Puisi-Puisi M. Baisuni


M. Baisuni,
kelahiran Batu Lasak, Guluk-Guluk Barat, Guluk-Guluk, Sumenep. Merupakan santri aktif PP. Annuqayah Lubangsa Utara Dan Siswa aktif sekaligus anggota OSIS SMA Annuqayah. Dia mulai terlena lagi dalam tulis menulis ketika memahami dirinya sendiri.


Gumpalan Asap Mendatangkan Kabar

Dari setiap rasa yang kupahami
Ada denyut hati, menyebut mentari
Sambil ku cari dari mana asalnya
Ternyata berbisik,
Pada gumpalan asap menyapa dunia.

Ini bukan tentang mentari nestapaku
Dan bukan juga tentang bidadari dunia begitu sendu
Akan tetapi,
Udara menyerbu bagaikan firasat suhu
Yang menandakan iklim,
Meminta ampun pada polusi waktu.

Apa kabar para penghuni tanah semesta?
Tanpa menyadari akan prilaku begitu seraka
Pada reranting tempat burung-burung menyanyi sangat leluasa
Serta bukit-bukit tempat menghirup udara dengan kesejukannya
Tetapi, kau hancurkan untuk pemenuhan negara
Bagaikan peristiwa yang sudah lama tiada.

Dan kau potong, untuk kepentingan hasrat jelata
Dan kau gali juga, untuk sebuah harga
Tanpa kau sadari ruginya pada dunia
Yang dulunya tempat cerita,
Namun, sekarang hanya tertinggal bayang-bayang,
Disetiap tangisan para pujangga.

Oh.......
Para perusak kenikmatan dunia
Dimana tempat engkau?
Dan kembalikan keindahan semesta yang dulu
Mungkin, kalau dia bermulut
Akan berucap “pergilah”
Pada tingkah keji kau tanpa rasa sadar.
 
Ruangan asap, 2026




Tertinggalnya Permata pada Harapan Dusta

Aku selami sedalam samudra
Dan ku cari sebuah mutiara
Yang kau ucap dulunya berharga
Namun sekarang hanya tertinggal kata dusta.

Riuh kata manismu terus menjelma
Dalam ruang ilusi primadona
Dengan bersaksi atas nama cakrwala
Yang kau tanam pada angan seluas hindia.

Tetapi, dikau begitu kejam
Seperti halnya pembunuh bayaran
Yang ditugaskan untuk menewaskan segala harapan
Disetiap tawa penuh akan riang.
Namun berakhir pada kata ke tidak pastian.

Yang dulu, 2026




Dalam Lingkaran Tawa

Sekelopak alunan lagu dunia dansa
Memenuhi canda di iringi kata cela
Yang menyerbu bagaikan angsa hampa
Memburu hati disetiap beda cerita dan tawa.

Kita melingkar penuh akan tawa
Tanpa melirik sekitar,
Meyertakan kalbu tak nyaman,
Tetapi dibungkam melalui nestapa
Dan hanya bisa meratap diri,
Pada sebuah ucapan begitu bertamasya.

Bukan karna menekuni kata kuat,
Bukan juga merasa, menjadi duta akrap
Akan tetapi,
Tubuh ini hanya menjaga martabat
Disetiap tombak berkarat,
Membawa sepotong kata sangat lekat.

Ilusi mencoba berdendang
Meski yang menemani lampu tamaran
Pada akhirnya,
Lingkaran itu berpencar
Dan berpulang menelusuri lorong hambar
Tetapi tawa masih hikmat menyatakan kabar
Disaat kalbu mengembara,
Pada ilusi Persoalan yang kubawa tanpa sadar.

Ruangan Tawa, 2026




Hakikat Ruang Sebelum Pulang
:Teruntuk adek

Di malam ini,
Kalbu memburu pada satu nama
Yang terselip di sela-sela panorama
Disetiap semerbak parfum terus menjelma
Seakan menyelinap melului bayang-bayang imajinasi nestapa.

Dipangkuan dikau,
Terdapat kenyamanan membuatku bisu
Pada setiap denyut hati yang menyerbu
Antara persoalan kata yang terus memburu
Yang kau ucap akan terus bersatu.

Dalam episode kali ini,
Aku menunggu di ruang hakikat sunyi
Pada kata pulang begitu dini
Dan apakah dikaulah rumah yang aku bangun
Untuk berseru disetiap harapan
Atau hanya menemaniku di setiap hayalan?.

Ruang cerita, 2026



Menyapa Kembali pada Masa Kecil

Diriku bernostalgia pada sebuah bayang-bayang
Yang terus menyapa dikala hati kerontang
Pada saat firasat di penuhi gamang
Dalam setiap angan,
Mendatangkan kenangan berupa lukisan.

Masa itu,
Hanya tawa memenuhi waktu ceria
Yang ingin menjelma di setiap hayalan
Seakan membawaku pergi pada sebuah tungku harapan
Sambil mengenang cerita,
Dikala permainan tanpa masa.

Kini,
Diriku mulai tahu
Bahwa menggenggam banyak harapan,
Membuatku menjadi sebuah debu
Yang berhamburan mengharap kembali pada masa kecil ku
Tetapi, itu terpotong disebuah angkat tangan
Yang tertekan oleh banyaknya beban mengajak dendang.

Aula lubtara, 2026




Penghuni Ruang Seperti Hewan Buas
:Untuk penghuni kantor OSIS SMA Annuqayah

Kupandangi begitu seksama
Yang dulu kala menjadi peminat para siswa
Namun tak tahu bagaimana isi di dalamnya
Berupa kawanan hewan buas yang sudah siap menyapa.

Sekarang itu benar terjadi
Disaat nadiku sudah memahami
Pada setiap sela-sela ruangan sunyi
Akan tetapi,
Dirikulah yang paling diburu
Dari sekian banyaknya mangsa begitu bernafsu.

Kalbu terus meronta
Ingin sesekali berseruh pada setiap ucapan hampa
Dengn keyakinan batin terus berkata
Bahwa dirimu berhak bercerita,
Meski harus berakhir dari ruang begitu seraka.

Ruang kelas, 2026




Mengeja Ruang pada Tafsiran Gamang

Aku bersimpuh pada hati termenung
Di antara sela takut dan gamang
Pada ruang yang membungkam sejarah
Bersama alunan lagu begitu mencekam.

Batin begitu resah pada setiap bising
Atau panorama dikti yang tak penting
Serta riuhnya para pembanting.

Di hela nafas yang ku atur
Terdapat jeda,
Pada seiris kata “dirimu laki-laki”
Dengan nada begitu liri,
Sampai membuatku ling-lung di tengah tafsiran
Serta menghafal ejaan waktu lisan.

Lantunan puncak suara berdentum kencang
Sehingga para pembanting pergi tanpa berkata
Akan tetapi, tubuh masih hikmat pada tempat yang sama
Antara memilih pergi dengan fikiran penuh tanya?
Atau menetap dengan senyum begitu bertamasya..

Ruang kelas, 2026



Tulisan terkait

Utama 348868144972230787

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 

Jadwal Sholat

item