Ketika Tanda Baca Diperdebatkan, Substansi Dilupakan
Sebuah refleksi kritis tentang bagaimana budaya komentar instan di media sosial kerap mengabaikan kedalaman gagasan. Tulisan ini mengulas benturan lintas generasi dalam memaknai karya, posisi teknologi dalam proses kreatif, serta pentingnya menjaga martabat berkarya di tengah kebisingan kritik dangkal.
Oleh: Yahya Munajat
Belakangan ini, sebuah peristiwa kecil di media sosial justru membuka ruang perenungan yang cukup besar dalam benak saya. Sebuah komentar singkat, tampak remeh, namun menyimpan gejala yang lebih luas: bagaimana kita, sebagai individu dari generasi berbeda, memaknai karya, proses kreatif, dan cara berkomunikasi.Seorang anak muda—yang tidak saya kenal, bukan teman, dan bukan pula pengikut—memberikan komentar pada salah satu tulisan saya di Facebook. Namun alih-alih membahas isi atau gagasan yang saya tawarkan, ia memilih untuk menyoroti hal yang sangat teknis: tanda baca. Ia menertawakan penggunaan tanda baca saya yang dianggap “terlalu banyak”.
Di titik itulah saya melihat sebuah ironi yang cukup mencolok. Di satu sisi, saya sedang berupaya kembali menegakkan disiplin menulis setelah sekian lama tenggelam dalam dunia melukis dan aktivitas organisasi seni rupa di luar negeri. Sebuah proses yang tidak mudah, karena menulis—seperti halnya melukis—adalah latihan kesabaran, ketelitian, dan kejujuran intelektual. Namun di sisi lain, respons yang muncul justru berhenti pada permukaan, bahkan cenderung meremehkan.
Fenomena ini bukan sekadar soal komentar individu. Ia mencerminkan sebuah kecenderungan yang lebih luas dalam budaya digital hari ini: kecepatan sering kali mengalahkan kedalaman. Generasi yang tumbuh dalam budaya “teks singkat”—status singkat, caption ringkas, komentar cepat—cenderung melihat struktur bahasa yang lebih kompleks sebagai sesuatu yang berlebihan. Tanda baca yang padat dianggap kaku, bahkan mengganggu. Padahal dalam tulisan reflektif, tanda baca bukan sekadar ornamen, melainkan alat untuk menegaskan makna, ritme, dan emosi.
Kita sedang hidup di masa ketika bentuk sering kali lebih dihargai daripada isi. Orang lebih cepat bereaksi terhadap cara sesuatu disampaikan, daripada apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Dalam konteks ini, kritik terhadap tanda baca menjadi simbol dari kegagalan membaca secara utuh.
Padahal, menulis bukan sekadar merangkai kata. Ia adalah proses panjang yang melibatkan pengalaman hidup, perenungan, riset, dan keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Sama seperti melukis, menulis adalah napas. Ia bukan sekadar aktivitas, melainkan bagian dari eksistensi.
Saya pribadi tidak pernah melihat usia sebagai batas produktivitas. Justru sebaliknya, saya percaya bahwa berkarya hingga tua adalah bentuk perlawanan terhadap kemunduran intelektual. Lebih baik menjadi tua namun terus mencipta, daripada muda namun kehilangan arah dan kontribusi.
Dalam perjalanan kreatif ini, saya juga tidak menutup diri terhadap perkembangan teknologi. Saya bukan bagian dari kelompok yang menolak kecerdasan buatan secara mentah-mentah. Dunia terus bergerak, dan menolak teknologi sama saja dengan menolak adaptasi.
Namun, ada satu hal yang perlu ditegaskan dengan jelas: teknologi hanyalah alat, bukan sumber jiwa karya.
Dalam proses menulis, saya terkadang menggunakan alat bantu seperti AI—bukan untuk menghasilkan ide, melainkan untuk merapikan struktur. Ketika gagasan mengalir deras, draf awal sering kali menjadi terlalu panjang, berlapis-lapis, dan tidak efisien. Di situlah teknologi berfungsi sebagai “penyaring”, membantu merangkum tanpa menghilangkan esensi.
