Akhirnya Saya Tahu Kenapa Guru-Guru Senior Kelihatan Malas dan Apatis

Supri HS (akun FB Supri HS)
Oleh: Supri HS
Dulu, saya adalah orang pertama yang akan stress ketika melihat guru-guru senior duduk diam di pojok ruang guru, tampak tak acuh saat ada sosialisasi program baru dari pemerintah. Dalam hati saya yang saat itu masih muda dan berapi-api, saya melabeli mereka dengan satu frasa: malas terlibat dalam kemajuan.
Dulu Saya adalah si motor penggerak. Saya pemburu pelatihan, pengadopsi pertama setiap ada aplikasi pendidikan terbaru, dan orang yang paling sibuk mengurus administrasi inovasi, serta peserta tetap lomba-lomba guru. Saya narasumber pengimbasan inovasi dan ilmu baru di lapangan untuk para guru.
Di momen itu, Saya merasa, guru senior acapkali menjadi hambatan tersendiri untuk gerakan perubahan. Sebab mereka cenderung apatis setiap kali diajak berinovasi. Tak bersemangat seperti kita yang muda-muda. Terkesan seperti penghambat kemajuan saja.
Namun kini,…
setelah waktu membawa saya ke posisi guru senior itu sendiri, saya menyadari betapa kelirunya penilaian saya dulu.
———
Ternyata, Apa yang saya rasakan sekarang, dan apa yang mereka rasakan dulu, bukanlah kemalasan. Melainkan Itu adalah sebuah “kelelahan sistemik”.
Sebuah kondisi di mana mental dan semangat seorang pendidik perlahan terkikis bukan oleh murid-muridnya, melainkan oleh birokrasi yang terus berputar tanpa arah yang jelas. Seperti lari maraton tak berujung.
Bagi mereka yang sudah mengajar puluhan tahun, mereka telah melihat pola yang berulang. Seringkali setiap ada menteri baru maka itu berarti kurikulum akan baru. Terobosan baru, gaya baru. Namun praktiknya tetap 11-12.
Mereka telah melihat program-program yang awalnya digembar-gemborkan sebagai revolusioner, namun selalu berakhir menguap begitu saja, hanya menjadi tumpukan dokumen yang memenuhi gudang sekolah atau folder di laptop. Untuk kemudian ditimpa oleh program yang baru oleh rezim selanjutnya.
———
Ternyata Sikap apatis yang muncul di kalangan guru senior sebenarnya adalah sebuah mekanisme pertahanan diri. Ada beberapa alasan pahit di baliknya:
1. Mereka memiliki arsip mental tentang tren pendidikan yang hanya berganti merek (re-branding). Mereka sadar bahwa istilah-istilah keren bisa berubah, namun beban administrasi biasanya justru bertambah berat. Namun hasilnya tak ada. Berkali-kali mereka mengalami itu seumur hidupnya.
2. Di fase senior, mereka tidak lagi mengejar pengakuan atau sertifikat untuk terlihat hebat. Fokus mereka bergeser. Mereka tidak lagi bertanya "Bagaimana cara saya menguasai aplikasi ini agar terlihat inovatif?", melainkan "Apakah aplikasi ini benar-benar membantu murid saya paham, atau hanya membuang waktu saya yang seharusnya bisa dipakai untuk mengajar?"
3. Di usia menjelang pensiun, energi adalah komoditas mahal. Mereka mulai melakukan kalkulasi terhadap energi yang dikeluarkan. Jika sebuah program terasa hanya bersifat seremonial menyukseskan program dari pusat (yang hanya sementara dan suatu saat akan berganti), mereka memilih menarik diri demi menjaga kestabilan emosional saat berhadapan dengan siswa di kelas. Mereka sudah banyak makan asam garam, sehingga jeli untuk memilah mana program musiman atau proyek, dan mana yang benar-benar berguna untuk mengajar.
———
Menjadi senior menyadarkan saya bahwa pendidikan bukan tentang seberapa banyak aplikasi yang kita unduh atau seberapa sering kita ikut pelatihan di hotel berbintang. Pendidikan adalah tentang interaksi manusia di dalam kelas.
Banyak dari guru senior yang memilih untuk "diam" bukan karena berhenti peduli, tapi karena mereka memilih untuk tetap fokus pada apa yang paling nyata: yaitu anak didik di kelas. Bukan data di dalam dashboard LMS. Mereka lebih memilih menjaga kewarasan mental agar tetap bisa tersenyum saat mengajar, daripada habis terbakar oleh tuntutan program dan administrasi yang sering kali tidak menyentuh akar permasalahan di lapangan.
———
Untuk rekan-rekan guru muda yang sekarang sedang bersemangat: teruslah berlari. Kami tidak bermaksud menghalangi. Namun, jangan buru-buru menghakimi diamnya kami sebagai bentuk ketidakpedulian.
Kami tidak berhenti bergerak, kami hanya sedang memilih jalan pintas yang paling pendek menuju pemahaman murid, bukan jalan yang paling ramai dengan tepuk tangan birokrasi. Kami sedang mengatur napas, agar api kecil di dalam diri kami tidak padam sebelum tugas ini benar-benar tuntas.
Sumber: akun FB Supri HS


