Elegi Kota Tua dan Janji yang Menguap di Balik Meja Birokrasi
Sebuah catatan naratif dan gugatan batin atas hilangnya sosok pemimpin yang dahulu begitu merakyat di masa kampanye, namun kini seolah raib ditelan tembok kekuasaan. Esai ini menyuarakan jerit hati rakyat sebuah kabupaten—dari pusat kota yang berlubang, pedesaan yang terabaikan, hingga wilayah kepulauan yang merana—menghadapi realita pembangunan yang mangkrak dan pemimpin yang hanya hadir di balik sorot kamera dan panggung peresmian.
Eno Hartono
Ingatan itu masih basah dan terekam sangat jelas di kepala kami. Belum terlalu lama rasanya ketika jalanan kabupaten ini dihiasi oleh hiruk-pikuk yang gegap gempita. Di setiap perempatan, di setiap gang sempit, hingga di batang-batang pohon mahoni yang menua di pinggir jalan, wajahnya terpampang dengan senyum yang paling menawan. Kala itu, masa kampanye adalah panggung teater paling kolosal di mana ia memainkan peran utama sebagai pahlawan yang turun dari langit.
Kami mengingatnya sebagai sosok yang seolah tidak pernah mengenal lelah. Debu jalanan, terik matahari yang menyengat kulit, hingga peluh yang membasahi kemejanya adalah saksi bisu betapa ia ingin terlihat "berkeringat" bersama kami. Tangannya begitu ringan membagikan sembako, menyodorkan kantong-kantong beras dan gula yang kala itu kami terima sebagai bentuk cinta, bukan sekadar komoditas politik pembeli suara. Ia hadir di mana-mana. Tidak ada jarak, tidak ada batas.
Bahkan ketika ada pertemuan kecil di balai desa yang reyot di pelosok yang jauh dari pusat kota, ia dipastikan hadir. Tidak ada protokoler yang kaku, tidak ada birokrasi rumit yang menghalangi rakyat untuk sekadar menjabat tangannya. Ia datang dengan tangan terbuka, telinga yang siap mendengar, dan mulut yang tak henti-hentinya mengobral janji tentang hari esok yang lebih benderang.
Rakyat pun terbuai. Kami mengelu-elukannya. Kami meletakkan harapan di atas pundaknya, percaya bahwa dialah jawaban atas doa-doa panjang yang selalu kami rapalkan setiap usai sembahyang. Dan dengan dukungan yang tumpah ruah, ia melangkah masuk ke pendopo kekuasaan, memenangkan hati kami, dan pada akhirnya, memasuki periode keduanya dengan tepuk tangan yang masih bergemuruh.
Namun, waktu rupanya adalah penguji paling jujur bagi sebuah janji.
Memasuki periode kedua kepemimpinannya, angin tiba-tiba berubah arah. Harapan yang dulu kami susun setinggi langit, kini perlahan runtuh, berjatuhan menjadi kepingan kekecewaan yang berserakan di jalan-jalan kota. Sosok yang dulu kami elu-elukan itu kini berbalik arah secara total. Jika dulu ia adalah pejalan kaki yang menyusuri gang-gang becek, kini ia bermetamorfosis menjadi sosok eksklusif yang tak tersentuh.
Ke mana perginya senyum ramah dan tangan terbuka itu? Semuanya menguap, terhisap oleh dinginnya pendingin ruangan di ruang kerjanya yang mewah. Ia kini lebih asyik bersembunyi di balik meja jati yang besar, sibuk dengan tumpukan map dan stempel. Hari-harinya dihabiskan untuk memenuhi tanda tangan persetujuan yang disodorkan oleh bawahan-bawahannya yang asal bapak senang, atau beramah-tamah dengan rekanan kerja dan para kontraktor yang membawa proposal-proposal proyek entah ke mana muaranya.
