M. Tabrani: Sang Penggagas Bahasa Indonesia yang Lama Terlupakan
![]() |
| M. Tabrani (kiri) dianugerahi gelar Pahlawan Nasional |
Perjalanan perjuangan M. Tabrani dalam dunia pers dan pergerakan nasional, termasuk keberaniannya memperjuangkan istilah “Bahasa Indonesia” di tengah perdebatan Kongres Pemuda. Dari ruang redaksi surat kabar hingga akhirnya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, Tabrani meninggalkan warisan besar bagi bangsa.
Sejarah sering kali hanya mengingat nama-nama besar yang berada di garis depan pidato politik. Padahal, ada tokoh-tokoh yang bekerja dalam senyap, tetapi pengaruhnya sangat menentukan arah bangsa. Mohammad Tabrani Soerjowitjirto adalah salah satunya.
Namanya mungkin tidak sepopuler tokoh-tokoh pergerakan lain, tetapi gagasannya hidup dalam keseharian seluruh rakyat Indonesia. Sebab dari pikirannyalah lahir keberanian untuk menyebut bahasa persatuan bangsa ini sebagai “Bahasa Indonesia”.
Peristiwa penting itu terjadi dalam Kongres Pemuda I tahun 1926 di Batavia. Saat itu para pemuda dari berbagai organisasi daerah mulai mencari titik temu bagi persatuan nasional. Namun persoalan identitas bangsa belum benar-benar selesai. Bahkan soal bahasa pun masih menjadi perdebatan.
Mohammad Yamin ketika itu mengusulkan penggunaan istilah “Bahasa Melayu” sebagai bahasa persatuan. Secara historis usulan itu masuk akal, sebab Melayu memang sudah lama digunakan sebagai bahasa pergaulan di Nusantara.
Namun Tabrani memiliki pandangan yang berbeda dan jauh lebih visioner.
Baginya, perjuangan bangsa Indonesia tidak boleh berhenti pada identitas lama yang bersifat etnis atau kedaerahan. Jika tanah air yang diperjuangkan bernama Indonesia, jika bangsa yang dicita-citakan adalah Bangsa Indonesia, maka bahasa persatuannya pun harus disebut Bahasa Indonesia.
Gagasan itu terdengar sederhana hari ini, tetapi pada masa itu merupakan lompatan pemikiran yang besar. Tabrani sedang membangun identitas baru bagi bangsa yang belum lahir sepenuhnya. Ia memahami bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan simbol kebangsaan.
Pemikiran itulah yang kemudian menjadi fondasi penting lahirnya Sumpah Pemuda tahun 1928.
Namun perjuangan Tabrani tidak berhenti di forum kongres. Ia terus bergerak melalui dunia pers. Baginya, surat kabar adalah ruang pendidikan politik rakyat. Melalui tulisan, opini, dan berita, kesadaran kebangsaan ditanamkan sedikit demi sedikit kepada masyarakat.
Ia memimpin majalah Reveu Politik pada 1930 hingga 1932. Lewat media itu, ia membawa gagasan Partai Rakyat Indonesia (PRI) yang juga didirikannya. Tabrani percaya bahwa kemerdekaan harus diperjuangkan dengan keberanian berpikir dan keberanian bersikap.
Setelah itu ia memimpin surat kabar Sekolah Kita di Pamekasan. Namun namanya paling melekat dengan Harian Pemandangan. Di surat kabar inilah peran Tabrani sebagai wartawan pejuang terlihat sangat kuat.
Sebagai pemimpin redaksi Pemandangan, ia memperjuangkan Petisi Sutardjo tahun 1936 yang menuntut pemerintah Hindia Belanda memberi kesempatan kepada Indonesia untuk membentuk parlemen sendiri. Sikap itu tentu tidak disukai pemerintah kolonial. Tetapi Tabrani tidak pernah menjadikan tekanan kekuasaan sebagai alasan untuk diam.
Ia percaya bahwa pers harus berdiri bersama kepentingan rakyat dan masa depan bangsa.
Ketika memasuki masa pendudukan dan perubahan politik yang cepat, Tabrani tetap aktif di dunia jurnalistik. Ia sempat bergabung dengan Dinas Penerangan Pemerintah bagian jurnalistik dan dokumentasi. Ia juga dipercaya menjadi Ketua Umum Persatuan Djurnalis Indonesia (PERDI) periode 1939–1940.
Sesudah Indonesia merdeka, perjuangannya belum selesai. Ia ikut mengelola Suluh Indonesia, surat kabar milik Partai Nasional Indonesia. Selain itu, bersama Mr. Wilopo, ia mendirikan Institut Jurnalistik dan Pengetahuan Umum di Jakarta. Dari lembaga itu lahir banyak wartawan dan pemikir muda yang kemudian meneruskan perjuangan pers Indonesia.
Tabrani bukan hanya wartawan, tetapi juga guru bagi generasi jurnalis berikutnya. Ia menanamkan bahwa pers bukan sekadar profesi, melainkan pengabdian terhadap bangsa.
Namun seperti banyak tokoh lain yang bekerja dalam sunyi, jasa Tabrani sempat lama terlupakan. Namanya tidak banyak disebut dalam pelajaran sejarah. Padahal setiap rakyat Indonesia menggunakan istilah “Bahasa Indonesia”, di situ ada jejak pemikirannya.
Pada 12 Januari 1984, Tabrani wafat di Jakarta dalam usia 80 tahun. Ia dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Kepergiannya mungkin tidak disertai kemegahan besar, tetapi warisan gagasannya telah hidup di seluruh penjuru negeri.
Akhirnya, setelah puluhan tahun berlalu, negara memberikan penghormatan yang layak. Pada 10 November 2023, Presiden Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada M. Tabrani.
Pengakuan itu bukan sekadar penghargaan kepada seorang tokoh. Ia adalah pengingat bahwa Indonesia dibangun bukan hanya oleh mereka yang mengangkat senjata, tetapi juga oleh mereka yang memperjuangkan identitas bangsa melalui kata-kata dan gagasan.
Dan di antara kata-kata paling penting yang diwariskan Tabrani kepada bangsa ini adalah dua kata sederhana: Bahasa Indonesia.
(Redaksi)



