Puisi-Puisi Nubailul Asyraf, MAT Annuqayah


Nubailul Asyraf
, merupakan alumnus MI Nurul Islam sekaligus siswa MAT Annuqayah yang mendamba ilmu sebagai karibnya dan berkhalwat di P.P.A.Lubangsa Utara


Syakmu
:Nenek

Kegamangan kerap dominan
Manakala kusuguhkan tapak yang akan
Di denting waktu
Hikayat cintaku
Pada keriput guratan usiamu
Yang setia menjelma rindu.

Senantiasa kujejalkan sendu
Pada hidupku
Yang tiada pernah memujamu
Buatku mengalah
Pada perwujudan syakmu
Barangkali, karena tuah.

Aku semata ingin mereguk lelah
Pada alur asmara sang ilah
Tak perlu kau tampar aku
Dengan majemuk puisi remangmu
Cukup kau munajatkan
Bersama kidung firman
Agar kucecap angan.

Lubtara,26



Meniti Lara

Pada magrib
Yang dianggap petang sebagai karib
Aku termangu, bisu
Menjejalkan jejak
Dalam mayapada yang tak tampak.

Uar tanya dari indramu
Buatku kelabu
“Kapan kau akan taswirkan sajakmu?”
Rapal yang mencipta karam, diam
Sejajar ilalang
Kugubah syair
Ihwal insan yang faqir
Mereplika kata
Merupa sapa.

“Mengapa kau kaburkan riak dalam jejak”
Aku tiada raibkan bercak, tapak
Semata gamang
Menapaki noktah remang.

“Lantas, apa yang akan kau ikhtiyarkan?”
Musabab kau mencumbuiku
Dengan majemuk ragu
Kuguratkan kata,
Menghendaki duka
“Aku akan meniti lara, senandungkan lupa”

Lubtara,25



Irama Bisu di Rak Buku

Kaligrafi-kaligrafi yang berpendar
Kini menapaki pudar
Terpaut dari malam
Mulai amdam-karam
Menjelma tanju
Pada selaksa adam
Lindanglah temaram.

Ketiak indra meraba
Irama bisu
Bertalu-talu dari rak buku
“Aku ingin mereka mengeja abjad,
Berabad
Tak dijamah
Barang beberapa adad
Serupa meniti dengan besi
Tak terpermanai
Untuk pemampatan
Yang setia mereka amini.”

“Seperti mereka menyeduh kopi
Dengan air laut yang tawar
Musabab pohon-pohon plastik mengakar
Ikan pun kehilangan tabah
Berpindah, tak betah
Pada berjuta butir pasir
Menguar harum anyir.
Iya mengeja jemari,
Mengaji mata
Kesemuanya sunyi.”

Jibril di atas awan
Mengadu pada tuhan
Mereka yang payah
Sekedar menafikan sampah

Di pengujung irama
Harkat hina menyapa.
Lubtara, 26



Larik Yang Hilang

Aku mencari larik
Antara terik yang melirik
Mentari telah berjingkrak
Mentalak searak
Awan kelabu
Selepas seminggu
Ia bisu
Barang menyapa seperti dulu.

Tarian dedaunan
Reranting pepohonan
Gugur dingin
Tak terperikan
Menyapu siang
Dunia kering
Imajinasi meniti kerontang
Sejenak, setelah hening
Menapaki pulang
Musabab bising bertandang.

Sunyi tak akan hilang
Ia tetap menderu
Di setiap kelok rongga kalbu
Insan yang tak pernah memaki desing
Atas lindangnya lengang.

Menyeru tinta
Adalah doa
Dirapal, selama hidup terserunda
Atas bisuku yang fana
Di pojokan mata,
Di relung dada
Perut yang meronta
Jemari gila
Sebab aku paksa
Bahkan, di telapak sandal
Yang didapat secara sundal
Agar memekik kata
Menyapa para pemuja.

Lubtara, 26



Meredam Ingin

Kala jiwa melengking
Menggores firman
Menenggak sampai kering
Tapi tiada cinta bagi bising
Pada yang sejatinya hening.

Terpaksa tapak
Merajut jejak, memijak
Atas doa, telah lama dieja
Tabah, dipapah
Tetap menyembah.

Ia mungkin tak senang coklat
Atau kuning
Bahkan kemarau
Dari apa yang aku hitung wabah
Tentu bukan hanya pasrah
Itu semata dangkal
Dariku yang bebal
Ini hanya lelah
Kendati sebatas harap lebih
Hal yang akan masih.
Lubtara, 26



Pertalianku Dengan Dirimu
:Lubtara

Dari tapak awal, hingga
Sebelum menjadi memoar
Kueja kembali
Segala hal yang telah aku uji
Perihal azimat
Dengannya tak pernah terikat,
Tirakat, tentu karena inayat.

Denting waktu menderu
Tiba pada titik temu
Aku yang akan merindu
Tapi, tak baik selalu begitu.

Dalam dirimu
Aku didayu
Oleh aksara bisu
Tapi berdialog dengan kalbu
Hingga aku mekar
Harum daun pohon dilam
Dari lopak
Jadi mata air, terus mengalir.

Tentu, tak ada ragu pada hal itu
Air mata akan mengalir
Kala mulai menjauh dari hilir
Tempatku minum,
Menawar dahaga
Membaca, mengenal segala bahasa.

Riuh kenakalanku di masa silam
Menjadi tepekur
Bahwa tuhan tak tersinggung
Saat aku yang lacur
Masih memohon untung.

Aku ada janji
Yang akan menjelma tali
Antara aku dan dirimu
Merekat, mengikat
Tapi, tak perlu kau sangsi
Karena hanya dariku yang kecil ini
“Aku tak akan layuh
Dan kau akan tetap utuh”

Lubtara,26

.

Tulisan terkait

Utama 4315655700930106406

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 

Jadwal Sholat

item