Jejak Panjang Sastra Madura: Dari Tutur Lisan hingga Sastra Modern
Sastra Madura tumbuh dari tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun sebelum masyarakat mengenal tulisan. Dari petuah sederhana di tengah kehidupan rakyat hingga lahirnya karya sastra modern, perjalanan sastra Madura memperlihatkan daya hidup budaya yang kuat dan kemampuan masyarakat Madura menjaga identitasnya di tengah perubahan zaman.
Sejarah sastra Madura merupakan perjalanan panjang sebuah kebudayaan yang tumbuh dari tradisi tutur masyarakatnya. Jauh sebelum masyarakat Madura mengenal tulisan, sastra telah hidup melalui suara-suara yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di beranda rumah, di ladang, di surau kecil, atau di tengah pertemuan masyarakat desa, kisah-kisah, petuah, dan ungkapan bijak dituturkan secara lisan. Dari sanalah sastra Madura mula-mula menemukan bentuknya.
Tradisi sastra lisan menjadi fondasi utama perkembangan sastra Madura. Pada masa itu, masyarakat belum mengenal budaya baca-tulis secara luas, sehingga lisan menjadi media paling penting dalam menyampaikan pengetahuan dan nilai kehidupan. Berbagai bentuk sastra lisan seperti pantun, syair, cerita rakyat, kidung, dan petuah hidup hadir sebagai sarana pendidikan moral sekaligus hiburan masyarakat.
Isi sastra lisan Madura umumnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak di antaranya berisi nasihat tentang kehormatan, kerja keras, kesabaran, serta hubungan manusia dengan Tuhan dan sesamanya. Sastra tidak dipandang sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan, melainkan bagian dari cara masyarakat memahami dunia. Oleh sebab itu, sastra Madura tumbuh secara alami, menyatu dengan tradisi sosial dan budaya masyarakatnya.
Hingga kini, tidak ada catatan yang benar-benar pasti mengenai kapan sastra Madura mulai berkembang. Ketiadaan bukti otentik tentang awal mula sastra Madura justru menunjukkan bahwa tradisi ini sangat tua dan tumbuh secara organik di tengah masyarakat. Sastra lisan hidup sebelum adanya pencatatan resmi, sehingga keberadaannya lebih banyak tersimpan dalam ingatan kolektif masyarakat daripada dalam dokumen tertulis.
Bukti tertulis paling awal yang ditemukan hanya menunjukkan bahwa masyarakat Madura telah mengenal tradisi tulis-menulis sejak masa Kerajaan Singasari. Di daerah Kebon Agung, sebelah barat Sumenep, ditemukan inskripsi bertanggal 1280 Masehi dan 1438 Masehi. Penemuan ini menjadi penanda penting bahwa budaya literasi telah hadir di Madura sejak berabad-abad silam. Namun demikian, keberadaan prasasti tersebut tidak otomatis menjadi awal lahirnya sastra Madura, sebab tradisi lisan diperkirakan sudah hidup jauh sebelumnya.
Perjalanan sastra Madura kemudian berkembang melalui beberapa tahapan penting. Periode pertama dikenal sebagai Sastra Madura Lama, yang berlangsung hingga sekitar tahun 1920. Pada masa ini, perhatian terhadap sastra Madura banyak datang dari para peneliti dan ahli bahasa asing. Mereka mulai meneliti bahasa serta karya-karya sastra Madura lama. Salah satu tokoh yang cukup dikenal pada periode ini adalah ahli linguistik A.A. Fokker melalui karyanya Een Madoereesch Minnedicht. Kajian-kajian tersebut menjadi dokumentasi awal yang membantu memperkenalkan sastra Madura kepada dunia luar.
Meski demikian, pada masa itu masyarakat Madura sendiri belum banyak terlibat dalam penulisan sastra modern. Sastra masih lebih dominan hadir dalam bentuk lisan dan tradisi lokal. Situasi mulai berubah memasuki periode Sastra Madura Baru antara tahun 1920 hingga 1945. Pada era ini, mulai muncul pengarang-pengarang Madura yang menulis karya mereka sendiri dan dikenal secara lebih luas.
Salah satu tokoh penting dalam periode ini adalah M. Wirjo Wijoto dengan karya terkenalnya Maesak Apa Marosak yang terbit pada tahun 1927. Kehadiran para pengarang lokal menandai tumbuhnya kesadaran baru di kalangan masyarakat Madura untuk mengekspresikan pengalaman hidup mereka melalui tulisan. Sastra Madura mulai bergerak dari sekadar tradisi tutur menuju tradisi literasi yang lebih modern.
Perkembangan ini juga didukung oleh munculnya media-media lokal seperti Tjolok, Sumenep Expres, dan Nanggala yang memberikan ruang bagi publikasi karya sastra Madura. Kehadiran media tersebut sangat penting karena menjadi wadah bagi para penulis untuk menyampaikan gagasan, kritik sosial, dan pandangan budaya mereka kepada masyarakat luas.
Setelah Indonesia merdeka, sastra Madura memasuki periode modern yang berlangsung sejak tahun 1945 hingga sekarang. Pada masa ini, bentuk-bentuk sastra seperti puisi, cerpen, dan esai terus berkembang. Para sastrawan Madura mulai menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi budayanya.
Menariknya, meskipun sastra tulis berkembang pesat, tradisi lisan tidak benar-benar hilang. Hingga era 1970-an dan 1980-an, tradisi ngidung atau melantunkan kidung masih hidup di tengah masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Madura mampu menjaga kesinambungan antara tradisi lama dan modernitas. Sastra lisan dan sastra tulis berjalan berdampingan sebagai bagian dari identitas budaya mereka.
Perjalanan panjang sastra Madura membuktikan bahwa sastra bukan sekadar karya seni bahasa, melainkan cermin ketahanan budaya masyarakatnya. Dari tradisi lisan sederhana hingga karya sastra modern, sastra Madura terus hidup sebagai ruang untuk menjaga ingatan, menyampaikan nilai, dan memperkuat identitas masyarakat Madura di tengah perubahan zaman.(*)