Peran ini sebenarnya tidak berbeda jauh dengan editor dalam dunia kepenulisan konvensional. Banyak penulis besar memiliki editor yang membantu menyempurnakan karya mereka—memperbaiki tanda baca, menyusun ulang kalimat, atau menyesuaikan ritme narasi. Apakah itu berarti karya tersebut bukan lagi milik penulisnya? Tentu tidak.
Demikian pula dengan AI. Ia tidak menciptakan pengalaman hidup, tidak merasakan pergulatan batin, dan tidak memiliki konteks emosional. Ia hanya membantu merapikan apa yang sudah ada. Substansi tetap berasal dari manusia.
Sayangnya, pemahaman semacam ini belum tentu dimiliki oleh semua orang. Dalam banyak kasus, penggunaan teknologi justru disederhanakan menjadi tuduhan: tidak orisinal, tidak autentik, atau bahkan “malas berpikir”. Ini adalah bentuk reduksi yang berbahaya, karena mengabaikan kompleksitas proses kreatif.
Lebih jauh lagi, fenomena komentar dangkal ini juga memperlihatkan kecenderungan lain: kemudahan untuk mengkritik tanpa mencipta. Di era digital, siapa pun bisa menjadi “kritikus” hanya dengan mengetik beberapa kata. Namun tidak semua orang bersedia menjalani proses panjang untuk melahirkan sebuah karya.
Mengomentari tanda baca jauh lebih mudah daripada menulis satu paragraf yang bermakna. Menertawakan gaya bahasa jauh lebih ringan daripada membangun gagasan yang utuh. Di sinilah letak perbedaan antara pengamat permukaan dan pelaku proses.
Saya tidak menolak kritik. Kritik yang konstruktif adalah bagian penting dari perkembangan. Namun kritik yang hanya berhenti pada aspek teknis, tanpa menyentuh substansi, lebih menyerupai gangguan daripada kontribusi.
Menanggapi hal semacam ini, saya tidak merasa perlu untuk bereaksi berlebihan. Karena pada akhirnya, komentar seseorang lebih banyak mencerminkan kondisi pikirannya sendiri daripada kualitas karya yang ia komentari.
Ada orang yang memilih untuk mencipta, ada pula yang memilih untuk mengomentari. Keduanya sah, namun nilainya tentu berbeda.
Yang satu membangun, yang lain hanya menilai.
Yang satu berproses, yang lain hanya mengamati.
Yang satu berisiko salah, yang lain aman dalam ejekan.
Dalam posisi ini, saya memilih untuk tetap berada di jalur penciptaan. Terus menulis, terus melukis, terus belajar—tanpa harus terjebak dalam kebisingan yang tidak produktif.
Karena pada akhirnya, tanda baca bisa diperbaiki. Struktur kalimat bisa disusun ulang. Bahkan gaya bahasa bisa berkembang seiring waktu.
Namun pengalaman hidup, kedalaman berpikir, dan integritas intelektual adalah sesuatu yang tidak bisa dibuat secara instan—tidak oleh manusia, apalagi oleh mesin.
Dan tentu saja, tidak oleh komentar kosong.
Tulisan ini bukan sekadar respons terhadap satu komentar. Ia adalah pengingat bahwa dalam dunia yang semakin cepat dan dangkal, kita perlu menjaga standar kita sendiri. Bahwa berkarya bukan tentang memenuhi ekspektasi algoritma atau selera instan, melainkan tentang menjaga kejujuran terhadap proses.
Mari kita tidak terjebak dalam ilusi validasi cepat. Mari kita kembali pada esensi: mencipta dengan kesadaran, membaca dengan kedalaman, dan mengkritik dengan tanggung jawab.
Karena pada akhirnya, martabat seorang kreator tidak ditentukan oleh seberapa banyak ia dipuji atau dikritik, melainkan oleh seberapa konsisten ia berkarya.
Dan bagi saya, itu sudah cukup.



