Topeng Gulur: Ritual Syukur Masyarakat Madura yang Menyatu dengan Bumi
Topeng Gulur merupakan salah satu warisan budaya ritual masyarakat Madura yang tumbuh dan berkembang di Desa Larangan Berma, Kecamatan Batuputih, Sumenep. Berbeda dengan seni pertunjukan topeng lainnya, Topeng Gulur hadir sebagai simbol rasa syukur masyarakat agraris kepada Sang Pencipta melalui gerak ritual yang menyatu dengan tanah dan alam kehidupan mereka.
Syaf Anton Wr
Sebagai salah satu kekayaan budaya Madura, Topeng Gulur memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dengan Topeng Dalang Madura yang dapat dipentaskan dalam berbagai peristiwa dan dinikmati secara terbuka oleh masyarakat, Topeng Gulur justru hidup sebagai bagian dari ritual sakral masyarakat setempat. Kesenian ini diyakini sebagai bentuk persembahan kepada Sang Pencipta melalui penyatuan diri manusia dengan bumi sebagai sumber kehidupan.
Topeng Gulur tumbuh dan berakar kuat di Desa Larangan Berma, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, Madura. Kesenian ini hidup di tengah masyarakat sebagai tradisi turun-temurun yang hingga kini masih dipertahankan. Namun demikian, tidak banyak masyarakat Madura sendiri yang mengenalnya secara mendalam. Hal itu karena Topeng Gulur tidak dipentaskan di arena hiburan sebagaimana Topeng Dalang atau seni pertunjukan tradisional lainnya. Ia hadir dalam ruang ritual yang terbatas dan hanya digelar pada waktu-waktu tertentu yang dianggap sakral oleh masyarakat pendukungnya.
Bagi masyarakat Desa Larangan Berma, Topeng Gulur bukan sekadar hiburan, melainkan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan hasil pertanian. Ritual ini biasanya digelar setelah musim hujan usai dan masyarakat menikmati hasil bumi yang melimpah. Rasa syukur tersebut kemudian diwujudkan melalui simbol-simbol artistik berupa gerak tari, musik, kostum, serta berbagai perlengkapan ritual lainnya.
Menariknya, jika sebagian ritual tradisional di Madura kerap dilakukan pada musim kemarau dengan harapan memohon turunnya hujan, maka Topeng Gulur justru dilaksanakan setelah panen berhasil diperoleh. Ritual ini menjadi penanda kebahagiaan masyarakat agraris atas kesuburan tanah yang telah memberikan kehidupan bagi mereka.
Dalam prosesi Topeng Gulur, terdapat tiga orang pelaku utama yang mengenakan tatopong atau topeng dengan karakter keras bernuansa merah. Mereka memakai ikat kepala kain merah, rambut hitam panjang dari rajutan benang, rompi hitam berhias manik-manik, kalung bunga yang menjuntai hingga perut, sabuk, serta gungseng di kaki yang menimbulkan bunyi ritmis ketika bergerak.
Berbeda dengan Topeng Dalang yang memainkan kisah-kisah pewayangan seperti Mahabharata, Topeng Gulur lebih menonjolkan simbolisasi melalui gerak tubuh. Tarian yang dimainkan bersifat ritmis dan dinamis dengan berbagai komposisi gerak seperti berdiri, duduk, jongkok, hingga gerakan khas berupa gulur, yakni menggulingkan atau menggulurkan tubuh di atas tanah.
Gerakan bergulur inilah yang menjadi ciri utama Topeng Gulur. Gerak tersebut mengandung makna filosofis tentang kedekatan manusia dengan Sang Khalik melalui bumi. Tanah dipahami sebagai sumber kehidupan, tempat manusia berpijak, tumbuh, bekerja, dan memperoleh kebutuhan hidup. Dari bumi manusia mendapatkan makanan, air, dan segala penopang kehidupannya. Karena itu, gerakan menyentuh dan menggulung di tanah menjadi simbol penghormatan terhadap alam sekaligus bentuk spiritualitas masyarakat agraris Madura.
Pergelaran ritual Topeng Gulur biasanya berlangsung di halaman rumah masyarakat. Dalam budaya Madura, halaman rumah luas yang dikenal sebagai taneyan lanjeng menjadi simbol kuatnya nilai kekeluargaan dan kekerabatan. Ruang terbuka ini sering digunakan untuk berbagai kegiatan bersama, termasuk ritual adat yang melibatkan banyak warga.
Ketika ritual Topeng Gulur digelar, masyarakat akan datang berbondong-bondong menuju arena pertunjukan. Mereka membawa berbagai hasil pertanian seperti jagung, ketela pohon, kacang-kacangan, padi, dan hasil bumi lainnya. Semua hasil tani tersebut kemudian disusun berjajar membentuk lingkaran di sekitar arena ritual.
Di antara susunan hasil tani itu dipancangkan sejumlah colok atau obor yang nantinya menyala mengelilingi arena pertunjukan. Obor-obor tersebut menjadi simbol penerangan dan petunjuk dari Yang Maha Kuasa agar kehidupan dan hasil pertanian masyarakat senantiasa memperoleh berkah. Sementara aneka hasil bumi yang disusun melingkar menjadi lambang rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan alam kepada mereka.
Selama ritual berlangsung, gerak tari Topeng Gulur diiringi bunyi-bunyian khas berupa tetabuhan musik saroren. Meski menggunakan perangkat yang hampir sama dengan musik saronen Madura, irama dalam Topeng Gulur memiliki nuansa tersendiri yang lebih sakral dan ritmis. Selain suara alat tiup, bunyi kecrek menjadi penanda penting dalam mengatur gerakan kaki, tangan, dan kepala para penari sehingga seluruh tarian terasa hidup dan penuh energi spiritual.
Namun, seiring perkembangan zaman, keberadaan Topeng Gulur mulai mengalami perubahan. Generasi muda yang tumbuh di tengah arus modernisasi tampaknya tidak lagi sepenuhnya memahami makna filosofis dan spiritual dari ritual ini. Akibatnya, beberapa unsur mulai mengalami penyederhanaan, terutama pada kostum dan perlengkapan ritual yang dahulu sangat dijaga keasliannya.
Meski demikian, Topeng Gulur tetap menjadi salah satu identitas budaya penting masyarakat Madura. Kesenian ini bukan hanya merekam hubungan manusia dengan alam, tetapi juga memperlihatkan bagaimana masyarakat tradisional membangun spiritualitas melalui seni dan kebersamaan.
Di tengah kehidupan modern yang semakin pragmatis, keberadaan Topeng Gulur sesungguhnya menjadi pengingat bahwa manusia tidak pernah bisa dipisahkan dari bumi tempat ia hidup. Tradisi ini mengajarkan tentang rasa syukur, penghormatan terhadap alam, serta pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, lingkungan, dan Sang Pencipta.


