Sastra Lisan Madura: Napas Budaya yang Tetap Hidup
Kehidupan sastra di Madura tumbuh kuat dalam tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun. Dari pantun, syi'ir, hingga dongeng rakyat, sastra Madura bukan sekadar hiburan, melainkan media penyampai nilai moral, etika, dan spiritualitas yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Kehidupan sastra di Pulau Madura sangat kaya dan berkembang di berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pelosok desa hingga lingkungan pondok pesantren. Di tengah karakter kehidupan yang keras akibat kondisi alam dan budaya kerja masyarakatnya, sastra hadir sebagai ruang yang menyejukkan jiwa. Karena itu, sastra di Madura sering dianggap sebagai “oase kemanusiaan di tengah panasnya kehidupan”, yakni sumber nilai-nilai kebaikan yang menjaga keseimbangan hidup masyarakat.
Tradisi sastra lisan menjadi bagian paling penting dalam kehidupan budaya Madura. Sastra tidak hanya hidup di panggung kesenian, tetapi juga menyatu dalam percakapan sehari-hari, kegiatan sosial, hingga ritual keagamaan. Melalui sastra lisan, masyarakat Madura mewariskan ajaran hidup, etika, dan kearifan lokal dari generasi ke generasi.
Berikut beberapa bentuk sastra lisan Madura yang masih dikenal dan diwariskan hingga sekarang:
1. Pantun
Pantun merupakan salah satu bentuk sastra lisan yang paling populer di Madura. Tradisi berpantun masih hidup terutama di daerah pedesaan. Pantun digunakan untuk menyampaikan nasihat, sindiran, ungkapan cinta, maupun hiburan dalam pergaulan sehari-hari. Budaya tutur yang kuat membuat pantun diwariskan secara alami dari generasi ke generasi.
2. Peribahasa atau Bhangsalan
Bhangsalan adalah ungkapan kias atau peribahasa yang digunakan masyarakat Madura dalam komunikasi sehari-hari. Penggunaan bhangsalan dianggap lebih sopan dan menghormati lawan bicara. Biasanya, peribahasa dipakai untuk menyampaikan nasihat atau sindiran secara halus.
Contoh bhangsalan:
“Ngèrèng èyatorè, ta’ langkong pasaèyaghi sanaos nyè’-konyè’ ghunong, samo-nemmona.”
Artinya:
“Silakan menikmati hidangan meski hanya seadanya.”
3. Dungngeng (Dongeng)
Dungngeng adalah cerita rakyat yang mengandung pesan moral, nilai kepahlawanan, dan harapan hidup. Dongeng sering diceritakan dalam pengajian, perkumpulan masyarakat, maupun di lingkungan keluarga.
Beberapa dungngeng terkenal di Madura antara lain:
- Kisah Pangeran Trunojoyo
- Legenda Potre Koneng
- Asal-usul karapan sapi
- Sakera
- Ke’ Lesap
- Angling Darma Ambya Madura
Dongeng-dongeng tersebut menjadi media pendidikan karakter sekaligus penjaga ingatan kolektif masyarakat Madura.
4. Syi'ir
Syi'ir merupakan puisi tradisional Madura yang terdiri atas empat baris dalam setiap bait dengan pola rima A-A-A-A. Tiap baris biasanya memiliki sepuluh ketukan kata atau suku bunyi.
Isi syi'ir sangat beragam, meliputi:
- Kisah para nabi
- Ajaran agama
- Pendidikan dan akhlak
- Kisah siksa kubur
- Nasihat kehidupan
Syi'ir biasa dilantunkan di pesantren, majelis taklim, pengajian, dan acara walimatul ursy atau pernikahan.
5. Lok-Alok
Lok-alok adalah bentuk sastra lisan yang berkembang dalam tradisi karapan sapi. Biasanya berupa ungkapan atau seruan yang disampaikan untuk membangkitkan semangat dalam perlombaan. Kehadiran lok-alok menunjukkan eratnya hubungan sastra dengan tradisi lokal masyarakat Madura.
6. Puisi Mainan Anak-Anak
Puisi permainan anak-anak berupa rangkaian kata sederhana yang menonjolkan unsur bunyi dan irama. Bentuk sastra ini digunakan dalam permainan tradisional anak-anak dan mendorong berkembangnya daya imajinasi serta kreativitas bahasa sejak usia dini.
7. Puisi Ritual
Puisi ritual digunakan sebagai bagian dari tradisi spiritual masyarakat Madura, terutama dalam upacara tolak bala atau penolak bencana. Bentuk sastra ini banyak ditemukan di desa-desa terpencil dan wilayah pesisir. Puisi ritual memperlihatkan bahwa sastra Madura tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki dimensi spiritual dan religius yang kuat.
8. Saloka
Saloka adalah ungkapan bijak yang sarat makna filosofis. Biasanya digunakan dalam nasihat atau pidato adat.
Contoh saloka:
“Namen cabbhi molong cabbhi: jhubâ’na oréng gumantong dâri lakona dhibi’.”
Artinya:
“Menanam cabai akan memanen cabai; baik buruknya seseorang bergantung pada perbuatannya sendiri.”
Saloka menjadi pedoman hidup masyarakat Madura dalam menjalani kehidupan sosial.
9. Tembhang atau Macapat
Tembhang merupakan bentuk sastra yang mendapat pengaruh kuat dari kesusastraan Jawa. Di Madura, tembhang juga dikenal dengan istilah macapat. Bentuk sastra ini biasanya berisi hikayat, kisah lama, petuah hidup, dan ajaran moral.
Dalam tradisi Madura dikenal beberapa jenis tembhang, antara lain:
- Tembhang Macapat
- Tembhang Tengnga’an
- Tembhang Raja ·
Macapat sendiri memiliki banyak jenis lagu dan pola irama yang digunakan dalam pelantunan sastra tradisional.
Beragam bentuk sastra lisan tersebut menunjukkan bahwa sastra Madura bukan sekadar karya seni bahasa, melainkan jantung budaya masyarakatnya. Sastra hidup dalam percakapan sehari-hari, ritual keagamaan, hiburan rakyat, hingga pendidikan moral. Melalui sastra lisan, masyarakat Madura menjaga identitas, mewariskan nilai-nilai kehidupan, dan mempertahankan kearifan lokal di tengah perubahan zaman.(*)


