Memaafkan di Tengah Luka: Keteguhan Hati Bu Syamsiah, Guru yang Tak Lelah Menanamkan Adab

Syamsiah, guru PPKN SMAN 1 Purwakarta

Di tengah dunia yang cepat menghakimi, kisah Bu Syamsiah mengajarkan bahwa pendidikan sejati bukan sekadar memberi sanksi, tetapi membimbing dengan kesabaran dan kasih. Kesalahan adalah bagian dari proses, dan memaafkan adalah pintu perubahan.

Di sebuah ruang kelas di Purwakarta, suasana belajar yang seharusnya tenang mendadak berubah menjadi riuh dan tak terkendali. Sembilan siswa dari SMAN 1 Purwakarta menjadi sorotan publik setelah sebuah video memperlihatkan mereka mengolok-olok guru mereka sendiri—menjulurkan lidah, bahkan mengacungkan jari tengah. Rekaman itu dengan cepat menyebar di media sosial, memantik kemarahan, keprihatinan, sekaligus pertanyaan besar tentang wajah pendidikan hari ini.

Di balik peristiwa itu, berdiri sosok yang tak memilih marah sebagai jawaban. Ia adalah Syamsiah, guru Pendidikan Kewarganegaraan yang telah mengabdi sejak tahun 2003. Lebih dari dua dekade di dunia pendidikan, ia telah melewati berbagai dinamika murid—namun apa yang terjadi hari itu menjadi pengalaman pertama yang begitu menguji hati.

Alih-alih melaporkan para siswa ke jalur hukum, Syamsiah justru memilih jalan yang tak banyak orang tempuh: memaafkan.

“Saya sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan. Mereka juga menangis menyadari kesalahannya,” tuturnya dengan nada tenang. Baginya, menjadi guru bukan sekadar menyampaikan pelajaran, tetapi membentuk manusia. Ia percaya, setiap anak memiliki ruang untuk berubah, selama diberi kesempatan dan bimbingan.

Keputusan itu bukan tanpa pergulatan batin. Ia mengakui sempat merasa sedih—sebuah reaksi yang sangat manusiawi. Namun, ia menolak membiarkan luka itu berubah menjadi amarah. Ia memilih menjadikan keimanan sebagai penopang. Dalam diam, ia menguatkan diri, menyembuhkan hatinya dengan keyakinan bahwa apa yang ia lakukan adalah bagian dari panggilan hidupnya.

Peristiwa di kelas itu sendiri bermula dari hal yang tampak sederhana: perubahan jadwal presentasi. Ketidakpuasan siswa berubah menjadi sikap yang melampaui batas. Tanpa sepengetahuan Syamsiah, momen tersebut direkam. Ironisnya, setelah kejadian itu, para siswa sempat bersikap seolah tak terjadi apa-apa—bersalaman, bahkan mengajak foto bersama.

Namun bagi Syamsiah, persoalan ini bukan tentang penghinaan pribadi. Ia melihatnya sebagai cerminan yang lebih luas—tentang pentingnya pendidikan karakter yang kerap terabaikan. Ia menegaskan bahwa adab adalah fondasi utama dalam proses belajar, sesuatu yang harus ditanamkan sebelum ilmu pengetahuan.

“Adab itu hal utama. Saya selalu tanamkan pendidikan karakter,” ujarnya.

Keputusannya untuk tidak melapor bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan yang lahir dari pemahaman mendalam tentang peran seorang guru. Ia menolak menjadikan kesalahan siswa sebagai akhir dari segalanya. Sebaliknya, ia melihatnya sebagai awal dari proses pembelajaran yang lebih penting: belajar menjadi manusia yang berakhlak.

“Yang salah tidak selamanya salah, yang nakal tidak selamanya nakal. Perubahan itu butuh proses,” katanya, seolah mengingatkan bahwa setiap individu adalah karya yang belum selesai.

Sikapnya ini menjadi kontras di tengah budaya yang sering kali reaktif dan menghukum. Ia menghadirkan pendekatan yang lebih sunyi, namun bermakna—pendekatan yang menempatkan kasih sebagai jalan pendidikan.

Lebih dari sekadar respons terhadap sebuah insiden viral, kisah Syamsiah adalah potret tentang dedikasi yang tak goyah. Tentang seorang guru yang tetap percaya pada murid-muridnya, bahkan ketika mereka menunjukkan sisi terburuknya. Tentang keyakinan bahwa di balik kenakalan, selalu ada potensi kebaikan yang menunggu untuk dibimbing.

Di akhir pernyataannya, Syamsiah menyampaikan harapan sederhana namun dalam: agar peristiwa ini menjadi pelajaran bagi semua pihak. Bagi siswa, guru, orang tua, dan juga masyarakat luas—bahwa pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, tetapi juga tentang membangun karakter.

“Saya sayang kepada siswa. Semakin mereka salah, semakin saya ingin membimbingnya,” tutupnya.

Dan dari sanalah, kita belajar: bahwa menjadi pendidik bukan hanya tentang berdiri di depan kelas, tetapi tentang tetap berdiri teguh—bahkan ketika dihina—demi masa depan anak-anak yang suatu hari akan memahami arti dari sebuah kebaikan.

(Redaksi/sumber: Posmetro Medan )

Tulisan terkait

Utama 1395520202925133564

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 


Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 

Jadwal Sholat

item