Di Balik Pintu yang Tak Pernah Kalian Akui

 


Puisi Pepeng S

Di depan kamera
kalian merapikan suara,
menyisir kata-kata agar tampak beradab,
menggulung kalimat jadi doa-doa publik
yang terdengar suci
— atau setidaknya tampak demikian.

“Kami bicara moral,” kata kalian,
dengan sorot mata yang dilatih,
dengan jeda napas yang dirancang,
dengan tangan terangkat seolah menimbang kebenaran.

Di depan rakyat
kalian menjelma pengabdi,
mengaku pelayan,
menyebut diri wakil,
seakan penderitaan bukan sekadar bahan pidato
yang dihafal semalam.

Namun di balik pintu
yang tak pernah kalian akui,
di ruang tanpa kamera,
tanpa mikrofon,
tanpa rakyat—
kalian bukan lagi suara,
kalian adalah transaksi.

Kepentingan duduk di meja bundar,
berjabat tangan dengan kesepakatan diam-diam,
tertawa pelan di antara angka-angka,
yang tak pernah masuk dalam laporan resmi.

Kalian bersekutu
bukan untuk negeri,
tapi untuk nama di belakang rekening,
untuk kursi yang lebih empuk,
untuk masa depan yang hanya milik lingkaran kecil.

Mulut kalian penuh janji,
berlimpah seperti hujan di musim kampanye,
mengalir deras,
menggenangi telinga yang berharap.

Namun tangan kalian—
ah, tangan kalian jauh lebih jujur.
Ia menggenggam,
mengambil,
menyimpan,
dan menutup rapat
apa yang tak boleh dilihat publik.

Kalian menyerukan kejujuran
dengan nada tinggi,
dengan alis terangkat,
dengan nada menggurui,
seolah kalian adalah hakim
di ruang sidang moralitas.

Tapi satu mata kalian tertutup,
rapat, sengaja,
ketika kebusukan datang dari cermin sendiri.

Yang satu melihat kesalahan orang lain
dengan teleskop,
yang satu lagi menutup luka sendiri
dengan kain retorika.

Kalian marah pada kritik,
menganggapnya ancaman,
menganggapnya penghinaan,
menganggapnya pengkhianatan.

Padahal kritik
hanyalah cermin
yang tak bisa kalian pecahkan
tanpa melukai wajah sendiri.

Kalian berteriak tentang etika,
mengutip nilai dari buku-buku lama,
mengulang petuah yang kalian hafal
tanpa pernah menghidupinya.

Etika bagi kalian
hanyalah dekorasi pidato,
hiasan kata-kata,
bukan kompas yang menuntun langkah.

Setiap hari kalian mengkhianatinya,
pelan, konsisten, sistematis—
bukan karena lupa,
tapi karena memilih.

Memilih diam
saat kejahatan menguntungkan,
memilih bicara
saat kamera menyala.

Inilah wajah itu—
kemunafikan yang terlatih,
yang tahu kapan tersenyum,
kapan menangis,
kapan marah,
dan kapan berpura-pura tuli.

Kalian berdiri di atas podium
membela rakyat,
mengangkat tangan tinggi,
mengucap sumpah
yang bahkan kalian sendiri tak percaya.

Sementara di bawahnya,
pelan-pelan,
tanpa suara,
kalian menghisap darah
yang kalian janjikan untuk lindungi.

Rakyat bagi kalian
bukan manusia,
melainkan angka,
melainkan statistik,
melainkan latar belakang
untuk memperindah citra diri.

Kalian bicara tentang penderitaan
dengan sepatu yang tak pernah menyentuh lumpur,
tentang lapar
dengan perut yang selalu kenyang,
tentang keadilan
dengan timbangan yang kalian condongkan sendiri.

Ironi menjadi bahasa kalian,
sarkasme menjadi napas kalian,
tapi sayangnya
kalian tak pernah sadar
kalian adalah punchline
dari lelucon yang kalian ciptakan sendiri.

Kalian menciptakan musuh
untuk terlihat sebagai pahlawan,
membakar isu
untuk menghangatkan kursi kekuasaan.

Dan ketika rakyat mulai sadar,
kalian menyebutnya provokasi,
kalian menyebutnya hoaks,
kalian menyebutnya ancaman
terhadap stabilitas—
stabilitas siapa?

Negeri ini bukan panggung kalian,
meski kalian memperlakukannya demikian.
Ini bukan naskah yang bisa kalian tulis ulang
setiap kali skenario lama terbongkar.

Ada luka di sini,
yang tak bisa ditutup dengan konferensi pers.
Ada tangis di sini,
yang tak bisa dibungkam dengan jargon pembangunan.

Kalian mungkin bisa menipu kamera,
menipu sebagian orang,
menipu waktu—
tapi tidak selamanya.

Karena sejarah
tak pernah benar-benar lupa.
Ia mencatat,
dengan tinta yang tak bisa kalian hapus
meski dengan kekuasaan sekalipun.

Dan suatu hari nanti,
ketika kamera mati,
ketika kursi tak lagi milik kalian,
ketika nama kalian tinggal arsip—

yang tersisa bukan pidato,
bukan janji,
bukan pencitraan.

Yang tersisa adalah jejak:
apakah kalian benar melayani,
atau sekadar berpura-pura peduli
sambil menggali keuntungan.

Maka teruslah berbicara di depan kamera,
teruslah bermain dalam sandiwara itu,
teruslah menghafal peran
yang kalian ulang setiap musim.

Karena di balik semua itu,
rakyat perlahan belajar membaca—
bukan kata-kata kalian,
tapi jeda,
tapi arah pandang,
tapi tangan yang tak pernah bisa berbohong.

Dan saat itu tiba,
ketika sandiwara tak lagi laku,
ketika tepuk tangan berubah jadi tanya,
ketika diam berubah jadi perlawanan—

kalian akan sadar,
terlambat,
bahwa kemunafikan
selalu punya batas umur.

Dan kalian,
yang dulu berdiri paling lantang,
akan dikenang
bukan sebagai pengabdi,

melainkan sebagai pelaku
dari ironi terbesar negeri in

Tulisan terkait

Utama 5958616836670196880

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 


Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 

Jadwal Sholat

Ads

item