Long-Nolongè: Warisan Gotong Royong Masyarakat Madura di Tengah Tantangan Zaman


Tradisi long-nolongè merupakan budaya gotong royong masyarakat Madura yang sarat nilai persaudaraan, kepedulian, dan kebersamaan. Di tengah arus modernisasi dan budaya individualistis, tradisi ini tetap menjadi perekat sosial yang memperkuat hubungan antartetangga dan keluarga. Namun, long-nolongè kini juga menghadapi tantangan berupa budaya pamer dan persaingan sosial yang perlahan mengikis makna ketulusan di dalamnya.

Oleh: Tika Suhartatik
(Pegiat Rumah Literasi Sumenep dan Dosen Universitas PGRI Sumenep)

Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, masyarakat Madura masih memiliki warisan budaya yang sangat berharga, yaitu long-nolongè. Tradisi saling membantu ini bukan sekadar kegiatan sosial biasa, melainkan cerminan kuatnya rasa persaudaraan, kepedulian, dan kebersamaan dalam kehidupan masyarakat. Long-nolongè telah lama menjadi bagian penting dalam budaya Madura, terutama ketika ada tetangga atau keluarga yang memiliki hajat seperti pernikahan, selamatan, maupun saat ada warga yang meninggal dunia.

Dalam tradisi ini, ibu-ibu biasanya datang membantu sejak pagi. Ada yang mengupas bawang, menyiapkan bumbu dapur, memasak, mencuci peralatan, hingga membantu menata hidangan. Tidak jarang pula mereka meminjamkan peralatan rumah tangga yang dibutuhkan seperti panci besar, kursi, tikar, atau perlengkapan dapur lainnya. Sementara itu, kaum bapak membantu mendirikan tèrop, mengangkat lencak (lincak), memindahkan perkakas, atau mengatur kebutuhan teknis lainnya. Semua dilakukan dengan sukarela tanpa berharap imbalan.

Keindahan long-nolongè terletak pada rasa kebersamaan yang tumbuh secara alami. Beban tuan rumah menjadi lebih ringan karena pekerjaan besar dikerjakan bersama-sama. Bahkan keluarga dekat, sanak famili, hingga tetangga akan datang berbondong-bondong membantu. Kadang tanpa diminta, mereka membawa sumbangan sederhana seperti beras, gula, telur, kopi, atau sekadar uang semampunya. Nilai yang terpenting bukan pada besar kecilnya bantuan, tetapi pada ketulusan untuk hadir dan ikut meringankan beban sesama.

Tradisi ini juga memiliki kekuatan sosial yang luar biasa. Tidak sedikit hubungan keluarga atau tetangga yang semula renggang kembali mencair karena dipertemukan dalam kegiatan long-nolongè. Orang yang sebelumnya jarang bertegur sapa akhirnya kembali berbicara saat duduk bersama membantu memasak atau bekerja bersama mendirikan tèrop. Kehangatan perlahan tumbuh kembali melalui percakapan-percakapan sederhana. Dalam suasana seperti itu, tor-catoran pun muncul. Orang-orang berbincang tentang kehidupan, keluarga, pekerjaan, hingga kabar tetangga lainnya.

Dari sinilah hubungan sosial masyarakat Madura menjadi kuat. Tetangga yang sebelumnya tidak saling mengenal menjadi akrab. Orang yang lama tidak bertemu bisa kembali mengetahui kabar satu sama lain. Anak-anak juga belajar tentang arti kebersamaan dan gotong royong dari apa yang mereka lihat setiap hari. Mereka belajar bahwa hidup tidak bisa dijalani sendiri dan bahwa membantu sesama adalah bagian dari nilai kemanusiaan.

Namun, di tengah perubahan zaman, tradisi long-nolongè mulai menghadapi tantangan baru. Nilai silaturahmi dan ketulusan yang dahulu menjadi inti kegiatan ini perlahan terkikis oleh budaya pamer dan persaingan sosial. Tidak sedikit orang yang datang membantu justru lebih sibuk memperlihatkan perhiasan, pakaian mahal, atau besarnya bantuan yang dibawa. Bahkan terkadang muncul rasa gengsi dan perlombaan sosial yang tidak sehat. Bantuan yang seharusnya lahir dari ketulusan berubah menjadi simbol status sosial dan pencitraan.

