melihat bagaimana beberapa teman mulai menjauh. Ada yang pura-pura tidak melihatnya. Ada yang menolak ketika diajak ke masjid.
Namun ia tidak marah.
Ia hanya tersenyum kecil dan tetap melakukan tugasnya. Dalam hatinya ia berkata, mungkin ini bagian dari ujian.
Setiap malam, setelah semua santri tidur, ia sering duduk sendirian di teras masjid. Angin malam berhembus pelan, dan lampu pesantren memantulkan bayangan panjang di lantai.
Di situlah ia sering berdoa.
“Ya Allah,” bisiknya pelan, “jika tugas ini baik, kuatkan aku menjalaninya. Jika ada yang tidak suka padaku, lembutkan hati mereka.”
Hari demi hari berlalu.
Tanpa disadari, kebiasaannya mengingatkan shalat mulai membawa perubahan. Beberapa santri yang dulu malas ke masjid perlahan ikut berjamaah. Ada yang awalnya terpaksa, tetapi lama-lama terbiasa.
Bahkan ada seorang santri yang suatu malam berkata kepadanya,
“Kalau kamu tidak bangunkan, mungkin aku masih tidur terus.”
Santri sederhana itu hanya tersenyum.
Waktu di pesantren berjalan cepat. Musim berganti, kitab demi kitab selesai dipelajari. Hingga suatu hari, tibalah saat yang tidak terhindarkan: ia harus boyong, kembali ke rumah setelah bertahun-tahun menuntut ilmu.
Kabar itu menyebar di kalangan santri.
Malam sebelum kepulangannya, suasana pesantren terasa berbeda. Beberapa santri yang dulu jarang menyapanya tiba-tiba datang menghampiri.
“Aku dulu sering kesal kalau kamu bangunkan shalat,” kata seorang santri sambil tertawa kecil. “Tapi sekarang justru terbiasa.”
Yang lain menambahkan,
“Kalau kamu tidak ada, siapa yang akan mengingatkan kami?”
Santri sederhana itu terdiam. Ia tidak menyangka kata-kata seperti itu akan keluar dari teman-temannya.
Pagi hari saat ia hendak berangkat, beberapa santri ikut mengantarnya sampai gerbang pesantren. Mereka menyalaminya satu per satu.
“Terima kasih sudah sabar mengajak kami dalam kebaikan,” kata seorang di antara mereka.
Saat langkahnya menjauh dari pesantren, banyak santri berdiri memandanginya. Mereka baru menyadari sesuatu yang dulu sering mereka abaikan.
Terkadang, orang yang paling sederhana justru membawa pengaruh yang paling besar.
Santri itu mungkin tidak pernah menjadi yang paling terkenal di pesantren. Ia juga tidak pernah mencari pujian.
Namun kesabarannya, ketulusannya, dan kebiasaannya menjaga waktu telah meninggalkan jejak di hati banyak orang.
Dan sejak hari itu, setiap kali azan berkumandang di pesantren itu, beberapa santri akan saling mengingatkan.
“Ayo ke masjid.”
Seolah-olah suara santri sederhana itu masih ada di antara mereka.(***)
Pilihan