Ruang kerjanya kini menjadi benteng yang kokoh, dijaga oleh barisan protokoler dan birokrasi yang tiba-tiba menjadi sangat rumit. Rakyat biasa yang dulu bisa memeluknya di balai desa, kini harus melewati berlapis-lapis pintu dan pertanyaan curiga hanya untuk sekadar menyampaikan keluh kesah.
Sementara ia menikmati empuknya kursi kekuasaan, cobalah tengok apa yang terjadi di luar sana. Kejanggalan dalam pembangunan terpampang nyata, menampar wajah kami setiap hari. Pemerintah seolah menutup mata, menulikan telinga, dan melakukan pembiaran yang membuat rakyat hanya bisa saling berbisik dan bertanya-tanya.
Lihatlah jalan-jalan di jantung kota, pusat etalase kabupaten ini. Aspal-aspal mengelupas, meninggalkan lubang-lubang menganga yang menjebak pengendara setiap hari. Saat musim hujan tiba, lubang-lubang itu berubah menjadi kubangan air mata yang tak pernah dikeringkan oleh kebijakan. Kecelakaan demi kecelakaan terjadi, ban-ban kendaraan pecah, namun aspal baru tak kunjung datang. Jika jantung kotanya saja dibiarkan berlubang dan cacat, lalu apa yang bisa diharapkan oleh mereka yang berada di ujung nadi?
Proyek-proyek infrastruktur yang dulu digembar-gemborkan akan mengubah wajah kabupaten ini kini menjadi monumen kebisuan. Bangunan-bangunan mangkrak, tiang-tiang beton dibiarkan berkarat menantang langit tanpa atap yang menyelimutinya. Uang rakyat yang triliunan jumlahnya seolah ditanam di tanah yang gersang, tak pernah tumbuh menjadi pohon kesejahteraan, melainkan menjadi semak belukar korupsi dan ketidakbecusan manajerial. Proyek dibiarkan begitu saja, seolah-olah setelah peletakan batu pertama dan prosesi potong pita, tugas pemerintah telah selesai.
Lebih menyedihkan lagi jika kita melangkahkan kaki keluar dari batas kota. Program-program kebutuhan wilayah kecamatan dan pedesaan seakan tidak terurus. Petani menjerit karena pupuk langka dan irigasi yang hancur, namun jeritan itu tertahan oleh angin sebelum sampai ke telinga sang bupati. Dan mari kita menatap lebih jauh melintasi lautan, ke wilayah kepulauan yang secara geografis menjadi bagian tak terpisahkan dari kabupaten ini. Di sana, penderitaan tidak lagi sekadar angka statistik, melainkan nafas sehari-hari.
Rakyat kepulauan dibiarkan merana dalam isolasi. Akses transportasi antar pulau yang memadai hanya menjadi dongeng pengantar tidur anak-anak pesisir. Fasilitas kesehatan di pulau-pulau sangat memprihatinkan; orang sakit harus bertaruh nyawa membelah ombak berjam-jam hanya untuk mencari rumah sakit yang layak di daratan. Listrik yang by-pet, air bersih yang sulit, dan pendidikan yang tertinggal adalah makanan sehari-hari.
Di manakah kehadiran negara? Di manakah bupati yang dulu di masa kampanye rela naik perahu kayu demi merengkuh suara mereka? Hari ini, wilayah kepulauan seperti anak tiri yang dilupakan, yang hanya diingat namanya ketika musim pemilu kembali tiba atau ketika kekayaan alamnya hendak dieksploitasi.
Lalu, di mana sang bupati sekarang?
Wajahnya memang masih ada, tetapi tidak lagi di tengah-tengah rakyat. Wajah itu kini hanya eksis dan tampak hidup dalam pemberitaan media massa, di layar-layar televisi lokal, atau di halaman depan koran-koran yang ruang redaksinya mungkin telah dikondisikan. Ia muncul dengan setelan jas yang rapi, peci yang miring sempurna, dan senyum yang kini terasa begitu artifisial.



