Perempuan, Agama, dan Bayang-Bayang Sejarah: Membaca Ulang Martabat yang Terlupakan

Foto jadul mengenai wanita berkebaya pada tahun 1900-an di Sulawesi Utara

Lilik Soebari

Refleksi mendalam tentang posisi perempuan dalam lintasan sejarah, dari penindasan masa lalu hingga upaya mengembalikan martabatnya dalam perspektif Islam yang sering disalahpahami.

Sepanjang sejarah kehidupan manusia, perbincangan tentang perempuan tak pernah benar-benar usai. Ia hadir sebagai tema abadi yang terus diperdebatkan, dipertanyakan, bahkan diperebutkan maknanya. Dalam beberapa dekade terakhir, diskursus tentang kesetaraan gender kembali mengemuka dengan intensitas yang tinggi, terutama di kalangan masyarakat Muslim. Sayangnya, di tengah riuhnya perdebatan itu, wajah perempuan dalam Islam kerap direduksi dalam bingkai sempit yang dibangun oleh tafsir-tafsir patriarkis.

Perempuan Muslim sering digambarkan secara stereotip sebagai sosok yang sepenuhnya tunduk, patuh, dan bergantung pada laki-laki. Narasi ini tidak hanya menyederhanakan kompleksitas ajaran Islam, tetapi juga mengekalkan pemahaman yang keliru. Dalam realitas sosial, perempuan seolah-olah hanya diberi ruang dalam lingkaran domestik: dapur, sumur, dan kasur. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, gambaran tersebut bukanlah cerminan utuh dari ajaran Islam, melainkan hasil konstruksi budaya yang berkelindan dengan kepentingan kekuasaan.

Jika kita menengok ke belakang, sejarah mencatat bahwa perempuan pernah berada pada titik paling rendah dalam hierarki kemanusiaan. Dalam peradaban besar seperti Yunani dan Romawi, perempuan tidak lebih dari objek—dipandang rendah, bahkan disamakan dengan barang yang bisa diperjualbelikan. Mereka dianggap tidak memiliki jiwa yang utuh, sehingga berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dianggap sebagai hal yang lumrah.

Di wilayah Persia kuno, situasinya tak kalah memprihatinkan. Perempuan kehilangan hak atas tubuh dan martabatnya sendiri. Relasi keluarga yang semestinya sakral justru dilanggar, dan batas-batas moral menjadi kabur. Praktik-praktik yang merendahkan perempuan terjadi tanpa kontrol, mencerminkan betapa rapuhnya posisi mereka dalam struktur sosial saat itu.

Dalam tradisi keagamaan tertentu, perempuan bahkan diposisikan sebagai sumber dosa dan malapetaka. Mereka dianggap sebagai penyebab jatuhnya manusia dari surga, simbol godaan yang harus dijauhi. Dalam sebuah catatan sejarah, pernah diadakan sebuah pertemuan di Eropa yang mempertanyakan apakah perempuan benar-benar manusia seutuhnya. Kesimpulan yang dihasilkan sungguh mencengangkan: perempuan diakui sebagai manusia, tetapi keberadaannya semata-mata untuk melayani laki-laki.

Kondisi serupa juga terjadi di masa jahiliyah di Jazirah Arab. Perempuan tidak memiliki hak waris, tidak memiliki kedaulatan atas dirinya, bahkan bisa diwariskan layaknya harta benda. Praktik-praktik yang merendahkan martabat perempuan menjadi bagian dari sistem sosial yang dianggap normal. Dalam situasi seperti inilah, perempuan benar-benar berada pada titik nadir kemanusiaan.

Kemudian datanglah Islam sebagai cahaya yang memutus rantai penindasan tersebut. Islam mengangkat derajat perempuan dari keterpurukan menuju kemuliaan. Perempuan diberikan hak-hak yang sebelumnya tidak pernah mereka miliki: hak waris, hak memilih pasangan, hak atas kehormatan diri, serta pengakuan sebagai individu yang utuh di hadapan Tuhan. Dalam Islam, ukuran kemuliaan tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh ketakwaan.

Namun, perjalanan sejarah tidak selalu berjalan lurus. Setelah masa keemasan Islam berlalu, nilai-nilai luhur yang dahulu mengangkat martabat perempuan perlahan mengalami erosi. Tradisi dan budaya lokal kembali mengambil alih, sering kali dengan membawa kembali bias-bias lama yang merugikan perempuan. Tafsir agama pun tak luput dari pengaruh ini, sehingga ajaran yang sejatinya membebaskan justru digunakan untuk membatasi.

Akibatnya, perempuan kembali terpinggirkan. Mereka direduksi menjadi penjaga rumah, kehilangan akses terhadap pendidikan, ruang publik, dan pengambilan keputusan. Martabat yang dahulu diangkat tinggi perlahan dilupakan, seolah-olah sejarah telah berputar kembali ke titik awal.

Di sinilah pentingnya membaca ulang—bukan hanya teks, tetapi juga konteks. Kita perlu membedakan antara ajaran yang murni dengan praktik yang telah terkontaminasi oleh kepentingan budaya dan kekuasaan. Islam, dalam esensinya, tidak pernah merendahkan perempuan. Justru sebaliknya, ia hadir sebagai sistem nilai yang menjunjung tinggi keadilan dan keseimbangan.

Pertanyaannya kemudian: apakah kita berani keluar dari bayang-bayang sejarah yang mengekang? Apakah kita siap mengembalikan perempuan pada posisi yang seharusnya—sebagai manusia yang utuh, bermartabat, dan memiliki hak yang setara?

Jawaban atas pertanyaan ini tidak hanya bergantung pada perempuan, tetapi juga pada cara kita—sebagai masyarakat—memahami, menafsirkan, dan mengamalkan nilai-nilai yang kita yakini. Sebab, pada akhirnya, peradaban yang besar bukanlah yang menempatkan perempuan di bawah, melainkan yang mampu berjalan berdampingan dalam keadilan dan kemanusiaan.

Tulisan terkait

Utama 8249359061820277333

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 


Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 

Jadwal Sholat

item