Keadaan ini tentu sangat disayangkan. Sebab jika dibiarkan, long-nolongè akan kehilangan makna utamanya sebagai ruang persaudaraan dan gotong royong. Orang yang ekonominya terbatas bisa merasa minder untuk hadir membantu karena takut dibanding-bandingkan. Padahal sejak dahulu, budaya Madura mengajarkan bahwa bantuan sekecil apa pun tetap memiliki nilai mulia selama dilakukan dengan hati yang tulus.

Oleh karena itu, kebiasaan long-nolongè perlu dikembalikan pada tujuan awalnya, yaitu mempererat silaturahmi dan membantu sesama dengan ikhlas. Solusinya sebenarnya sederhana, tetapi membutuhkan kesadaran bersama. Pertama, masyarakat perlu kembali menanamkan bahwa nilai bantuan tidak diukur dari jumlah atau kemewahannya, melainkan dari kehadiran dan kepedulian seseorang. Dalam budaya long-nolongè, yang paling utama sebenarnya adalah kebersamaan dan ketulusan hati untuk membantu sesama, bukan siapa yang paling banyak memberi atau paling mewah penampilannya.

Kedua, tokoh masyarakat dan keluarga perlu memberi contoh untuk hidup lebih sederhana dalam kegiatan sosial agar tidak memunculkan budaya saling pamer yang justru merusak makna silaturahmi. Solusi ini juga dapat diperkuat melalui kesepakatan bersama di tingkat RT atau RW. Tokoh masyarakat, ketua RT, tokoh agama, maupun sesepuh kampung perlu memberikan imbauan dan ketegasan kepada warga agar kegiatan long-nolongè tetap dijaga sebagai budaya kebersamaan, bukan ajang persaingan sosial. Misalnya dengan mengajak masyarakat untuk hadir secara sederhana, tidak berlebihan dalam berpakaian atau menunjukkan kemewahan, serta menanamkan bahwa bantuan sekecil apa pun tetap bernilai mulia.

Dengan adanya kesadaran dan aturan sosial yang disepakati bersama, suasana long-nolongè akan kembali lebih hangat, bermakna, dan nyaman bagi semua kalangan, tanpa ada rasa malu, gengsi, ataupun tekanan sosial bagi warga yang memiliki keterbatasan ekonomi.

Selain itu, generasi muda juga perlu dilibatkan secara aktif agar mereka merasa memiliki budaya ini. Anak muda zaman sekarang akan lebih tertarik membantu jika diberi ruang untuk berkontribusi sesuai kemampuan mereka. Misalnya membantu dokumentasi acara, mengatur konsumsi, membersihkan lokasi, atau membantu komunikasi dan koordinasi melalui media sosial. Dengan begitu, mereka tidak merasa bahwa long-nolongè adalah tradisi kuno, tetapi justru menjadi ruang kebersamaan yang hangat dan menyenangkan.

Hal yang paling penting, budaya long-nolongè harus terus dijaga sebagai warisan sosial masyarakat Madura. Sebab di tengah dunia yang semakin sibuk dan individualistis, tradisi seperti inilah yang membuat hubungan antarmanusia tetap hidup. Keharmonisan bertetangga, rasa peduli, dan semangat saling membantu adalah kekayaan budaya yang tidak bisa dibeli dengan materi apa pun.

Zharonkgie, 24 Mei 2026

Pada akhirnya, long-nolongè mengajarkan satu hal penting: bahwa manusia akan selalu membutuhkan manusia lainnya. Dan mungkin, di tengah kehidupan modern yang penuh persaingan ini, nilai gotong royong sederhana itulah yang justru paling dirindukan oleh masyarakat hari ini.

Tulisan terkait

Utama 2982224517916833052

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


Contoh Gambar Contoh Gambar Contoh Gambar Contoh Gambar Contoh Gambar

Jadwal Sholat

item